Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

cinta tak waras

Sang Bagaskara telah meranjak dari tempat tugasnya untuk pulang kerumahnya. Setelah seharian menemani orang-orang beraktifitas. Dewi malam, sebagai pasangan setianya telah menggantikan yang menemani istirahat orang-orang tersebut untuk melepaskan rasa lelahnya. Gelapnya malam datang menghampiri memeluk mereka agar segera lelap di dalam mimpi. Terlihat dari luar rumahnya Patmi, sepi sekali tak ada satu suara manusia yang terdengar. Lalu para pekerja yang tinggal disamping rumah, hanya saja posisinya ada disebelah belakang. Juga telah menutup pintunya setelah memberikan makan binatang-binatang ternaknya Patmi. Sedangkan penari tayup yang ternama itu sebagai pemiliknya, sejak siang berada di dalam kamar untuk beristirahat. Dikarenakan besok malam dia harus pentas setelah sekian bulan tak tampil.

Suara jangkrik yang sejak tadi terus berbunyi tiada henti yang membuat ramai mengisi disepinya malam. Sumber cahaya lampu yang tak terlihat walau hanya samar-samar membuat suasana semakin menggigit kesunyian. Yang pernah dikatakan bahwa sejak Patmi, mengenal dan bersekutu dengan nyi Julung Senggoro makhluk dari alam ghaib itu, rumahnya tak pernah ada cahaya lampu bila malam tiba kecuali sedang menerima tamu. Tiba-tiba hp-nya berdering waktu dilihatnya ternyata pesan whatsap. Setelah dibuka yang mengiriminya pesan adalah Ardi. Seorang pria muda yang dikenalnya beberapa bulan yang lalu. Lantas pesan itu ia baca sembari berbaring di tempat tidur. Ardi, mengabarinya bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju kerumahnya mau bertemu dengannya. Namun, Patmi tak membalas pesan itu, dia hanya mendiamkan saja. Wajahnya terlihat menyeringai seperti lagi mempersiapkan sesuatu tumpukan rencana.

Memang tak terlalu lama ada suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya Patmi. Seorang pria gemuk tak begitu tinggi keluar dari dalam mobil, lalu melangkah menuju pintu. Beberapa kali pria itu mengetuk-ngetuk pintu tapi belum juga ada yang membukanya dari dalam. Akhirnya pria itu, mengeluarkan hp-nya bermaksud akan menelpon sepemilik rumah agar dibukakan pintu. Tetapi sebelum sempat menyalakan layar telpon, pintu yang ada dihadapannya terbuka pelan-pelan dan dari dalam keluar seorang wanita. Yang tak lain adalah Patmi sepemilik rumah tersebut. Dan pria yang baru saja datang tadi adalahh Ardi. Yang lagi kasmaran kepada Patmi.

Lalu Patmi, mengajaknya masuk kedalam ruang tamu dan mempersilahkan Ardi duduk di kursi. Sedangkan Patmi, jalan kebelakang kearah dapur bermaksud membuatkan minuman untuk tamunya itu. Tetapi setelah dia selesai membuatkan minum malah dibawa kedalam kamarnya. Patmi, meletakan gelas di atas meja, yang sudah berisi minuman. Dan selanjutnya dia mengeluarkan benda dari dalam lemarinya, yang ternyata adalah pusaka Semar Mesem. Lalu, ujung dari pusaka itu dicelupkan kedalam minuman yang akan disuguhkan untuk Ardi. Setelah selesai Patmi, membawa minuman itu keluar dari kamarnya dan selanjutnya diberikan kepada Ardi.

“Ini mas, minumnya, maaf agak lama membuatnya..” Jelas Patmi sembari tersenyum genit kearah Ardi.

“Gak papa, nyantai aja..” Jawab Ardi, yang langsung meraih gelas di atas meja. Dan direguknya minuman yang dibuat Patmi tadi.

“Ngomong-ngomong ada apa ya mas kok malam-malam begini, mas Ardi datang kerumahku?” Tanya Patmi, sembari memperhatikan Ardi, yang masih mereguk minuman yang dibuatnya tadi.

