Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mengatur Waktu

Waktu merupakan sesuatu hal yang sangat penting sekali walau wujudnya tidak terlihat oleh mata dan di rabapun juga tidak terasa. Namun kalau kita bermain bersenang-senang didalamnya tidak ingat apa yang menjadi tugas, keperluan atau kebutuhan dan lain-lainnya. Maka kita akan merugi, disebabkan tidak dapat membatasinya. Tetapi sebaliknya, apabila kita dapat mengatur waktu dengan baik tahu batasan kapan harus berjalan dan saat apa berhentinya. Kesuksesan maupun keberhasilan, paling tidak mendekati keduanya. Jadi tidak semuanya diberlakukan yang sama. Seperti lampu merah, kapan harus menyala warna hijau atau kuning. Itu telah ada aturannya tersendiri yang sekian detik atau menit harus menyala lampu ini maupun lampu itu. Sehingga para pengguna jalan raya yang melintas di perempatan, agar selamat dan sampai di tujuan. Dapat dibayangkan jika lampu menyala warna merah terus dari pagi sampai sore, apa yang akan terjadi? Atau sebaliknya kalau yang menyala warna kuning terus akan bagaimana? Terakhir kalau lampu hijau menyala sepanjang hari tentu dapat digambarkan keadaan saat itu. Keramaian dan keruwetan yang dapat tergambarkan dalam benak setiap orang, tentu bagi pengguna jalan raya sudah pasti tahu apa dampaknya. Jadi tidak bisa semaunya harus mana yang menyala lebih lama atau sebaliknya lampu lain hanya sebentar. Semua itu harus seimbang dan memberikan kesempatan yang sama terhadap pengguna jalan. Misalnya lampu merah menyala, berarti pengguna jalan lainnya harus berhenti dan pengendara disebelah lain berjalan. Dan tanda lampu yang lainnya juga demikian kuning maupun hijau. Walau yang melintas pada saat itu hanya sedikit jumlah kendaraannya tidak seperti biasanya. Tapi hal itu bukan menjadi suatu alasan, untuk menyala lampu yang lain bisa lebih lama lagi.

Bagi seorang pengusaha waktu merupakan keuntungan. Jika dibiarkan berlalu begitu saja atau didiamkan tanpa melakukan apapun, maka kerugian yang akan mendatangi. Karena waktu adalah uang, walau hanya satu detik saja. Bergeraknya waktu bersamaan dengan berjalannya suatu bisnis. Memang semboyan itu benar sekali, dikarenakan penulis sendiri pernah mempunyai usaha kecil-kecilan jadi ada sedikit pengalaman pribadi. Ketika sudah janjian dengan orang untuk membeli barang yang penulis jual dan orang tersebut setuju dengan harganya, lalu setelah sepakat bertemu tapi karena waktu itu penulis, menganggap rumah pembeli jauh dan pasti datangnya akan sore, jadi karena dari itu penulis santai-santai saja dan singkat cerita. Mendekati jamnya penulis berangkat ketempat tujuan, ternyata di tengah jalan macet parah, itu diluar dugaan penulis, sehingga penulis datangnya yang telat dan pembeli membatalkan pesanannya. Dari hal tersebut, memang waktu adalah kunci dari kesuksesan maupun keberhasilan. Tentu untuk melakukan atau membiasakan hal terkecil seperti itu harus dibiasakan dan selalu ditingkatkan. Karena dari situ penulis banyak belajar, jadi sekarang ini kalau misalnya mau bertemu dengan orang pasti datang lebih dahulu dan lebih baik penulis, yang menunggu dari pada ditunggu atau telat. Jangan bermain-main dengan waktu, walau itu hanya sedetik atau semenit apalagi berjam-jam.

