Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

dendam lama berakhir

Patmi didalam kamar tak bisa istirahat dengan tenang. Walau tuan rumah sudah menyediakan ruangan kamar senyaman mungkin untuk istirahat. Pengalaman pahit selalu menari-nari dipelupuk mata Patmi. Lalu tangisannya sendiri terdengar bagaikan tembang, yang menggambarkan kesedihan ditinggal kekasih. Dia ingin membalas apa yang telah dilakukan Marni terhadap dirinya beberapa waktu yang lalu bersama mbahnya. Dalam niatnya dia ingin meminta bantuan kepada Nyi Julung Senggoro, karena mbahnya Marni pasti tak akan tinggal diam. Oleh dari itu Patmi segera akan menghubungi junjungannya itu. Sebelumnya dia memastikan pintu kamar sudah terkunci dan semua cela tertutup rapat. Agar tak ada yang melihatnya atau mengintipnya. Apalagi sampai mengganggunya. Karena dia berfikir saat itulah waktu yang tepat untuk membalas dendamnya kepada Marni. Yang selama ini dendam itu selalu dibawanya kemana-mana walau harus manari di desa, yang cukup jauh sekalipun.

Patmi segera turun dari tempat tidur. Karena sejak tadi dia tak bisa memejamkan mata, walau jam sembilan malam masih lama waktunya pentas. Dia berjalan kepinggir tembok untuk mematikan lampu. Kamar yang tak begitu besar itu sekarang menjadi gelap gulita. Selanjutnya Patmi duduk bersila ditengah-tengah kamar, sembari matanya terpejam rapat. Sedangkan kedua tangannya diatas betisnya. Mulutnya terlihat bergerak-gerak seperti merapalkan mantera. Lalu mulutnya diam tak berkomat-kamit lagi. Selanjutnya dia mencium aroma bunga melati memenuhi ruangan kamar dimana tempat istirahatnya. Itu berarti Nyi Julung Senggoro akan segera datang sebagai tandanya. Apabila ada aroma bunga melati seperti itu. Memang benar tak lama sesosok bayangan hitam muncul didepannya Patmi. Semakin lama bayangan tersebut menjadi jelas. Seorang wanita sepuh tapi wajahnya kelimis masih terlihat muda seperti anak berusia dua puluh tahun. Tetapi kali ini nyi Julung Senggoro, tak menggunakan mahkota yang bergambarkan kepala macan atau juga tak mengenakan cunduk di kepalanya. Lalu nyi Julung segera membangunkan abdinya tersebut.

Patmi dipanggil disuruh membuka matanya. “Patmi bangunlah, aku sudah tahu apa yang kamu inginkan.”

Orang yang dipanggil namanya langsung membuka matanya, “Terima kasih Nyi, kedatangannya dan sudah mengetahui apa yang aku inginkan.”

“Coba katakan apa yang kamu inginkan biar aku bertambah jelas, aku khawatir, aku salah menduga.” Nyi Julung Senggoro meminta agar abdinya itu menjelaskan supaya, dia tak salah menduga.

Lalu Patmi mengutarakan apa yang ada dalam hatinya. “Nyi aku ingin Marni, mengalami seperti aku dulu dan aku juga minta agar mbahnya dia, singkirkan, supaya tak membalas kepadaku.”

“Kamu tenang aja Patmi, pesaingmu itu akan mengalami seperti dirimu dulu dan untuk mbahnya kamu juga jangan khawatir.” Tegas Nyi Julung Senggoro.

Nyi Julung Senggoro, lalu menghilang dari hadapan abdinya itu. Patmi seperti ada yang lega dalam hatinya, walau belum seratus persen pasti. Tetapi dia yaqin bahwa junjungannya akan berasil memenuhi apa yang dimintanya. Senyum kepuasan terlihat jelas di raut wajahnya. Tatapan matanya seperti melihat mayat orang yang sangat paling dibencinya. Dia segera berdiri dari duduknya, lalu menginjak-nginjak bayangan itu. Tapi karena memang tak ada apa-apa, hanya lantai keramik. Jadi kakinya sakit sendiri, dikarenakan dia menghantamkan kakinya kelantai begitu keras hingga berulang kali. Akhirnya Patmi berbaring diatas dipan yang memang sudah disediakan, untuk dirinya. Mengingat waktu tinggal beberapa jam lagi jadi, dia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk beristirahat. Dalam hatinya berharap pesaingnya sudah tak ada lagi nanti malam. Dan apa yang dia rasakan, Marni akan segera merasakannya.

