Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

dendam lama

Tiupan angin pagi-pagi terasa dingin sampai menembus kedalam tulang. Kemarau panjang belum tahu kapan akan berakhir. Tetapi dimusim itu dimanfaatkan masyarakat luas untuk menggelar pesta hajatan. Dikarenakan apabila dimusim penghujan banyak hal yang harus dipertimbangkan antaranya belum panen, tetangga sekitar atau sanak saudara masih sibuk dengan tanamannya hingga tak dapat membantu secara maksimal, lalu apabila dimusim hujan jarang ada tamu yang datang. Sehingga musim kemarau yang hanya beberapa bulan saja itu benar-benar, untuk menggelar hajatan. Jadi terkadang satu kampung yang mengadakan pesta entah khitanan maupun kawinan, bisa lima sampai sepuluh orang. Membuat bingung kerabat yang mau Buwuh; Kondangan. Berapa kuintal lagi gabah yang harus dijual dan harus menyumbang apa. Berbeda halnya masyarakat yang ada di kota dapat kapan saja menggelar hajatnya bisa di gedung ataupun di rumah. Apalagi kalau di gedung bisa sewaktu-waktu kapan saja tak ada masalah.

Seperti pagi itu seorang wanita cukup masih muda belanja banyak sekali, ada tetangganya yang bertanya untuk apa belanja segitu banyaknya, jawabannya untuk hajatan anaknya sunatan. Memang anaknya sudah lama meminta untuk di sunat dan bulan itu adalah momen yang tepat. Dimana dia dan suaminya habis saja panen padi. Jadi ada yang dijual sebagian hasil panen mereka untuk biaya pesta tersebut dan kebetulan masa panen tahun itu bagus, hingga mendapatkan gabah lebih yang biasanya. Keluarga itu juga berniat mau memanggil hiburan untuk acara pesta anaknya nanti. Yang dipilihnya adalah Patmi. Karena suaminya suka sekali dengan tayup. Lagipula hanya jenis hiburan itu yang disukai masyarakat sekitar. Anaknya walaupun masih kecil juga menyukai dengan jenis kesenian tersebut.

Jadi Bapak Putut dan istrinya si mbok Sumijah memutuskan kesenian itu saja. Pilihannya dijatuhkan pada Patmi, walau konon katanya mahal sekali tapi pasangan suami istri tersebut tak menjadikannya soal, yang terpenting bagi mereka anaknya senang dan memang sewajarnya kalau harganya lebih dari lainnya. Menurut kabar Patmi, penampilannya sudah tak seperti dulu lagi, jadi memanggil dirinya tak mungkin rugi.

Melalui pelantara seseorang yang katanya mengenal Patmi dan tahu rumahnya pasangan suami istri itu, mempercayai orang tersebut untuk menghubunginya. Selasa Paing dan Rabu Pon acara di kediaman bapak Putut sekeluarga. Menurut perhitungan jawa hanya dua hari itu merupakan hari yang baik untuk melakukan hajat. Itu sudah disesuaikan dengan weton, hari kelahiran bapak Putut yaitu Senin Keliwon. Lalu istrinya si mbok Sumijah wetonnya Rabu Keliwon. Sehingga hari baiknya adalah Selasa Paing sampai Rabu Pon, untuk melaksanakan acaranya dan tak boleh lebih dari itu. Di dusun bapak Putut tinggal masih memegang erat adat tradisi mencari hari baik, hingga tak sembarangan apabila mau mengadakan acara besar. Kecuali acara sepasar bayi, yang kurang lebih seminggu dari si anak dilahirkan. Atau acara selapanan bayi, yaitu usia bayi tiga puluh enam hari, sejak dilahirkan. Untuk acara-acara semacam itu tak memperlukan perhitungan yang rumit.

