Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Aksara Bertutur

Aksara merupakan pelita tutur bagi siapa saja yang mau atau memandanginya tanpa terkecuali. Sadar maupun tidak, banyak hal yang kita dapatkan dari pelita tutur tersebut, aksara sebagai sumbernya. Bagi seseorang yang menyukai membaca apapun itu jenis macam bukunya seperti novel, karya ilmiah, pengetahuan umum, agama, cerita receh dan sebagainya. Disitu susunan aksara yang terangkai menjadi suatu deretan kalimat, didalamnya pasti memberikan gambaran atau pengetahuan baru untuk si pembacanya. Hal yang mudah dan barangkali setiap kita pernah membacanya di masa sekolah dulu tentang cerita-cerita sejarah perjalanan bangsa negeri ini, bagaimana ketika awal berdiri dan seterusnya, hingga sampai di masa kita sekarang. Melalui aksara tersebut yang menuturkan akhirnya menjadi tahu bagaimana ceritanya.

Seperti peristiwa Bandung lautan api, perang di Jogja dan yang lain-lainnya lagi. Tentu bagi generasi lahir setelah peristiwa tersebut tak mungkin mengalaminya apalagi merasakannya dan yang lahirnya di atas tahun-tahun tersebut, pasti jauh ada di belakang. Tetapi dapat mengetahui hal itu dari buku-buku sejarah, yang dimana didalamnya kalimat aksara mengatakan kepada kita sebagai pembacanya. Dan sehingga menjadi tahu pada saat itu seperti apa kondisi serta suasananya. Jika semua itu tak dituturkan dalam bentuk aksara, tak mungkin kita dapat mengetahuinya. Dan usia manusia ada batasannya orang-orang yang mengalaminya di saat itu, akan datang memenuhi panggilan Sang Pencipta Kehidupan. Namun itu semua oleh para Cerdik Pandai, telah diceritakan dalam aksara, sehingga bagi generasi penerus tetap mengetahui perjalanan cerita bangsanya dan menumbuhkan rasa nasionalismenya.

Aksara kan tetap bertutur kepada siapa saja yang memandanginya dan tak mengenal batas ruang maupun masanya. Kalau dulu ia menceritakan A, lalu di masa berikutnya tetap A. Walau ada perubahan didalamnya tetap harus dijelaskan apa sebabnya ada penggantian, namun apabila tak disertakan penjelasan maka jejak aksara tersebut dapat ditelusuri. Dan dari situ akan diketemukan sebab-musababnya apa. Aksara jika disimpan di dalam lemari dari selesai pena menggoreskan, lalu di taruh didalamnya hingga puluh-puluh tahun lamanya. Setelah dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian lalu dikeluarkan kembali, dia tetap akan menceritakan ketika sesaat sebelum dimasukan di dalam lemari. Walau telah sekian lamanya tersimpan di dalam ruangan gelap tersebut.

Memang aksara tak dapat bercerita mengeluarkan suara sperti manusia, yang bisa didengarkan oleh telinga entah dalam bentuk rekaman maupun secara langsung. Aksara hanya dapat di baca, dari beberapa kumpulan pemikiran yang lantas menjadi susunan kalimat baris. Tetapi semangat yang berapi-api, kesedihan atau semacamnya dari penulis itu sendiri, tetap masih dapat dirasakan bagaimana warna jiwanya tatkala menggoreskan pena. Bak gelombang lagu, yang menggambarkan kesedihan, kegembiraan, lagi berputus cinta atau menceritakan alam sekitar dan lainnya. Jadi siapapun yang mendengarkan tembang tersebut mendapatkan gambaran bagaimana si pengarang, suasana hatinya pada detik itu, sehingga terkadang ada seseorang terbawa oleh energi dalam bait-baitnya. Dan tak jarang, ada beberapa orang yang mendengarkan tembang menjadi bertambah semangatnya, dikarenakan menceritakan tentang suatu perjuangan dalam meraih buah impian.

