Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menyelesaikan Game Aksara

Halo!

apa kabar sahabat-sahabat semua semoga dalam keadaan sehat selalu. Bagaimana apakah sudah membuat berapa baris aksara yang sahabatku rangkai di atas kertas? Atau masih digelayuti oleh rasa bingung yang tak kunjung pergi-pergi menghilang, agar ide gagasan bisa segera datang. Start writer, memang tak seperti membalikan telapak tangan yang sembari tiduran saja sudah bisa, atau dalam kondisi makanpun juga mudah untuk dilakukan. Apalagi bagi orang yang tak pernah menulis atau sangat jarang sekali menyusun kata supaya menjadi satu-kesatuan dalam kalimat. Untuk mengawalinya sangat amat berat bagaikan orang yang tak pernah mendaki gunung, lalu secara langsung begitu saja mau naik keatas tanpa ada pemanasan lari-lari kecil terlebih dahulu. Tentu baru sampai di pos bawah sudah tak tahan. Hanya kuatnya semangat yang mendorongnya hingga sampai atas serta turun lagi untuk kembali pulang bertemu dengan keluarga dan sanak kerabat andaitolan.

Jika mau mengawali sesuatu apapun itu namanya harus didasari niat yang kuat. Apabila pondasi niat tersebut telah kuat maka mau didirikan beberapa lantai tak ada masalah, sebab penyangganya kokoh sesuai dengan harapan. Namun sebaliknya, kalau dasar pondasinya itu sudah tak kuat maka jauh dari angan-angan. Karna niat merupakan awal dari sebelum melangkah lebih jauh lagi untuk mencapai suatu tujuan apapun itu namanya. Tetapi jika niat telah kuat ada beberapa hal perlu diperhatikan adalah, jangan pernah menghalalkan segala cara untuk berdirinya bangunan yang dinginkannya, sehingga bahan matrialnya milik orang lain lalu diambil ketika sipemilik lengah disebabkan tak cukup modal untuk membuat bangunan tersebut. Dari itu buatlah sebuah bangunan dengan kemampuan sendiri meskipun hanya gubuk kecil saja. Apabila tenaga telah ada barulah membuat bangunan yang besar dan megah sesuai dengan kemampuannya.

Membuat sebuah tulisan anggap saja seperti orang yang sedang bermain game. Setiap sesinya berarti menyelesaikan satu bab. Dengan begitu sahabat-sahabat semua dapat terpacu untuk segera menyelesaikan, agar tak berhenti di tengah jalan ceritanya. Seperti kalau lagi bermain game, pasti ada tantangan ditengah-tengah permainan, untuk mencapai finish. Belum lagi kalau game perang-perangan, dari awal mempersiapkan senjata yang akan digunakan untuk menyerang lawan, agar nanti dapat memenangkan permainan atau sebaliknya harus out dengan membawa kekalahan serta di iringi kesedihan. Setiap game, mempunyai tingkatan kesulitannya masing-masing untuk sampai di akhir permainan. Sehingga para pemain terdorong untuk memikirkan strategi apa yang akan ditrapkan, agar dapat keluar memenangkan permainan.

Demikian dengan menulis tak jauh berbeda seperti orang bermain game. Dari judul besar yakni buku maupun novel dan yang lainnya. Kita sebagai penulis harus menyelesaikan bagian-bagian yang ada didalamnya yaitu setiap bab, part, chapter atau apapun itu namanya. Jika satu per satu disusun dan kita selesaikan maka jadilah sebuah bangunan karya seni menulis. Karna di dalam setiap bagian tersebut kita harus menyelesaikan suatu cerita apabila itu fiksi. Sehingga dari serpihan-serpihan tersebut dapat menjadi cerita yang utuh dan dinikmati oleh orang banyak. Terkadang untuk membuat satu judul besar saja dan menyelesaikan bagian-bagian yang ada didalamnya rasanya berat sekali, hal tersebut penulis sering rasakan. Tetapi yang menjadi pegangan penulis atau penyemangat agar segera selesai adalah. Kalau tak penulis sendiri menyelesaikan lantas siapa lagi yang akan merampungkan. Soalnya seperti orang yang mau membangun rumah dan bahan-bahan bangunan telah tersedia, tergantung tukang cepat atau tidaknya.

Game menulis, memang suatu permainan sangat menyenangkan dikarenakan mengurai apa yang ada di dalam fikiran menjadi bentuk kata-kata untuk segera diceritakan. Apalagi kalau ide sedang hadir bagaikan berpacu dengan waktu. Tetapi kalau dewi vortuna belum berpihak ketika mau dituliskan tiba-tiba suasana di sekitar berubah ramain, hingga konsentrasi menjadi buyar. Kadangkala suasana yang demikian itu tak dapat diduga. Jadi rasa kesalpun seperti permainan game yang tak dapat berjalan dengan lancar disebabkan sinyal apabila online atau spesipikasi perangkat kurang memadai. Karna yang pernah penulis katakan di tulisan sebelumnya, bahwa ide atau inspirasi itu tak bisa diminta ataupun diajak janjian jam sekian harus datang. Inspirasi bisa datang kapan saja dan waktunya bebas sesukanya tanpa ada yang mengetahui.

Jadi permainan menulis dalam mengolah kata memperlukan curahan konsentrasi yang tak dapat diganggu. Agar setiap bagian yang ada didalamnya dapat segera selesai sesuai apa yang diharapkan si penulis maupun bersama-sama jika itu kerja satu tim. Rasa puas dan bercampur senang menjadi satu, jika kita dapat menyelesaikan suatu tulisan serta di baca oleh banyak orang dimanapun berada. Namun, hal itu dapat dicapai hanya dengan kesungguhan hati serta terdorong niat yang kuat dan ditemani semangat. Tanpa adanya point-point tersebut niscaya, permainan game menyusun kata-kata tak mungkin terselesaikan. Karna hanya itu kenikmatan sebagai seorang penulis yang tak dapat digambarkan oleh indahnya kata. Tentu disamping royalti, karna sebagian orang ada yang full time dalam menulis jadi hari-harinya hanya berteman pena dan lembaran kertas sebagai tempat menampung seluruh tetesan-tetesan air pemikirannya.

Jadi menulis bukan saja salah satu seni menulis dari sekian banyak jenis kesenian yang ada. Tetapi didalamnya juga ada mengandung nilai permainan game. Dimana mempunyai tujuan akhir yang sama yaitu, menyelesaikan sesuai dengan harapan. Lalu, kalau di dalam dunia gaming biasa kita dengar ada istilah mabar (Main Bareng) yang dilakukan oleh beberapa orang. Tapi di dalam dunia penulisan dapat dilakukan hal yang sama yaitu lisbar (Nulis Bareng) oleh beberapa penulis.

Jadi diharapkan penulis-penulis muda saling bermunculan semakin bertambah banyak. Karna jika kita telah menyukai dengan dunia menulis maka sama saja seperti waktu bermain game itu sendiri. Setiap waktu rasanya mau main terus. Bagi pemula bisa dengan cara menulis sebaris atau dua baris. Untuk waktunya seperti menyelesaikan satu kali permainan game. Kalau hal itu rutin maka lama semakin lama akan menjadi berbaris-baris. Seperti pitutur para si mbah zaman dulu mengatakan: Alon-alon seng penting kelakon. Sesuatu hal yang baru maka untuk melakukannya memang harus secara pelan-pelan jangan terdorong oleh nafsu.