Jika seorang pelajar waktu dapat diumpamakan tempat terminal. Dimana bus yang mau mengantarkannya ketempat kota tujuannya, dia harus bangun pagi-pagi sekali agar dapat kendaraan yang lebih awal keberangkatannya. Dan selain itu matahari juga belum begitu panas. Dengan menaiki kendaraan yang berangkatnya lebih awal, tentu sampai ditujuannya bisa tepat waktu. Tetapi jika kita mengulur-ngulur waktu ketika keluar rumah menuju keterminal, maka akan mendapatkan bus yang berangkatnya belakangan dan sampai di tempat tujuan bisa terlambat. Jika anak sekolah dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar atau membaca buku pelajaran, sesuai materi yang sedang dipelajarinya. Ketika ujian nanti tidak begitu pusing, hanya keluar asap saja dari sela-sela rambutnya. Tetapi apabila jam belajarnya kurang atau hanya sekedarnya saja, tentu waktu ujian datang hasilnya juga seperti apa yang diusahakan.

Jadi waktu merupakan sesuatu hal sangat penting sekali apapun itu yang menjadi pekerjaannya. Bukan hanya dua contoh di atas saja. Tetapi bisa lebih dari itu. Soalnya waktu juga dapat diibaratkan seperti air yang di dalam akuarium dan disitu ada seekor ikan. Kalau ikan itu dikeluarkan dari dalam akuarium atau airnya yang di kuras. Sudah barang tentu binatang berenang itu, akan bisa dibayangkan apa jadinya, penulis tidak tega untuk menggambarkannya. Demikian juga dengan manusia, jika tidak memanfaatkan waktu yang sebaik-baiknya dalam hidup ini akan rugi jadinya dikemudian hari. Dan penyesalan akan berdatangan susul-menyusul. Segera bangunkan niat dan langkahkan kaki walau hanya selangkah saja tapi harus diiringi dengan semangat, yang membara. Tanpa adanya dua kekuatan tersebut sebagai pendorong langkah niscaya tidak akan bergerak. Memang penyesalan sebagai cambuk yang cepat menyadarkan tidur seseorang. Tetapi penyesalan sering kali datang terlambat atau berada di belakang, setelah jauh kita meninggalkan masa-masa sempat dan dimana energi masih power full pada saat itu. Jadi jangan disia-siakan waktu yang masih lapang itu manfaatkanlah selagi bisa melakukan sesuatu, sebelum terlambat dan berlalu dari hadapanmu begitu saja. Jika ia telah pergi maka tidak mungkin untuk di panggil kembali dan sulit mengulanginya lagi. Yang ada hanya melakukan sisa-sisa waktu di ujung jalan. Dan langkah kakipun juga tidak seperti dulu lagi bisa cepat dikarenakan energi masih terisi penuh.

Meskipun mudah untuk di ucapkan tapi memang tidak seperti apa yang dibayangkan. Sekilas terlihat mengatur waktu sesuatu hal yang sepele tapi rumit dan perlu kesungguhan kemantapan hati. Namun kalau tidak dimulai dari hal yang terkecil dulu tentu akan susah untuk melangkah lebih lebar lagi. Yang telah dikatakan di atas apabila waktu berlalu dari hadapanmu, tidak mungkin untuk kembali lagi. Seperti pepatah lama mengatakan; Kesempatan emas tidak datang yang kedua kalinya. Bahwa artinya kita telah menyia-nyiakan waktu begitu saja tanpa ada isi atau makna didalamnya. Kalau sudah seperti itu yang ada hanya andaikalau, misalnya, jikalau dan sebagainya. Karena waktu sudah tidak mungkin lagi untuk datang kembali kehadapan kita. Walau kesempatan itu datang lagi tapi tenaga kita untuk melaksanakan hal tersebut sudah tidak seperti dulu manakala masih perkasa bagaikan Raden Berata Sena. Energi manusia seperti lajunya kendaraan, ketika akan sampai di tempat tujuan kecepatannya pelan-pelan mulai berkurang, tidak sebagaimana waktu berangkat atau di tengah-tengah perjalanan. Yang masih terisi penuh bahan bakarnya sehingga salip-salipan dengan kendaraan lainpun tidak jadi masalah dan disamping itu mesin, juga dalam kondisi prima. Dari itu mumpung masih banyaknya waktu, jangan dibiarkan berlalu begitu saja disetiap detiknya isi dengan hal-hal yang bermanfaat untuk hari di ujung jalan. Mau bagaimanapun kita tetap harus sadar bahwa akan berkurang daya laju lari disebabkan energi usia tidak seperti dahulu lagi. Selain itu waktu senja juga akan kita masuki, setelah pagi dan siang dilalui.