“Memangnya kalau aku kesini malam-malam begini gak boleh?” Ardi menjawab pertanyaan itu dengan memandangi Patmi, dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Bukannya begitu mas, kan mas Ardi sebentar lagi mau nikah apa kata tunangan mas entar.. kalau melihat mas sering ketemu aku” Ujar Patmi. Yang memandangi Ardi, merebahkan badannya di atas kursi.

“Soal itu kamu dik Patmi tak usah khawatir, aku tetap ingin selalu ada didekatmu..” Ucap Ardi.

Patmi, lalu berdiri dari tempat duduknya mendekati pria gemuk itu yang berbaring di atas kursi. Jari-jarinya yang lembut segera bekerja memijat tubuh Ardi. Pundak Ardi, menjadi bagian yang paling pertama kali mendapatkan kesempatan disentuh jari-jari lembut itu. Pria gemuk itu, tampak menggeliat-geliat ketika jari-jari Patmi, dipindahkan posisinya kebawah pinggang. Ardi sangat menikmati setiap sentuhan pijitan dari jari-jarinya Patmi. Mereka berdua tak ada yang mengeluarkan suara. Lalu, Ardi bangun dari posisinya yang sejak tadi bebaring. Setelah itu pria yang dipijat Patmi itu, merangkulnya dan memegang tangannya. Namun diluar dugaan Ardi, ternyata Patmi menolaknya. Tangan Ardi ditepisnya. Dan Patmi, menggeser tempat duduknya sedikit menjauh di kursi sebelahnya. Ardi sendiri masih duduk ditempatnya semula tak ikut berpindah.

“Maaf mas Ardi aku tak bisa… Dan lagipula kita ini kan baru kenal.. Sedangkan mas Ardi sendiri beberapa hari lagi kan mau menikah..” Tutur Patmi, yang menatap lekat-lekat kearah matanya Ardi.

“Memangnya kenapa dik Patmi? Aku sudah terlanjur suka dengan dirimu.. Soal tunanganku biarkanlah… Apakah usiaku yang masih terlalu muda untukmu, sehingga dik Patmi menolakku?” Ucap Ardi dengan gusar.

“Bukan soal itu.. Tapi apa buktinya kalau mas Ardi benar-benar menyukaiku?” Tanya Patmi, sembari menggerataki raut wajah Ardi yang belum memberikan jawaban.

“Dik Patmi, meminta bukti apa…” Tandas Ardi.

Patmi, terdiam sesaat lamanya tak mengucapkan suatu kata apapun dari mulutnya. Dari guratan garis di wajahnya Patmi, tampak dia sedang berfikir serius dan matanya terus memandangi pria yang ada didepannya itu. Ardi, sendiri masih berada di tempat duduknya tak bergeser walau sedikit. Tetapi rasa haus yang menyergap Ardi, membuatnya melirik gelas yang juga masih di atas meja, ternyata tersisa sedikit. Lalu, dia mengambil gelas itu dan selanjutnya isinya diteguk habis sampai tak ada sama sekali. Dan setelah Ardi, meletakan gelas itu kembali diposisinya semula, Patmi seperti mau mengucapkan sesuatu. Terlihat bibirnya yang bergerak-gerak. Dan Ardi sendiri mempersiapkan diri untuk mendengarkan apa yang mau dikatakan oleh wanita sangat disukainya itu.

“Begini mas, kalau memang suka kepadaku tapi ada syaratnya, bagaimana apakah sanggup?” Tanya Patmi.

“Katakan aja, aku tak akan ikar dan akan aku penuhi…” Saut Ardi dengan wajah bersungguh-sungguh.

“Kalau memang benar mas Ardi suka kepadaku… Apa yang mas punya berikan kepadaku semuanya..” Ucap Patmi.

“maksud dik bagaimana? Katakan yang sebenarnya aku tak mengerti..” Jelas Ardi.

“Begini mas Ardi.. Seluruh tabungan, mobil dan yang mas Ardi miliki semuanya berikan kepadaku.. Bagaimana apakah sanggup?” Ujar Patmi.

“Ok kalau seperti itu dan yang dimau dik Patmi, tak jadi masalah..” Ucap Ardi, yang tanpa difikir terlebih dahulu dari ucapannya Patmi.

