Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

harta dan puncak karir

Patmi semakin bertambah terang sinar namanya terkenal hingga kemana-mana sampai keluar propensi. Bahkan dia menjadi bintang tamu dibeberapa acara dan tarif yang diterimanya, juga bertambah mahal. Pada zamannya dia yang paling tinggi honornya. Apalagi semenjak dia memiliki pusaka Semar Mesem, bukan hanya karir dan tarifnya yang semakin bersinar. Tetapi banyak pria yang mempunyai uang banyak lalu dipikatnya, dia rayu setelah itu dinttinggalkan begitu saja. Jadi tak heran kalau harta kekayaannya semakin berlimpah saja. Meskipun tujuh bulan belakangan dia tak menerima panggilan, untuk mengisi acara apapun pernikahan atau semacamnya. Dikarenakan dia mau menikmati masa liburannya, hingga banyak jadwal pentas yang dibatalkannya.

Tetapi walau begitu lamanya tak menerima panggilan untuk mengisi acara. Namun binatang ternaknya lebih dari seratus ekor sapi, di belakang rumah. Memang Patmi sejak dulu suka memelihara binatang ternak seperti itu, walau orang lain yang mengurusinya. Sebenarnya binatang peliharaannya tak hanya yang ada di rumahnya saja tapi sebagian besar di rawat beberapa penduduk, tentu masih berhubungan darah dengan dirinya atau kenal dekat.

Pagi itu Patmi duduk santai di samping rumah sembari minum susu hangat. Dari dalam rumahnya terdengar gending uyon-uyon tembang klasik zaman dulu. Beberapa burung liar hinggap di dahan dan saling bersaut-sautan berkicau memeriahkan di pagi itu. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang soalnya sejak tadi selalu melihat hp, ada yang menelpon apa tidak. Ketika dia menghabiskan secangkir susunya yang tinggal sedikit itu, tiba-tiba salah satu pekerja di rumahnya, memberitahu bahwa ada orang mau bertemu dengannya. Patmi bergegas keluar rumah melihat siapa yang datang. Ternyata pedagang sapi, mengantarkan pesanannya.

Dengan tersenyum lebar Patmi menyapa Sutris pedagang sapi. “Eh mas Sutris, katanya mau telpon dulu, aku tungguin sejak tadi pagi.”

“Hp saya ketinggalan di rumah Bu Patmi, jadi tadi tanya-tanya saja sama beberapa orang, bahwa rumah panjenengan dimana.” Jawab Sutris yang sambil ikut membantu anak buahnya menurunkan sapi, dari atas truk.

“Aku kira tadi nyasar sampeyan mas Sutris.” Timpal Patmi, yang sejak tadi mengawasi sapi, yang diturunkan dari atas truk.

Dengan bersusah payah Sutris dan anak buahnya berhasil menurunkan sepuluh ekor sapi. Setelah binatang berkaki empat itu ada di bawah semuanya Sutris dan anak buahnya, langsung berpamitan pulang. Patmi lalu memanggil beberapa orang yang bekerja di rumahnya dan khusus mengurusi sapinya. Dari arah belakang rumah muncul delapan orang anak muda. Mereka lalu membawa sapi itu satu per satu ditaruh di kandang belakang, dicampur dengan temannya yang lain. Dibelakang rumahnya Patmi, dibuatkan kandang yang berukuran sangat luas. Karena jumlah sapinya lebih dari seratus ekor dan yang mengurusi sekitar tiga puluh orang sebagian besar di antaranya menginap, jadi di belakang rumah ada dua bangunan satunya untuk para pengurus binatang ternaknya Patmi. Mereka semua apabila mau pulang harus bergantian tak bisa bareng-bareng. Namun demikian Patmi memberikan fasilitas kepada mereka makan dan minum gratis, televisi, kipas angin dan keperluan lainnya. Setiap Sabtu sore mereka menerima upah dan bayaran yang diterimanya cukup lumayan besar membuat hati gembira. Upah yang diberikan oleh Patmi, terhadap para karyawannya di terbilang cukup besar sekali di desanya.