Tetangga sekitar kanan kiri semuanya ikut membantu apa yang menjadi keperluannya pak Putut sekeluarga, dalam acaranya. Karena tinggal tiga hari lagi sudah Selasa Paing, dimana seluruh keluarga besar berkumpul. Rabu Pon untuk tamu umum dan pertunjukannya Patmi. Terlihat beberapa orang sibuk ada yang membuat panggung, lalu sebagian orang lagi memasang tenda dan lainnya mempersiapkan lampu agar nanti tak gelap. Para wanitanya juga tak mau kalah sibuk sama makanan yang mau dibuatnya. Karena di desa untuk makanan bikin sendiri hanya beli bahan pendukungnya saja. Tetapi bahan baku dasarnya sudah ada tersedia seperti pisang apabila mau membuat keripik, lalu beras ketan kalau memang bahannya dari ketan dan semacamnya. Guyup rukun saling bahu-membahu antar tetangga. Demikian juga dengan bapak Putut apabila ada tetangganya yang akan mempunyai hajat, dia selalu membantunya tanpa diminta atau orangnya datang kerumahnya. Jadi tak sungkan-sungkan langsung datang membantu apa yang bisa dilakukannya. Sehingga tak heran ketika orang-orang itu mendengar bapak Putut, akan mempunyai hajat sunatan anaknya tanpa dipinta atau harus mendatangi kerumahnya satu per satu, mereka telah memberikan tenaganya dengan sendirinya.

Dengan seiringnya angin yang bersemilir dimusim kemarau waktupun ikut terus mengalir tanpa diiringi rintikkan hujan. Daun tampak layu, pohon terlihat haus dan tanah dimana-mana terasa kering apabila diinjak tanpa menggunakan alas kaki. Debu berterbangan ketika angin sedang lewat. Walau hanya tiga sampai empat bulan musim kemarau hingga membuat petani beristirahat sejenak. Tetapi tetap saja ada orang yang mencoba keberuntungan dengan menanam kacang hijau. Karena tanaman tersebut tak terlalu banyak air. Berbeda dengan padi yang memperlukan air banyak. Selain itu kacang hijau mengurusinya juga tak begitu sulit, perhatian khususpun juga tak diperlukan. Namun demikian harapan agar menghasilkan pundi-pundi uang, apabila dijual nanti ada pemasukan. Sehingga hasil panen gabah tak terlalu banyak dijual untuk kebutuhan. Mengingat belum tahu kapan hijaunya padi akan dapat ditanam lagi.

Klenengan sayup-sayup terdengar dari kejauahan di siang hari. Gending Glatik Glinding, terdengar dari kejauahan seperti orang yang datang memberikan kabar bahwa akan turun hujan saat lagi, dimana kemarau panjang tak juga berakhir. Bagaikan terkena guyuran air hujan yang lebat sekali, bagi siapapun yang mendengarnya. Sumber suara tetabuhan itu dari kediaman bapak Putut. Yang siang itu sudah dimulai menyambut tamu pada berdatangan, sembari menikmati suguhan hidangan. Sinoman, yang menyuguhkan tanpak bersemangat wira-wiri, keluar masuk kedalam ruangan belakang untuk mengambil makanan dan minuman. Sedangkan bapak Putut beserta istrinya sibuk mempersilahkan para tamu berdatangan seperti semut semut yang keluar dari sarangnya. Dan anak yang di khitan bermain bersama teman-temannya hatinya merasa senang. Apa yang dinginkan sudah tercapai.

Dikeramaian para tetamu yang terus berdatangan tak kunjung habisnya seliberganti. Tamu yang satu pergi, datang lagi tamu yang lain. Memang bapak Putut beserta istrinya dalam bersosial sama siapa saja tak pernah memandang bulu. Disamping itu apabila diantara mereka ada yang mempunyai hajat bapak Putut dan istrinya tak segan-segan untuk datang membantunya. Apalagi ada salah satu keluarga orang yang dikenalnya meninggal, dia beserta istrinya membantu sampai terakhir tujuh hari. Jadi tak heran kalau tetamu pasangan suami istri itu selalu terus berdatangan sambung-menyambung. Walau pemangku hajat sengaja tak menyebarkan undangan. Karena hanya khitanan saja fikirnya. Tetapi diluar dugaan tamu yang datang bagaikan sungai meluap dan ikannya bermunculan dipermukaan.