Ardi, segera bangkit dari tempat duduknya bermaksud akan pulang kerumahnya, untuk memenuhi apa yang dipinta oleh Patmi . Dan Patmi sendiri juga bangun dari tempat duduknya. Lalu, Ardi keluar rumah berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman. Sedangkan si pemilik rumah hanya memperhatikan dari depan pintu hingga kendaraan roda empat tersebut lenyap, tak lagi terdengar suara mesinnya. Sungging senyum kepuasan menghiasi wajahnya Patmi. Bahwa apa yang diinginkannya akan tercapai lagi. Butiran debu rasa bersalah sama sekali tak ada di wajahnya Patmi, walau hanya setitik saja. Dia lalu masuk kedalam lagi dan pintunya ditutup rapat. Seperti hatinya yang tertutup rapat oleh sinar kebenaran. Hanya rasa ketamakan yang ada didalamnya dan merajalela.

Waktu terus berputar tak ada seorangpun yang dapat menghalanginya apalagi menghentikannya walau sesaat saja. Malam terus merayap detik demi detik untuk mengantarkan orang-orang menuju pagi. Sinar matahari menyeruak disela-sela awan yang sedang berterbangan menikmati suasana dipagi hari. Terdengar lirih burung dan sahabatnya ayam saling bernyanyi saut-sautan meramaikan suasana. Agar orang-orang segera bangun dari mimpinya yang panjang jangan larut didalamnya. Dibelakang rumahnya Patmi, terlihat ada kesibukan setiap orang memegang apa yang menjadi tugasnya mengurusi binatang-binatang ternak. Ada yang membuat perapian untuk binatang ternak tersebut agar tak digigiti nyamuk, lalu disisi lain terlihat sebagian orang mempersiapkan ember besar seterusnya diisi air untuk memandikan binatang ternak itu dan semacamnya. Mereka bekerja saling bahu-membahu setelah pekerjaannya sendiri selesai tapinya.

Patmi, terlihat duduk di depan teras sembari meminum secangkir the hangat dan ditemani rebusan ketela. Dan dari dalam rumahnya terdengar suara klenengan gending-gending jawa klasik. Sesekali pandangan matanya tertuju di dahan pohon, dia melihat ada sepasang burung jantan dan betina yang hinggap bersama-sama, lalu seterusnya terbang berdua lagi. Namun, ekspresinya biasa saja tak terlintas ingin seperti sepasang burung itu. Ketika dia sedang menikmati suasana dipagi itu, notivikasi hp-nya menandakan bahwa ada pesan yang masuk. Setelah dilihat Ardi, yang mengiriminya pesan menanyakan bahwa dirinya jam berapa dapat ditemui. Lalu, Patmi membalas sehabis pentas saja. Sehabis membalas pesannya Ardi. Patmi, masuk kedalam untuk melakukan persiapan untuk pentasnya nanti malam.

Matahari telah meninggi tandanya pagi akan mendekati siang. Rasa panas yang dipancarkan menambah semangat untuk orang-orang dibawahnya. Roda waktu terus bergulir tanpa ada yang dapat menghambatnya. Dan tanpa terasa malampun telah datang kembali menyapa orang-orang agar segera istirahat dari kegiatannya. Patmi, sudah ada di tempat pentasnya dari sekian bulan dia beristirahat tak menunjukan kebolehannya menari di atas panggung, memainkan selendang merahnya yang menjadi kebanggaannya. Dan karna selendang itu namanya menjadi membumbung tinggi hingga dijuluki penari selendang merah. Memang Patmi, kalau sudah menari dan mengenakan selendang merahnya maka banyak mata yang tak mau berkegip walau sesaat saja. Karna setiap gerakannya terlihat indah dan mempesona, walau hanya biasa-biasa saja. Dan sebenarnya penari lainpun lebih bagus ketimbang dirinya.