Setelah melihat sapi-sapinya yang semakin hari bertambah gemuk DAN DI ANTARANYA ADA YANG SUDAH MELAHIRKAN MAUPUN HAMIL, pPatmi hatinya bertambah senang. Patmi lalu berjalan keruangan depan duduk seorang diri. Dia memikirkan Nyi Julung Senggoro yang saat itu belum bisa ditemui, disebabkan terluka parah ketika mengambil pusaka Semar Mesem milik mbahnya Marni. Yang dijaga beberapa makhluk ghaib juga dan rumah mbahnya Marni dipagari dinding ghaib, yang tebal. Karena dari itu Nyi Julung Senggoro harus menembus tebalnya dinding ghaib dan berjibaku melawan sekutu-sekutu, mbahnya Marni. Hingga membuat makhluk dari alam ghaib itu harus mengalami luka dalam yang sangat parah sekali sampai muritnya tak boleh memanggilnya. Jadi Nyi Julung Senggoro harus memulihkan kekuatannya untuk beberapa saat lamanya, dengan cara bermeditasi di alamnya. Selama junjungannya itu bermeditasi Patmi tak bisa memanggilnya untuk meminta bantuan, apapun itu bentuknya. Bertemu untuk sekedar ingin tahu juga tak bisa. Patmi, hanya dapat berucap di dalam hatinya. “Kenapa nyi Julung Senggoro, belum juga memberikan tandanya bahwa sudah selesai bersamadinya, apakah lukanya sangat parah sekali, lalu bagaimana aku cara membantunya..”

Sebenarnya dengan pusaka Semar Mesem yang telah ada di tangannya dan Selendangmerah, pemberian Nyi Julung Senggoro. Dengan dua benda tersebut Patmi tak perlu lagi ada yang di khawatirkan. Hal itu telah terbukti kekayaan yang didapatkannya sudah tercapai. Namanya juga terkenal sampai keluar daerahnya. Dan Nyi Julung sendiri juga memberikan penangkal untuk dirinya, jika ada yang mau mengganggunya dengan cara teluh dan sebagainya. Tetapi sifat serakah telah menyelimuti jiwanya Patmi, hingga tak ada celah walau hanya setitik. Dia ingin menjadi nomer satu di antara para penari tayup lainnya. Dan keinginannya setiap pria yang mempunyai uang banyak harus tunduk kepadanya. Patmi sudah tak ingat lagi kalau semua itu akan ada balasannya nanti dikemudian hari. Gemerlapnya dunia membuat dia lupa akan semuanya.

Siang itu Patmi, tak keluar rumah dia mau beristirahat santai-santai saja, karena besok malam harus kembali lagi menari memainkan selendang merahnya. Dari tujuh bulan absen dirinya menolak untuk menerima panggilan sementara waktu. Tetapi besok malam di acara setahun bayi, dirinya harus lagi memperlihatkan keindahan tariannya kepada orang banyak. Siapapun orangnya yang mempunyai acara apa saja pasti menginginkan untuk memanggil Patmi, sebagai penghiburnya agar suasana bertambah meriah. Karena selain tariannya indah membuat mata banyak yang bertuju kearahnya. Tetapi bagi pemilik hajat ada kebanggaan tersendiri, dikarenakan tamu yang hadir seorang bangsawan semuanya yakni teman-temannya Patmi. Jadi si pemilik hajat, tak rugi kalau harus mengeluarkan uang banyak untuk membayar seorang penari seperti Patmi.

Waktu dirinya mau masuk kedalam kamar untuk berbaring tiba-tiba dari arah luar rumah, terdengar suara mesin motor berhenti di halaman depan. Dia langsung bangkit dari tempat duduknya melihat siapa yang datang itu. Ternyata sepupunya beda mbah yang datang kerumahnya. Patmi, lalu mempersilahkan sepupunya itu masuk kedalam rumah langsung di suruh duduk di ruang tamu. Setelah sepupunya itu duduk, lalu Patmi memanggil salah satu yang bekerja di rumahnya untuk membuatkan minum. Dan tak lama dari arah dalam seorang wanita membawakan secangkir kopi. Selanjutnya Patmi, mempersilahkan tamunya untuk meminum kopi yang sudah ada di depannya itu. Sejenak lamanya mereka saling diam tak ada suara yang keluar dari bibir kedua. Hanya jarum jam didinding terus berdetak sebagai tanda bahwa jangan diam saja. Akhirnya Patmi membuka pembicaraan sebagai yang mengawali.

“Sudarman, tadi kamu dari rumah atau dari mana?” Tanya Patmi, memanggil nama sepupunya itu.