Diluar kamar Patmi dan Marni. Tamu Bapak Putut terus berdatangan tak ada hentinya. Semakin malam bertambah banyak saja. Dikarenakan selain kondangan tapi sekalian menonton penari tayup. Tersohor sampai kemana-mana dan harga untuk mendatangkannya sangat mahal sekali bila dibandingkan dengan penari yang sudah ada di wilayah sekitar. Diantara mereka bahkan sudah ada yang menyiapkan uang untuk menyawer nanti. Jarum jam terus bergerak ke angka sepuluh malam. Artinya acara akan segera dimulai. Memang agak telat satu jam, disebabkan ada kendala teknis di sonsistemnya. Tetapi dua penari tayup yang terkanal itu sudah ada didepan panggung sejak tadi. Patmi dan Marni berdiri berjauhan. Patmi berdiri disebelah kiri panggung dan Marni sendiri ada disebelah kanan panggung. Keduanya tak ada yang saling menyapa tapi hanya saling melirik. Selendang merahnya Patmi telah siap di pundaknya. Marni sendiri juga sudah siap dengan selendang kuningnya, yang sejak tadi digenggamnya. Beberapa orang Yang sudah tak sabar ingin segera melihat dua penari cantik-cantik itu. Bahkan ada yang mengedip-ngedipkan matanya secara bergantian kepada dua penari tersebut tapi Marni maupun Patmi, hanya menanggapi biasa saja.

Suasana malam di rumahnya Bapak Putut ramai sekali. Keluarga dan para tamu yang datang duduk dengan santai, menunggu gamelan di tabuh. Dari luar tenda terlihat seorang anak muda berjalan ke arah panggung, lalu membisiki salah satu penabuh sebagai pimpinan para niaga. Ternyata memberitahu bahwa kendala teknis di sonsistem sudah selesai. Memang benar ketika dicoba semua mikropon, nyala ada suaranya. Ketua grup gamelan memberikan aba-aba untuk segera dimulai. Setelah memberikan isyarat semua kru penabuh sesuai dengan pegangannya masing-masing tak lama suara gamelan, terdengar bertalu-talu. Tembang Serampat, sebagai pembukanya terdengar dibawakan oleh Marni, senyumnya bagaikan rembulan menyapa seluruh hadirin yang menyaksikan.

Dua orang penari tayup itu Patmi dan Marni memposisikan dirinya ditengah panggung. Seketika semua orang yang hadir mengarahkan pandangannya kedua orang wanita tersebut tanpa terkecuali pria, wanita dan sampai mbah-mbah tak berkedip. Ada mbah-mbah sepertinya sudah sepuh jika melihat dari wajahnya sekitar, tujuh puluh tahun. Si Mbah tersebut maju kedepan mendatangi Patmi dan Marni, untuk memesan sebuah tembang. Ternyata benar sehabis si mbah tersebut duduk, Patmi mengumumkan bahwa dia akan menembangkan tembang Kijing Miring. Benar saja waktu tembang pesanannya dimainkan si mbah terlihat manggut-manggut, mengikuti irama gendang. Dan setelah tembang Kijing Miring selesai dibawakan Patmi, si mbah tersenyum lebar ke arah dirinya.

Patmi telah menembangkan enam tembang. Dari mulai permintaan sampai tembang, yang dia pilih sendiri. Tariannya lemah gemulai membuat mata tak ingin dialihkan pandangannya, walau hanya sesaat. Tetapi itu hanya berlaku untuk para pria saja, termasuk mbah-mbah. Bagi Ibu-ibu atau wanita lainnya, tariannya Patmi biasa saja tak ada istimewanya. Karena Patmi telah menembangkan dan menari enam tembang berturut-turut, jadi dia merasa lelah. Dia melirik ke arah Marni, yang maksudnya bergantian. Dan orang yang dilirik hanya diam saja tanpa memberikan respon apapun. Karena Marni, baru membawakan satu tembang untuk pembukaan tadi, lalu berikutnya gilirannya dia.

Patmi melangkah mundur pelan-pelan turun dari panggung, untuk duduk beristirahat sejenak. Setelah Patmi duduk di kursi yang disediakan oleh panitia. Marni bangun dari tempat duduknya. Karena ketika Patmi ditengah panggung dirinya yang duduk. Seharusnya keduanya menari bersama seperti pada umumnya. Tetapi karena tak ada kecocokan di antara keduanya akhirnya mereka memilih bergantian dan ketua gamelan yang mengaturnya. Soalnya ketua gamelan tersebut mengetahui bahwa dua penari yang ada dihadapannya, sedang tak akur. Ketika Marni, tadi membawakan tembang pembuka Patmi juga duduk diam saja diluar panggung.