Ardi, hadir di dalam acara tersebut dia duduk persis di depan panggung bersama penonton yang lainnya. Ardi, tak sadar bahwa sejak tadi ada sepasang mata bening memandanginya dari jarak cukup dekat di tengah-tengah kerumunan penonton lainnya, yang turut menyaksikan pentasnya Patmi. Sehingga dia tak menyadarinya kalau setiap prilakunya selalu di awasi oleh pemilik mata bening itu. Yang tak lain pemilik mata bening itu adalah seorang perempuan masih sangat muda hidungnya mancung, kulitnya putih dan rambutnya sepundak. Patmi, di atas panggung masih terus menari sambil menembangkan tembang-tembang yang menjadi permintaan sebagian penonton, hingga beberapa kali. Dan beberapa pria juga ikut menari bersama Patmi. Semakin malam acara bertambah asik saja. Tetapi sesuai kesepakatan Patmi dengan si pemilik hajat, acara selesai sampai jam satu malam saja. Karna kalau tak selesai jam satu malam Patmi tak mau mengisi acara di tempat pemilik hajat tersebut.

Semua penonton yang datang pulang kerumahnya masing-masing dikarenakan acara telah selesai. Patmi, masuk kedalam kamar yang disediakan untuk dirinya beristirahat dan berias. Dan di ruangan itu juga dirinya melepaskan semua pakaian yang untuk pentas tadi sekaligus merapihkan barang bawaannya, dimasukan kedalam tas. Sedangkan Ardi, menunggu diluar duduk bersama tamu yang belum pulang. Dan wanita yang sejak tadi mengawasinya duduknya agak jauh agar tak ketahuan tapi masih terlihat jelas dari posisinya saat itu. Tak begitu lama Patmi, keluar dari arah dalam setelah berpamitan bersama tuan rumah pemilik hajat. Ardi, yang mengetahui orang yang ditunggunya itu berjalan memasuki mobil dan berjalan menembus gelapnya malam, dia langsung mengikuti dari belakang. Dan wanita muda yang selalu mengawasi Ardi sejak tadi juga segera bergegas meninggalkan tempat duduknya, mengikuti dari arah belakang.

Angin malam yang terasa dingin membuat orang tak ingin keluar dari hangatnya selimut. Setelah berjalan beberapa menit lamanya mobil yang dinaiki Patmi berhenti. Dan kendaraan yang mengikuti dari arah belakang juga berhenti, tak lain adalah Ardi. Akhirnya pengendara dua mobil itu keluar dan saling menghampiri. Walau pada saat itu sangat gelap sekali hanya terang dari lampu mobil saja. Tetapi keduanya tak perlu saling memastikan agar lebih jelas dan tak salah orang. Lalu, keduanya mencari tempat untuk duduk agar apa yang akan dibicarakan bisa lebih enak. Dan kendaraan mereka dibiarkan ada di pinggir jalan. Setelah menemukan tempat untuk duduk dan nyaman, akhirnya mereka berdua memilih di pinggir warung yang sudah tutup. Ardi, yang mengawali membuka pembicaraan tersebut.

“Dik Patmi, aku akan membuktikan kalau memang aku serius dan apa yang kamu pinta kemarin malam, akan aku penuhi saat ini juga…” Ujar Ardi kepada Patmi.

“Apakah benar itu mas Ardi??” Tanya Patmi dengan menyipitkan matanya agar lebih jelas lagi melihat raut wajah, pria yang ada didepannya.

“Apa dik Patmi, belum juga percaya?” Tanya Ardi, yang memandangi lekat-lekat.

“Bukan begitu maksudku, tapi kalau belum ada buktinya bolehkan aku bertanya…” Jelas Patmi.

“Sekarang lihatlah apa yang ada di dalam tas ini..” Tegas Ardi, sembari membuka tasnya.

Dari dalam tasnya Ardi. Patmi melihat ada beberapa lembaran kertas dan benda lainnya yang belum pasti apa itu. Lalu Ardi, mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalam tasnya di taruh dihadapannya Patmi. Hingga isi di dalam tas bersih karna sudah dikeluarkan semuanya isinya. Dan setelah semua itu ada diluar tas maka Ardi menjelaskan satu per satu kepada Patmi. Dan orang yang dijelaskan itu hanya mendengarkan dengan cermat. Ternyata sejumlah cek yang nilainya tak sedikit, lalu surat berharga lainnya dan kotak berisi berlian. Dimana sebelumnya kotak berisi berlian itu sudah diberikan kepada calonnya Ardi, yang akan dinikahinya beberapa hari lagi. Tetapi oleh Ardi, dipinta lagi tanpa memberikan alasan kepada calon istrinya itu. Patmi, mengetahui itu semua hanya manggut-manggut saja dan di dalam hatinya tersenyum lebar gegirangan ia merasa senang.

