Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Biarkan Ide Mengalir

Kesulitan ide?

Pertanyaan di atas kerapkali muncul dan menghantui kebanyakan orang, jika mau memulai menulis apalagi untuk pemula. Dulu penulis sendiri juga mengalami hal yang serupa dan bahkan sekarangpun, terkadang merasa kehabisan ide. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi penulis, untuk bagaimana caranya menggalih ide. Apabila sedang sepi ide tidak ada yang mau mampir. Namun setiap penulis mempunyai jurusnya masing-masing, untuk bagaimana supaya ide mau singgah dan dapat di tuangkan di atas kertas. Memang tidak mudah merayu ide agar mau datang. Walau seperti itu bukan lantas menutup buku dan tidak di buka-buka lagi. Kalau pengalaman penulis sendiri yaitu, tidur sejenak atau mendengarkan wayang kulit. Tetapi tidak sampai selesai sebatas mendengar, suara gamelan saja. Jika ada waktu luang baru mendengarkan yang seutuhnya. Itu pengalaman dari diri penulis sendiri. Jika telah mendengar suara gamelan ide langsung bermunculan seperti tawon, yang keluar dari sarangnya. Tetapi ada juga yang makan, untuk memancing agar mendapatkan ide yang diinginkannya. Karena setiap orang berbeda-beda mempunyai gayanya sendiri-sendiri sesuai apa yang disukainya, walau itu satu tim sekalipun. Bahwa tidak dapat dipungkiri yang namanya manusia bisa sepi dari suatu ikan ide gagasan. Walau telah ahli dalam bidangnya. Tetapi lagi-lagi kemampuan manusia ada batasnya dan hal itu tidak dapat dipaksakan. Seperti kita mau menulis, namun tiba-tiba hilang entah kemana ide itu sendiri padahal tinggal dituangkan di atas jaring kertas. Atau sudah merenung sejak tadi dan tempatnya sepi sekali, dalam hati berharap agar segera mendapatkan ide gagasan menulis. Tetapi luput dari pengharapan tersebut. Penulis sendiri juga pernah mengalami hal seperti itu. Yang tadi di atas penulis katakan, bahwa untuk memanggil ide menulis salah satu caranya adalah mendengarkan wayang kulit. Tapi pernah di suatu hari penulis sudah mendengarkan wayang kulit dan juga sampai pertunjukannya selesai, namun tidak kunjung datang ide penulisan tersebut. Akhirnya tidur dan dari situ ide bermunculan.

Segera Tuangkan Ide!!

Untuk mengawali suatu tulisan apapun itu katagorinya harus ditetapkan terlebih dahulu tujuannya. Seperti kita mau pergi kesuatu tempat harus tahu kemana arahnya dan naik apa, lalu ongkos yang diperlukan berapa. Sehingga tidak usah bingung-bingung apalagi sampai membatalkan niat. Apa yang ada di dalam fikiran tuangkan saja dulu di atas lembaran kertas. Soal masih acak-acakan seperti ceker ayam tulisannya, jangan dihiraukan komentar orang yang demikian itu. Apalagi bagi dirimu yang baru mau memulai menggoretkan. Tetaplah goreskan pena, walau orang yang ada disekeliling ataupun banyak celaan ditujukan ketulisanmu. Anggap saja itu sebagai vitamin agar tulisanmu biar bertambah bagus lagi dan secara tidak langsung orang tersebut menjadi gurumu. Karena setiap orang mempunyai cara pandangnya dan memiliki mitodenya tersendiri, hingga tidak dapat disamakan oleh yang lainnya. Yang perlu di ingat adalah, jangan takut untuk menuangkan gagasan dan tidak perlu ditahan-tahan langsung saja dikeluarkan. Jika telah ada di dalam fikiranmu tidak perlu menunggu apapun. Jangan dibiarkan apa yang telah ada di dalam fikiran berlalu terbang bersama angin. Tetapi tetaplah terus belajar jangan sampai berhenti disitu saja. Semakin memperluas cendela bacaan maka akan memperkaya khazanah goresan aksara, dari orang lain. Dengan begitu dapat belajar dari orang-orang yang sudah hebat mumpuni dalam bidangnya. Dan jangan pernah malu untuk belajar maupun bertanya kepada orang yang memang telah lama berkecimpung di dunia itu, yakni tentang penulisan. Karena belajar tidak memandang waktu, tempat ataupun usia dan latar belakang pendidikannya apa. Seperti diri penulis sendiri bukan lahir dari kawah candra dimuka sastra. Tetapi dari tempat padepokan lain. Barangkali ada juga beberapa teman lainnya yang sama persis seperti diri penulis. Dimana pekerjaan menulis sudah tidak dapat lagi dijauhkan walau hanya sesaat saja, menjadi kebutuhan sehari-hari seperti orang makan. Jika telat makan maka perut terus menyanyi-nyanyi tidak bisa diam dan apabila terlambat mengisinya, asam lambung akan naik. Menulis tidak jauh bedanya seperti itu, jika ada ide atau sesuatu hal yang merambati perasaan tentu harus segera dikeluarkan melalui sebuah tulisan dan lahirlah barisan untaian kata.

Pena Menari-nari

Setelah dua hal di atas sebagai garis starting, untuk mengawali sebuah tulisan bagi para pemula. Tentu telah mempunyai suatu gambaran mau menulis apa, yang sudah bersarang dalam awang-awang. Kini saatnya untuk mewujudkan dalam bentuk rangkaian kata. Yang sudah dikatakan di atas jangan sampai terbawa terbang oleh angin, karena manusia tidak punya sayap jadi mustahil untuk membawanya kembali. Untuk itu misalnya hanya baru ada satu kata atau satu kalimat saja, langsung dituliskan jangan nunggu nanti-nanti dulu. Walau baru beberapa kata tapi jika telaten. Setiap ada kata lagi yang menyusul di hari berikutnya bisa ditambahkan dan lama-lama akan menjadi banyak juga. Karena jika rasa malas telah menggerayangi fikiran, akan hilang dan musnah satu kata ataupun kalimat tadi. Kalau sudah musnah di telan rasa malas, akan sulit untuk di panggil kembali. Disadari atau tidak oleh penulis lainnya yang baru akan memulai menggerakan sebuah pena. Tetapi kalau pengalaman penulis sendiri merasakan apabila ada ide, namun tidak terus dituliskan dibiarkan menghendap dikarenakan malas dan sebagainya. Lalu keesokan harinya mau memulai menulis lagi tapi rasanya sudah berbeda seperti yang kemarin geregetnya tidak sama. Atau hal itu hanya penulis sendiri yang merasakannya dikarenakan masih tahap pemula. Memang menulis itu gampang-gampang susah. Gampang bagi yang telah terbiasa dan memang suka dengan dunia menulis, walaupun hanya menggoreskan cerita pribadinya. Tetapi sudah bagus sekali dan menjadi langkah awal, untuk menulis yang lebih dari itu. Segala sesuatunya di kehidupan ini memang harus di awali dengan hal terkecil. Karena tidak ada sesuatu secara tiba-tiba menjadi besar sendiri, pasti ada proses yang panjang. Kalau kita pernah tahu ada penulis yang menuliskan sebuah cerita berbab-bab, bahkan sampai puluhan hingga ratusan. Itu semua di awali dengan hal paling kecil dulunya, sehingga semakin lama berkembang menjadi seperti yang kita ketahui, dikarenakan sudah terbiasa. Seperti Tresno jalaran, kepetuk sabendino.