Setelah Marni berdiri diatas panggung dia menebarkan pandangannya kesemua penonton dan tersenyum kepada mereka. Ada seorang pemuda maju kedepan memesan tembang seperti si mbah tadi. Pemuda tersebut memesan tembang Blandong. Marni hanya tersenyum saja. Karena tembang itu baginya sudah diluar kepala disebabkan terlalu sering, dia bawakan. Suara gamelan Bonang sebagai pembuka, lalu disusul perangkat yang lainnya. Suara gendangpun segera menyusul agar semakin semarak. Namun ketika sudah waktunya nembang Marni hanya diam saja, selain itu sejak tadi juga tak menari-nari. Ketua gamelan memberikan isyarat agar volume sonsistem ditambah lagi, siapa tahu Marni tak mendengar. Tetapi diluar dugaan Marni tetap diam bagaikan arca yang ditaruh di halaman rumah dan ditengah lebatnya hujan, tak bergerak walau hanya menggoyangkan jarinya.

Penonton langsung berteriak menyuruhnya untuk turun dari panggung. Marni sendiri tak tahu apa yang terjadi terhadap dirinya. Karena lidahnya terasa kaku dan tubuhnya dari ujung rambut, sampai ujung kaki tak bisa digerakan. Marni membatin sepertinya tak ada yang beres dalam dirinya, “Wah, ini pasti pekerjaan si Patmi wanita kurang ajar itu.” Lalu Marni berusaha untuk memanggil mbahnya dengan cara merapalkan mantera, yang telah diberikan kepada dirinya apabila dalam keadaan sulit. Bertujuan meminta bantuan dan jika memungkinkan mbahnya disuruh datang. Tetapi Marni mencoba berulangkali, namun tak ada hasil. Mbahnya tak juga datang dan bantuan yang diharapkan, juga tak kunjung dirasakan. Marni semakin panik tergambar jelas di raut wajahnya. Sedangkan penonton semakin banyak yang berteriak-teriak, yang awalnya hanya beberapa orang saja. Tapi kini menjadi bertambah banyak.

Ketua kru gamelan terlihat melangkah menghampiri Marni, untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi ketua kru gamelan tersebut kaget seperti tersengat lebah. Marni tubuhnya kaku mirip sebatang pohon dan ketika ketua kru itu lebih dekat lagi, lalu dipegangnya tak bisa digerakan. Tanpa ada yang melihat Patmi, dirinya mengeringai puas mengetahui pesaingnya seperti itu. Dan memang hanya Patmi yang mengetahui apa sebabnya. Pemuda yang sudah tak sabar segera menarik Marni, untuk turun dari panggung. Dan selanjutnya nasip buruk harus dialaminya. Cacian serta makian bertubi-tubi dialamatkan kepada dirinya. Acara tayup di tempatnya Bapak Putut sejenak terhenti dan tujuan rumah, tak dapat melakukan apa-apa. Beberapa pemuda Mulai mendekati kearah panggung dan beberapa antaranya sudah naik keatas menghampiri Marni, lalu selanjutnya menarik pakaiannya.

Patmi menyaksikan dari tempat duduknya. Apa yang dialami rekan sejawatnya itu. Marnipun dalam hati mau menjerit yang sekencang-kencangnya. Tetapi lidahnya tetap tak bisa digerakan. Hanya dalam hati dia mengumpat Patmi. “Kurang ajar, ini pasti perbuatan perempuan jahanam itu! Dia pasti yang melakukan ini semua, dibantu sama junjungan demitnya.” Dikerumunan orang-orang Patmi melihat sosok yang sudah tak asing lagi bagi dirinya. Nyi Julung Senggoro, ada di antara orang-orang tersebut dan Patmi melihat, Nyi Julung seperti melemparkan sesuatu kepada Marni. Dan setelah itu terdengar jeritan keras, dari Marni. Orang-orang yang memukuli Marni jadi berhenti. Tiba-tiba ada seseorang menyeruak ditengah kerumunan. Lalu orang itu mengatakan kepada yang ada disitu, bahwa mbahnya Marni meninggal dunia.

Tanpa diberi aba-aba orang-orang itu melangkah mundur, menjauhi Marni yang sudah tak berdaya lagi. Suasana jadi hening untuk beberapa saat. Bapak Putut sebagai tuan rumah hanya dapat duduk terdiam, tak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Demikian juga istrinya terlihat bingung melihat apa yang terjadi di pesta acara, khitanan putranya. Ketika orang-orang sedang tak tahu apa yang harus dilakukan dan rasa bersalah mulai menyelinap, didalam hati mereka. Lain halnya dengan Patmi, merasa senang sekali, melihat apa yang dialami Marni. Jadi apa yang diinginkannya tercapai juga. Dan junjungannya Nyi Julung telah memenuhi apa yang jadi permintaannya. Senyum lega serta bercampur bahagia menghiasi wajahnya Patmi. Dendam lamanyapun jadi hilang, yang selama ini selalu menggelayuti jiwanya mengikuti kemanapun, dia berada.