“ini semua untuk dik Patmi…” Ujar Ardi.

“Serius mas!!!” Seruh Patmi dengan wajah berbinar-binar.

“Ia, serius… Tapi satu hal yang ku minta dari dik Patmi dan berjanjilah..” Tegas Ardi.

“Apa itu mas?” Tanya Patmi dengan wajah bersungguh-sungguh.

“Dik Patmi, berjanjilah bahwa tak akan meninggalkanku…” Ucap Ardi dengan raut wajah sangat serius.

“Soalnya dik Patmi, berlian ini sebelumnya sudah aku berikan kepada calon istriku yakni Ririn, waktu kami bertunangan…” Imbuh penjelasannya Ardi kepada Patmi.

“Mas Ardi tak perlu khawatir soal itu.. Aku akan selalu memegang janjiku..” Jelas Patmi. Yang seterusnya barang-barang yang ada didepannya itu dimasukan kedalam tasnya. Dan setelah itu tasnyapun ditutup, lalu dia mau berdiri segera pulang. Karna Ardi, juga mau secepatnya pulang.

Tetapi sebelum keduanya melangkahkan kaki tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan seorang wanita. Dan langsung menerjang kearah Ardi. Patmi maupun Ardi, kaget bukan kepalang tanpa diduga sebelumnya. Karna mereka berdua sejak tadi tak melihat orang satupun di tempat itu. Memang ketika Ardi, sedang menjelaskan satu per satu barang-barang yang dikeluarkannya dari dalam tasnya. Disaat itu seorang wanita tak lain adalah Ririn, calon istrinya Ardi, yang akan dinikahinya beberapa hari lagi. Diam-diam berjalan kearah mereka berdua, sehingga mendengarkan begitu jelas apa yang dibicarakan. Ririn, setelah mengetahui calon suaminya seperti itu, hatinya sangat hancur sekali bagaikan lampu jatuh dari atas. Selain rasa sakit dan pedihnya tak dapat digambarkan di dalam hatinya. Jadi tak heran apabila Ririn, saat itu mengamuk yang sejadi-jadinya kepada Ardi. Dan Patmi, hanya melihat saja dari tempatnya berdiri.

Sembari menangis bercampur marah Ririn terus memukuli Ardi. “Kamu kenapa tega mas!!!! Memperlakukan aku seperti ini… Dan tak hanya aku saja tapi keluargamu juga merasakan seperti aku…”

Ardi, awalnya hanya diam saja tak melakukan apapun kepada Ririn. Tetapi setelah Ririn, mengalihkan serangannya kepada Patmi. Ardi menjadi marah. Tetapi marahnya kepada Ririn dan wanita berhidung mancung itu, dipukuli oleh Ardi. Dan Patmi, tetap melihat dari tempatnya semula.

“Perempuan berengsek, kamu lebih baik pulang sana!!!!” Ucap Ardi kepada ririn.

“Berarti pernikahan kita gagal saja mas, aku tak sudi mempunyai suami sepertimu….” Ujar Ririn.

Ketika Ardi, sibuk memukuli Ririn, tibatiba-tiba dari arah belakang ada yang melempar batu kearah Ardi. Dia segera melihat kearah belakang siapa yang berani ikut campur urusannya. Ternyata berdiri beberapa laki-laki kurang lebih ada sepuluh orang. Semuanya berjalan kearah Ardi dan Ririn. Setelah jarak mereka dekat ternyata orang tuanya Ardi dan saudara-saudaranya. Lalu, keluarga dari Ririn. Sedangkan Patmi, melangkah mundur tak berani mendekat, karna dia tahu keluarganya Ardi agamanya sangat kuat sekali. Patmi, mencoba melihat suasana agar dirinya bisa diam-diam meninggalkan tempat itu.