Selain di tulis dapat juga dengan cara dituturkan secara lisan apapun itu sejarah, ajaran, pengetahuan dan lain-lainnya. Namun manusia, tak dapat luput dari lupa walau hanya sedikit atau bahkan banyak. Apabila rasa lupa telah datang lalu menempel di dalam fikiran siapa saja tua maupun muda, maka sesuatu hal terkecil bisa tak ingat. Rasa lupa tersebut dapat hinggap kepada siapa saja yang di maunya dan waktunya juga tak ditentukan harus pagi, siang, sore ataupun malam. Rasa lupa tersebut dapat terjadi pada saat berbicara atau rapat dan aktifitas yang lainnya. Sehingga di dalam kondisi apapun dapat terjadi dan tak bisa untuk dihindari, walau telah di antisipasi serta seluruh daya konsentrasi diperas-peras. Jika telah kejadian seperti itu, maka ada beberapa bagian yang tercecer entah penting ataupun tidak, pasti terlewatkan hingga tak di ucapkan. Lalu, biasanya setelah meninggalkan kegiatan itu hal yang lupa tadi, baru kembali lagi teringat.

Lupa, memang tak memandang tempat ataupun waktu, dapat hadir setiap saat yang di maunya. Lupa, memang tak menyenangkan apabila sedang mengerjakan sesuatu bisa dua kali kerja, dikarenakan ada bagian yang terlupakan. Misalnya contoh terkecil, kalau kita lagi pergi entah ketempat saudara atau teman, lalu pulang dan sesampainya di rumah kunci pintu ketinggalan kebetulan tak ada cadangannya, maka yang terjadi adalah kembali lagi untuk mengambil benda tersebut. Hal-hal terkecil seperti itu dapat ditemui atau mungkin kita sendiri pernah mengalaminya, hingga harus dua kali kerja yang seharusnya tak perlu terjadi. Tetapi lupa, telah menjadi bagian dari diri manusia yang tak dapat dilepaskan maupun dihindari. Walau setiap kita pasti berusaha untuk mengingat-ngingat apapun itu namanya, agar tak perlu dua kali kerja lagi. Sehingga waktu yang ada dapat digunakan untuk hal lainnya. Karena daya tampung memori manusia ada batasnya, walau tak dapat diketahui atau dipastikan berapa giga kapasitasnya. Meskipun dengan kemajuan zaman suara juga dapat di rekam dan dikemudian hari bisa di putar kembali. Tetapi kapasitas memori menyimpannya masih memperlukan ruang yang cukup besar untuk saat ini.

Meski seperti itu aksara teks, tetap kan bertutur sepanjang masa dan selama zaman ini masih ada. Walau eranya telah digitalisasi, namun aksara bertutur tetap harus mengikuti zamannya jangan melawan apa yang sedang berkembang. Jika zaman dahulu, aksara digoreskan di atas lempengan batu, daun rontal, lalu muncul eranya kertas. Dan sekarang telah memasuki dunia era online. Tetapi kegiatan bertutur melalui aksara, tetap sama saja seperti dulu-dulu, hanya sarana dan tempatnya yang berubah. Lantaran zaman telah berkembang semakin bertambah maju saja, jadi semangat bagi kita semua untuk bertutur melalui aksara harus lebih dipergiat lagi. Agar kilauan literasi semakin berkilauan dan bukan lagi tinta emas. Tetapi akun, bab, judul yang emas. Karena sesuai dengan eranya itu tadi. Perkembangan zaman memang tak dapat di cegah apalagi dihentikan. Tetapi pokok-pokok dasar tetap tak berubah seperti pentingnya menulis. Mau di atas lempengan batu, di atas daun rontal dan sebagainya. Menulis tetaplah menulis. Bertutur melalui aksara entah apapun itu namanya tetap sama seperti zaman dahulu, ketika orang-orang telah mengenal kegiatan menulis. Dan hingga saat ini berada di alam serba online digitalisasi. Dan untuk melakukan kegiatan menulis telah mudah dengan teknologi yang ada di sekitar kita.