Akhirnya salah satu di antara mereka berinisiatif untuk membawa Marni, pulang saja. Tetapi ketika tubuh Marni akan diangkat beramai-ramai, terasa dingin. Lalu orang-orang itu mundur menjauh dan semua orang, yang ada disitu menjauhi tubuh Marni. Yang sudah berbaring diam dan matanya terbuka lebar. Dan ada seseorang yang memberikan saran untuk menelpon memanggil pak Lurah. Agar tindakan apa yang harus diambil. Lalu pak Lurah ditelpon dan tak terlalu lama beliau datang, didampingi beberapa orang. Setelah dipastikan ternyata Marni telah tak bernyawa lagi. Pak Lurah marah kepada orang yang ada disitu karena main hakim sendiri padahal tak melakukan hal kejahatan, orang tersebut yakni Marni. Lalu orang yang ada disitu disuruh membawa Marni pulang kerumahnya. Dan karena ada korban jiwa, akhirnya acara di tempatnya Bapak Putut, hanya sampai disitu saja. Sangat berat hati Bapak Putut sekeluarga harus menerima keputusan tersebut dengan ikhlas serta berlapang dada. Karena ada korban jiwa dan penarinya sendiri yang menjadi korbannya. Bapak Putut, sendiri tak menduga bahwa acara dikediamannya harus berakhir seperti itu. Dan istrinya bapak Putut, hanya bisa menangis kenapa di acara sunatan anaknya harus ada kejadian di luar dugaan.

Lalu beramai-ramai mayat Marni, yang sudah dingin itu di angkat di bawa kerumahnya. Sedangkan Patmi sendiri, segera berkemas barang-barangnya. Karena tak mungkin lagi untuk di lanjutkan. Tapi di dalam hatinya Patmi, bertanya-tanya kenapa nyi Julung sampai bertindak begitu jauh padahal dia hanya meminta agar si Marni, merasakan apa yang pernah dilakukannya terhadap dirinya dulu. Sesampainya di rumah Patmi, bermaksud menghubungi nyi Julung Senggoro untuk meminta keterangan kenapa pesaingnya itu sampai meninggal. Dan juga kenapa si mbahnya Marni ikut meninggal, padahal bukan itu yang dia inginkan tapi merasakan malu seperti dirinya dulu. Jadi cucu dan mbah, merasakan betapa beratnya membawa rasa malu hingga kemana-mana. Setelah ada di kamarnya sendiri Patmi, langsung mematikan lampu dan membakar kemenyan sebagai sarana untuk memanggil nyi Julung Senggoro. Kalau dia lagi ada di rumah bila mau memanggil junjungannya itu harus membakar kemenyan sebagai syaratnya. Tapi jika ada di luar rumah tak perlu membakar kemenyan dan junjungannya nyi Julung Senggoro mustahil akan marah, karena makhluk itu yang menyuruhnya. Beberapa saat lamanya Patmi duduk bersila di tengah kamarnya, sikapnya sama seperti waktu di tempatnya bapak Putut. Di hadapannya nyi Julung datang lalu membangunkan abdinya itu.

“Bangunlah Patmi…” Suara nyi Julung Senggoro membangunkan abdinya.

“Sudah datang nyi?” Tanya Patmi.

“Ada apalagi kamu memanggilku..” Tanya nyi Julung Senggoro dengan memandangi Patmi, yang duduk bersila di depannya.

“Saya mau tanya nyi, kenapa Marni dan mbahnya meninggal dunia? Bukankah saya hanya meminta merasakan seperti saya dulu tapi kenapa sampai demikian.” Tanya Patmi, meminta penjelasan kepada makhluk yang ada di depannya dan sebagai junjungannya.

“Oh itu, supaya kamu semakin tenang dan si orang tua yang berani mencuri pusakaku itu biar merasakan akibatnya, jadi kamu tak perlu khawatir.” Jelas nyi Julung Senggoro. Setelah itu dia langsung menghilang dari hadapannya Patmi.

Suasana menjadi sepi kembali tak ada suara yang terdengar. Patmi, segera bangkit dari tempat duduknya rasa penasarannya telah terjawab. Lalu dia berganti pakaian karena tadi sesampainya di rumah langsung mempersiapkan untuk memanggil nyi Julung. Kini hatinya benar-benar puas karena tak ada lagi yang akan mengganggunya apalagi sampai menghadangnya. Tertawa kepuasan Patmi, keluarkan di rumahnya dikarenakan tak ada siapa-siapa. Hingga dia dapat tertawa puas.