“Ardi, Bapak dan ibumu, kecewa dengan apa yang kamu lakukan ini, ternyata kamu meminta berlian yang kamu berikan kepada Ririn sewaktu tunangan dulu tapi kamu minta lagi, hanya perlu kamu berikan kepada wanita yang tak jelas itu.” Tutur Bapaknya Ardi.

“Sudahlah pak, Ardi sudah besar dan bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.” Saut Ardi.

“Kalau begitu pernikahanmu sama Ririn, gagal..” Tegas Bapaknya Ardi.

“Tapi, ingat Ardi kamu jangan sekali-sekali menyesal dengan pilihanmu itu…” Tegas Bapaknya Ardi. Dan selanjutnya orang-orang tua itu meninggalkan Ardi sendiri saja. Karna Patmi, sejak tadi meninggalkan mereka ketika Ardi sedang berbicara dengan keluarganya. Setelah Ardi, hanya sendirian saja dia mencari-cari patmi dan mobilnya tapi sudah tak ada.

Sesampainya di rumah Patmi, segera masuk kedalam kamar dan berganti pakaian serta menaruh barang bawaannya. Sehabis itu dia membuka tasnya dan mengeluarkan isi dalamnya yang diberikan Ardi tadi. Dia susun di atas meja dan di amatinya satu per satu. Dia tertawa gelak-gelak sendirian saja melihat barang-barang itu di atas meja. Lalu, dia meraih kotak berlian dan mengeluarkan isinya selanjutnya ditimang-timangnya benda itu. Patmi, merasa senang hatinya melihat itu semua. Dari arah luar dia mendengar ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu depan. Dan dia segera merapihkan barang-barang tersebut dimasukan kembali kedalam tas. Dia segera bergegas keluar melihat siapa yang datang malam-malam, karna matahari belum muncul dan ayam juga berkokok.

Ternyata yang datang adalah Ardi, dengan nafas tersengal-sengal karna mobilnya mogok di tengah jalan. Jadi dia berlari-lari kecil kerumahnya Patmi, bermaksud mau meminta bantuan untuk menderek mobilnya yang mogok. Namun, diluar dugaannya apalagi melintas dibayangannya. Patmi, setelah melihat kedatangannya segera mengusirnya seperti orang yang tak pernah kenal. Sontak membuat Ardi, marah yang sejadi-jadinya melihat prilaku Patmi seperti itu. Semua pembendaharaan kata-kata kotor, sumpah serapah dan lainnya. Bermunculan satu per satu dari mulutnya. Seperti ketika dia menjelaskan satu per satu benda yang dibawanya di dalam tas beberapa jam lalu. Ketika Ardi, tak kuat lagi menahan amarahnya dia mengayunkan pukulan kearah mukanya Patmi tapi seperti ada yang menahannya, lalu tangannya berbalik mengenai wajahnya sendiri. Dan tanpa di duga-duga ada yang melemparkan tubuhnya kehalaman. Disamping itu badannya terasa sakit semua seperti dipukuli banyak orang dan waktu Ardi, mau bangun ternyata tak bisa dia menjerit yang sekencang-kencangnya. Patmi, melihat kejadian itu hanya tertawa saja dan dia masuk kedalam, lalu pintunya ditutup rapat-rapat.

Angin malam berdatangan seolah-olah mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang memperlukan teman untuk merasakan rasa sakitnya. Ardi, menangis bagaikan orang yang kehilangan ingatannya. Apa yang dialaminya sama sekali tak terduga apalagi terbayang. Lalu, rasa bersalahnya satu per satu mulai menggerataki relung hatinya. Apalagi baru saja orang sangat dincintainya dia lukai hatinya, sehingga pernikahan yang diidam-idamkan hancur lebur begitu saja karna kebodohannya. Ardi, berteriak-teriak yang sekuat-kuatnya. Tetapi hanya angin malam yang mendengarkan teriakannya itu dan tak begitu enak untuk didengarkan. Masih lebih merdu kicauan burung dipagi hari.