Marni salah satu penari yang akan menghibur nanti malam, selain Patmi. Karena bapak Putut menginginkan pesta sunatan anaknya ada dua penari tayup yang terkenal sampai kemana-mana. Dimasa itu yang terkenal sampai di desanya bapak Putut adalah Marni dan Patmi. Tapi Lebih dahulu Marni, dibandingkan Patmi. Sebenarnya tanpa diketahui orang umum keduanya saling mengalahkan menggunakan cara yang dilarang dalam agama. Walau dulunya antara Marni dan Patmi, adalah teman dekat sejak kecil. Namun karena sesuatu hal akhirnya hubungan mereka berdua harus berpisah di persimpangan jalan persaingan. Jika Marni dibantu oleh mbahnya sendiri. Karena mbahnya adalah seorang dukun yang terkenal dengan pusaka Semar Mesemnya. Siapapun orangnya apabila sudah minum rendaman air pusaka tersebut. Maka banyak orang lain akan menaruh perhatian kepada dirinya. Namun Patmi sendiri juga tak kalah dia dibantu oleh Nyi Julung Senggoro, makhluk ghaib yang disegani. Pusaka Semar Mesem yang dimiliki oleh mbahnya Marni, juga dari Nyi Julung Senggoro. Tetapi mbahnya Marni, mendapatkannya dari mencuri miliknya nyi Julung Senggoro.

Kedua penari itu sudah berada di tempatnya Bapak Putut. Tetapi keduanya tak mau dijadikan satu kamar untuk beristirahat, ingin sendiri-sendiri. Bapak Putut yang dibisiki oleh salah satu keluarganya menjadi bingung mau ditempatkan di kamar mana. Karena sebelumnya tak ada informasi seperti itu. Akhirnya setelah berfikir beberapa saat ditaruh di kamar tamu. Rencana awal kamar tamu disediakan untuk keponakan yang masih kecil biar tidur disitu. Lalu barang-barang dipindahkan agar Marni, segera bisa beristirahat. Patmi yang mengetahui bahwa dia nanti malam harus satu panggung sama pesaingnya, niat burukpun segera menyelinap dalam fikirannya. Karena dia teringat peristiwa beberapa waktu lalu. Dimana Patmi harus menanggung malu karena ketika dirinya mau menembang tapi suaranya tak bisa keluar. Dan ketika dia mau menggoyangkan pinggulnya tapi tak bisa juga, rasanya kaku. Karena sebab itu penonton langsung menarik dirinya untuk keluar dari panggung dan tak hanya sampai disitu saja, penonton juga memukulinya. Waktu itu dia pentas di tempatnya Bapak Lurah. Jadi penonton merasa malu soalnya sudah dibayar mahal tapi tak bisa apa-apa. Itu semua karena ulah Marni dan mbahnya, agar Patmi tak lagi menari tayup. Dengan cara seperti itu Marni, jadi tak ada lagi pesaingnya dan hanya dia satu-satunya penari tayup yang ada di desanya.

Karena kejadian buruk beberapa waktu laluPatmi, menyimpan dendam yang sangat tebal sekali di dalam hatinya dan mau membalas cucu dan si mbah itu. Sampai-sampai dia harus menanggung rasa sakit yang amat sangat disebabkan pukulan orang-orang desa. Patmi, berfikir rasa sakit di tubuh masih bisa di obati tapi prilaku yang diterimanya membuat gunungan malu di depan orang banyak tak mudah untuk dihilangkan. Kejadian beberapa waktu itu terus menari-nari di pelupuk matanya berlenggak-lenggok, hingga rasa dendamnya juga semakin bergoyang dasyat di dalam dadanya.