“Ia bulek, aku dari rumah, kedatanganku kesini mau bilang..” Jawab Sudarman.

“Mau bilang apa? Jangan ragu-ragu..” Ucap Patmi, yang terus memperhatikan sepupunya itu.

Dengan wajah tampak ragu Sudarman, mau mengatakan sesuatu tapi terlihat berhenti di bibirnya. “Begini bulek, sapi yang panjenengan beli kemarin kan sudah besar, apakah aku bisa minta lagi?” Tutur Sudarman.

“Maksudmu bagaimana? Aku belum jelas.” Terang Patmi, bahwa dirinya belum begitu jelas apa yang dikatakan oleh Sudarman.

“Jadi begini bulek, kalau bisa aku minta dibelikan atau ditambah beberapa ekor sapi lagi, kalau panjenengan setuju.” Ujar Sudarman.

Patmi, sejenak memandangi sepupunya itu setelah mengutarakan apa yang menjadi niatnya. Lalu, wanita penari terkenal itu berlahan-lahan bertanya, “Apakah kamu sanggup untuk merawatnya Sudarman? Kalau aku gak masalah, yang penting kamunya apakah sanggup merawat segitu banyaknya…”

“Kalau soal itu, aku akan merawat sama anaku dan keponakan dari istriku.” Jawab Sudarman menjelaskan.

“Ia sudah kalau begitu, besok aku belikan sapi atau pedagang sapinya aku suruh aja kerumahmu. Kalau begitu, aku mau istirahat dulu ya Sudarman..” Ujar Patmi.

“Baik kalau begitu bulek, aku juga pamit pulang, aku tunggu sapinya di rumah.” Jawab Sudarman, yang bangkit dari tempat duduknya.

Patmi, masih di tempat duduknya memperhatikan Sudarman, yang berjalan keluar dari ruang tamu meninggalkan dirinya sendirian saja. Orang yang diperhatikan menyalakan mesin motornya dan suaranya lenyap dikejauhan. Sudarman, pulang dengan hati gembira ria karena keinginannya untuk menambah sapi lagi, akan menjadi kenyataan disebabkan buleknya telah menyanggupinya. Setelah sepi tak ada siapa-siapa lagi Patmi, lalu berdiri dari tempat duduknya menuju kekamarnya, untuk beristirahat yang tadi sempat tertunda karena sepupunya datang. Sudarman adalah salah satu keluarganya Patmi, yang dipercayainya untuk merawat sapi-sapinya selain di rumahnya sendiri. Di keluarga lainnya yang seperti Sudarman, masih banyak lagi mendapatkan kepercayaan dari Patmi. Karena kalau keluarganya Patmi, sendiri semuanya ada di kota dan tinggal menetap disana tak ada yang di desa.

Jadi keluarga dari saudara-saudara si mbahnya dan memang itu yang tinggalnya di sekitar di desanya. Patmi, secara tak langsung sedikit banyak membantu keluarga yang kurang mampu. Karena dari hasil mengurus sapi, lalu ketika di jual nanti keuntungannya dibagi dua. Setelah dikurangi harga pembelian sapinya. Cara yang seperti itu yang dipilihnya soalnya dia tak mau memberikan uang dengan Cuma-Cuma, selama masih bisa berusaha maka orang tersebut harus mengeluarkan keringat. Itulah yang menjadi perinsipnya Patmi, hanya saja dia salah menempuh jalan untuk meraih impiannya. Meskipun demikian keluarganya tak ada yang mengetahui bahwa dirinya telah besekutu dengan makhluk ghaib, dari keluarga intinya maupun keluarga lainnya termasuk Sudarman yang datang barusan.

Untuk mendapatkan kesuksesan yang telah diraihnya sekarang ini. Karena keluarganya hanya tahu bahwa dirinya adalah seorang penari yang unggul. Dan Patmi, juga tertutup dengan keluarganya yang lainnya, sehingga tak ada yang mengetahui. Dengan kisah asmaranyapun, keluarganya juga tak tahu secara jelas kenapa sampai setua itu, dia belum menikah. Walau seperti itu Patmi, tetap perhatian dengan keluarganya, apabila ada yang kurang mampu atau sedang mengalami kesulitan dia langsung menawarkan diri untuk meringankan sebisanya.