Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kilauan Aksara

Menulis sesungguhnya bukan merupakan yang baru dalam kehidupan manusia di zaman sekarang ini tetapi telah ada di masa lampau. Hanya medianya untuk penulisannya berbeda, jika zaman sekarang bukan di atas kertas saja tapi bisa menggunakan perkembangan teknologi yang canggih. Hal tersebut dapat diketahui dari beberapa jejak pemikiran yang ditinggalkan di atas batu, daun lontar dan kertas di masa itu ataupun media tulis lainnya. Yang sering digunakan pada zamannya sebagai media wadah, untuk menampung air pemikiran mengalir melalui ujung pena. Dimana mereka dengan penuh kesabaran serta ketekunan menuangkan satu per satu dari dalam pemikirannya, di atas media tulis yang berlaku ditempatnya saat itu. Sehingga karya seni tulis, dapat kita ketemukan yang menggambarkan atau menuturkan pada waktu itu seperti apa. Jadi tidak heran jika bahasanyapun berbeda dengan kita sekarang. Dan selain itu kamus online juga belum ada, tidak seperti sekarang.

Karena usia tulisan tidak ada batasnya, walau tahun telah berganti dan abatpun akan dilewati. Dan meskipun terpendam di dalam tanah ribuan atau jutaan jam lamanya tetapi tetap sinar terangnya, berkilauan menerangi ruang fikiran setiap orang yang memandangnya. Kita bisa melihat hal tersebut melalui buku-buku yang telah lama usianya lebih dari seabat. Sebagai contoh buku Pararaton. Karena penulis gemar membaca buku sejarah salah satunya yaitu Pararaton. Secara singkat isi dari buku tersebut menceritakan tentang keruntuhan kerajaan Singasari dan berdirinya kerajaan Majapahit, bagaimana awal mula prosesnya, sehingga menjadi sebuah negara besar terkenal sampai kemanca nagari. Contoh lain adalah Candi Borobudur. Diperkirakan berdiri sejak abat kedelapan dan pada saat itu kerajaannya ialah Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Hal tersebut dapat diketahui dari beberapa jejak catatan yang dituliskan oleh orang-orang hebat, di masa itu. Lalu diteliti oleh para ilmuan di zaman sekarang, hingga kita dapat mengetahuinya bahwa Candi tersebut usianya telah lama lebih dari seribu tahun. Sebagai contoh terakhir ialah, Mataram Islam atau Mataram Baru. Kerajaan tersebut apabila dilihat dari nama depannya mirip seperti Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Tetapi sebenarnya berbeda dan hanya sama nama depannya saja. Jika membaca isi sejarahnya sudah pasti beda. Kerajaan Mataram Islam ataupun Mataram Baru, memang tidak lagi dapat kita ketemukan secara utuh kemegahan seperti apa yang ada di dalam cerita-cerita. Namun nuansanya mungkin masih bisa dirasakan di empat keraton yang ada sekarang seperti Keraton Kasunanan, berletak di Surakarta Solo. Lalu, Kasultanan Yogya Karta, yang berada di Daerah istimewa Yogya Karta atau orang sering menyebut Jogja. Selanjutnya, Mangku Negaran, lokasinya di Solo. Dan terakhir Pakuwalaman, berada di Jogja. Karena iklim politik pada saat itu sedang kurang bagus sehingga Mataram Islam atau Mataram Baru, menjadi terpecah-pecah seperti yang kita ketahui.

Sesungguhnya apa yang telah kita ketahui di masa silam semua itu bersumberkan dari sebuah tulisan, yang seterusnya disebar luaskan dengan cara diceritakan kepada orang lain atau karya seni aksara tersebut dibagi-bagikan dan sebagainya. Pada akhirnya tetap bertahan dan sampai juga di masa abat dua puluhan ini. Namun demikian gambaran yang ada di dalam rangkaian kata tersebut tidak lantas pudar maupun luntur seperti pakaian. Warnanya tetap tampak jelas dan garis-garis motifnya juga masih dapat difahami. Lantaran orang yang menyusunnya juga berhati-hati dalam menautkan benang ide gagasannya. Jadi meskipun telah berubah masanya tetapi tetap masih indah untuk di pandang. Dan yang paling terpenting adalah tata letaknya tidak dirubah, sehingga tidak membuat orang kebingungan. Untuk menulusurinya bagi orang yang masih penasaran maupun ingin tahu lebih dalam lagi. Karena setiap orang terkadang mengetahui sebaris tulisan tapi hal itu bisa mengundang rasa penasarannya, hingga timbul untuk mendalaminya lagi sejauh apa. Karena itu merupakan hak setiap individu untuk menyelaminya lagi, dari sebaris yang dia baca. Seperti beningnya permukaan air pantai atau laut. Bagi orang yang menyukai aktifitas menyelam, apabila melihat air jernih dan dari atas terlihat dibawah ada pemandangan indah. Maka dia langsung timbul keinginannya untuk kebawah sana agar lebih jelas lagi, tidak hanya melihat dari atas saja. Meskipun begitu jika mau menyelam kedasar pantai atau laut, agar dapat melihat secara langsung pemandangan yang indah tadi, tentu memperlukan ekstra tenaga lebih, disebabkan arus dibawah berbeda seperti permukaan di atas. Tetapi karena itu alam, jadi kondisi lokasinya tidak berubah-rubah seperti garis benang pakaian. Namun persamaannya ada di kehati-hatian. Apabila mau menulusuri suatu sumber aksara. Karena terkadang satu sumber cerita tetapi banyak sekali orang yang menuliskannya dan dari berbagai macam sudut pandangnya, dimana dia sedang berdiri disitulah arah penglihatannya ditujukan.

Kilauan aksara memang terbukti menjadi penerang ilmu pengetahuan bagi siapa saja, yang mau datang kepadanya tanpa terkecuali darimana asalnya. Walau sarana media untuk menulis telah berkembang sesuai mengikuti zamannya dan mempermudahkan dalam melakukan penulisan. Sehingga tidak ada lagi kesulitan maupun bersusah payah. Beda dengan beberapa puluh tahun belakangan. Yang dimana komputer atau laptop belum begitu banyak seperti sekarang dan seandainya ada harganya juga setinggi langit, tidak semua orang dapat membelinya. Namun sekarang sudah dapat di beli dibeberapa toko, tinggal memilih harganya dan tentu disesuaikan dengan kebutuhannya. Tetapi apabila hanya untuk menulis saja yang standarpun sudah cukup. Apalagi kecanggihan smart phone di zaman kini, juga sudah bisa untuk mengetik membuat sebuah tulisan. Jadi tinggal di pilih mana yang lebih nyaman bagi sahabat-sahabat semua. Dan jika merasa mengetik di smart phone kesulitan disebabkan layarnya yang kecil, walau ada juga berukuran besar atau jumbo. Tapi kalau masih juga merasa kurang nyaman, bisa menggunakan keyboard eksternal dan harganya juga ada yang ramah tamah dengan kantong, tinggal memilih mencari sesuai selera hati. Terpenting semua itu dapat menjadi sarana semakin memudahkan ataupun kegiatan mengetik, tidak mandek bagi yang baru memulai. Lalu untuk yang sehariannya memang menggoreskan aksara, semoga karyanya bagaikan sumber mata air tidak ada keringnya tetap terus bermunculan.