Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menulis Itu Seni

Di artikel sebelumnya bahwa menulis itu adalah bagian dari seni atau kesenian. Karena menulis itu dinamis dan mempunyai gaya sendiri-sendiri setiap orang. Seperti halnya pelaku seni memiliki coraknya tersendiri. Misalnya sebagai contoh pagelaran wayang kulit. Antara gaya Solo dan gaya Jogja, sudah berbeda tidak dapat disamakan. Contoh yang kentara yakni; keprak. Jika Solo, bunyinya dreng dreng dreng. Tetapi apabila Jogja Karta, bunyinya tik tik tik. Untuk lebih jelasnya bisa didengarkan gaya dari keduanya. Karena itu yang penulis dengar sejak kecil, hingga dewasa saat ini. Barangkali pendengaran penulis bisa salah. Tetapi dari dua gaya itu tidak dapat disamakan. Dan keduanya sama-sama bagus. Jadi tergantung si dalang lebih menyukai gaya yang mana ketika berpentas menggelar cerita lakon. Yang terpenting seni tradisi wayang kulit tetap lestari hingga kapanpun. Selain itu tidak kalah pentingnya adalah generasi selanjutnya. Karena jangan sampai punah atau hanya tinggal cerita di atas kertas saja. Dikarenakan dalang yang telah sepuh tentu harus pensiun dan digantikan oleh anak-anak muda sebagai memegang cempurit selanjutnya. Agar pegelaran wayang kulit tetap ada selalu. Wayang kulit merupakan pertunjukan seni hiburan yang paling disenangi wong cilik, termasuk penulis sendiri walau usianya tergolong masih muda. Tetapi dari kecil memang sudah jatuh hati, dengan tontonan semalam suntuk itu.

Pagelaran wayang kulit bagi penulis mau model gaya gagrak manapun semuanya sama saja, tidak ada yang lebih unggul ataupun tidak ada yang lebih luar biasa. Karena pagelaran wayang kulit merupakan identitas budaya bangsa kita sendiri. Sang dalang walaupun setiap malam pentas. Namun seperti ceritanya selalu ada terus dan berganti-ganti bukan itu-itu saja. Disebabkan naskah yang ada selalu dibaca semuanya, tidak merasa lelah untuk melakukan itu. Menandakan banyaknya naskah yang di tulis oleh para pujangga di zaman dahulu, kala terkait dengan cerita Maha Barata maupun Ramayana. Lakon atau cerita adalah inti dari pagelaran pentas wayang itu sendiri. Bukan hanya sabetannya ketika perang. Sabetan atau menggerakkan olah wayang memang penting sekali. Dan dalam menggerakkan wayang juga bukan hanya sebatas perang-perang saja. Tapi juga harus hafal gending-gending dan penjiwaan setiap tokoh yang sedang berdialog misalnya sedih, marah, kecewa atau sebagainya harus dapat meresapi sang dalang. Memang kalau di lihat dari kejauhan mudah dan gampang tapi diluar itu semua.

Seperti menulis goreskan seluruh apa yang ada dalam fikiran, jangan menulis ketika marah ataupun lagi senang di status. Goreskan apa yang ada dalam fikiran walaupun hanya sebaris-sebaris. Nanti lama-lama akan menjadi deretan baris yang panjang. Memang untuk sebagian orang menulis itu sesuatu pekerjaan yang dianggap sebelah mata. Tetapi sebenarnya menulis itu adalah pekerjaan yang menyenangkan. Dikarenakan dapat mengekspresikan apa yang ada dalam fikiran dan menautkan cerita dijadikan satu. Mudah-mudahan di tulisan berikutnya penulis akan berbicara tentang menggali alam fikiran, jadi ditunggu saja dan jangan lupa di subscribe. Biar update tidak ketinggalan.

Bahwa yang kita ketahui di zaman sekarang ini banyak sekali jenis-jenis bentuk tulisan. Seperti Copy Writer dan Content Writer serta semacamnya. Jika zaman dulu yang penulis ketahui contohnya Novel, Cerpen, Puisi dan lain-lainnya. Memang zaman terus berkembang mengikuti masanya. Dan tulisan tersebut juga ada tempatnya masing-masing sesuai dengan kebutuhannya. Tapi yang mau penulis katakan. Bisa dimulai yang disukai terlebih dahulu. Yang terpenting jangan ragu untuk merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat. Soal jelek ataupun tidak bagus, jangan dijadikan bayangan yang menyeramkan, sehingga menghentikan langkah fikiran. Jika sudah seperti itu keindahan seni menulis akan didapatkan dengan seiringnya waktu yang terus berjalan. Apabila hal itu telah dilakukan jangan lupa untuk pamer. Karena seorang seniman harus pamer apa yang dimiliki, tentu karyanya sendiri. Tapi pamer dalam hal yang positif. Kalau tidak seperti itu mana mungkin dapat diketahui oleh orang banyak. Tujuan menulis melahirkan suatu ide gagasan agar biar diketahui halayak ramai.

Penulis itu juga seorang seniman. Yakni seniman menulis. Panggungnya adalah lembaran kertas yang telah menjadi buku atau di upload di media online. Kalau zaman sekarang bisa kertas atau aplikasi yang ada di internet. Lalu karyanya yang dapat ditampilkan dimuka publik adalah tulisan-tulisan. Yang telah dijadikan satu menjadi sebuah rangkaian cerita, hasil dari serpihan perenungan di alam awang-awang.

Yang perlu diingat adalah; Usia manusia ada batasnya. Tetapi tulisan maupun karya akan tetap abadi selamanya. Meskipun telah tiada lagi di dunia ini tapi apabila kita pernah atau sering menulis melahirkan suatu karya meskipun tidak begitu bagus. Maka bekas tarian jari-jari kita, yang mengikuti irama fikiran akan masih dapat dilihat. Penulis jadi teringat sama gending atau tembang Jawa. Tapi kalau penulis tidak salah, disebutnya tembang dolanan. Yakni tembang Gundul-gundul pacul. Konon katanya si mbah, tembang tersebut yang membuat adalah Sunan Kalijaga. Sedangkan yang kita ketahui bersama zaman beliau, dengan masa kini jaraknya jauh sekali. Tetapi masih relevan untuk di dengarkan, menurut penulis. Sunan Kali Jaga, sebenarnya karya beliau tidak hanya di lagu Gundul-gundul Pacul saja. Melainkan ada beberapa hal yang lain contohnya seperti Beduk, merubah bentuk wayang, membuat salah satu lakon wayang dan masih banyak lagi macamnya. Jadi karya beliau sangat banyak sekali hingga sekarang masih dapat ditemui dan dinikmati khususnya dalam tembang-tembang jawa. Penulis sendiri sangat suka dengan tembang Dandang Gulo, salah satu karya beliau Sunan Kali Jaga.