Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Indahnya Berkumpul Bersama Keluarga

Jalanan desa siang itu sepi tak ada kendaraan yang terlihat walau hanya satu. Tapi sebuah mobil kijang berwarna biru melintas kencang menuju kota Bojonegoro. Lalu berhenti dipertigaan jalan dan berbelok kekiri terus masuk kehalaman rumah yang dipenuhi kendaraan berparkir. Dari dalam mobil kijang tersebut keluar sesosok wanita yang agak tinggi rambutnya panjang dibiarkan terurai melewati pundaknya. Setelah wanita itu berjalan masuk kedalam rumah ternyata ia adalah Patmi sengaja datang ketempat kakaknya, yang ketiga merayakan hajatan temantin anaknya. Seluruh keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga baru dirinya yang baru datang. Karena hanya Patmi yang tinggalnya jauh dan tinggal di desa sendiri, sedangkan keenam saudaranya tinggalnya di kota, dia anak kelima lebih memilih menempati rumah orang tuanya yang ada di desa. Tujuh bersaudara itu duduk bareng saling canda gurau dan bersama keponakan lainnya. Dan memang kebetulan mereka telah lama tak berkumpul seperti itu disebabkan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sedangkan Patmi sendiri banyak panggung hampir tiap malam, jadi dirinya tak pernah ada di rumah.

“Bulek nanti aku bolehkan bulan madu di tempatnya panjenengan?” Eko calon temantin pria yang keponakan Patmi bertanya kepada buleknya itu, bahwa dia nanti mau berbulan madu di tempatnya.

“Ia boleh, terserah kamu aja.” Dengan senyumnya yang manis Patmi menjawab keponakannya itu.

“Kalau kamu mau bulan madu di tempatnya bulekmu Patmi, Ko enak soalnya bulekmu sekarang sudah menjadi penari terkenal, jadi kamu kaya di rumah sendiri. Kalau malam Cuma kamu berdua sama istrimu dan bulekmu ini tak ada di rumah dan kalau siang bulekmu pasti tidur karna ngantuk. Dua tahun saja kamu disana Ko, pulang lagi ketempat bapakmu ini, tahu-tahu kamu sudah membawa cucu dua anak.” Celetuk pakleknya yang nomer enam. Sontak seluruh keluarga tertawa semuanya, termasuk Patmi sendiri.

Kehangatan keluarga besar itu dilanjutkan dengan makan bersama-sama sebelum keesokan harinya dimulai acara inti. Karena menurut rencana resepsi besar-besaran akan diselenggarakan lusa beserta hijabqabulnya di tempat mempelai wanita. Patmi akan bermalam di tempat kakaknya itu soalnya dia hanya bisa sampai besok siang saja, tak bisa sampai sore apalagi malam. Detik demi detik dia lalui bercanda dan tertawa sama semua keponakan yang ada disitu, karena Patmi sangat dekat dengan anak saudara-saudaranya. Dia sendiri hampir menginjak usia lima puluh tahun belum juga menikah, walau adiknya yang keenam dan ketujuh sudah berkeluarga dan mempunyai anak dewasa.

Jam pertama, lalu jam kedua dan jam-jam berikutnya ia tak merasakan apapun, sampai dipertengahan malam waktu dirinya sedang tertidur pulas, tiba-tiba badannya terasa lemas dan tulangnya bagaikan mau lepas semua. Seluruh tubuhnya bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan giginya terdengar bergemeretuk, karena menahan rasa dingin yang tak tahu sebabnya apa. Pada saat itu semua orang sudah tenggelam dalam mimpinya ia melihat kesamping kanan kirinya, tak ada yang bangun. Tapi tak begitu lama badannya kembali normal rasa yang aneh tersebut mendadak hilang. Rasa hangat seperti ketika dia bertemu dengan nyi Julung Senggoro, waktu dirinya di aniyaya oleh orang desa dan dia mendapatkan selendang pengasihan berwarna merah dari nyi Julung. Pada waktu itu tubuhnya terasa sakit semua akibat terkena pukulan tapi ketika disuruh oleh nyi Julung Senggoro, duduk bersila dan matanya dipejamkan, namun tiba-tiba rasa sakit itu hilang. Dalam kebingungannya apa yang menyebabkan dirinya merasakan seperti tadi dan menghilang begitu saja. Tapi sebelum mendapatkan jawabannya pandangan matanya membentur sosok bayangan hitam dipojokan kamar, setelah diperhatikan ternyata nyi Julung Senggoro yang datang.

“Nyi Julung Senggoro..” Panggil Patmi dengan suara pelan khawatir yang lain mendengar.

“Ia, aku Patmi.” Jawab nyi Julung Senggoro.

“Ada apa nyi Julung Senggoro datang kesini?” Dengan ekspresi wajah cemas jangan-jangan nanti ada yang melihat kedatangan nyi Julung Senggoro.

“Patmi, segera tinggalkan rumah ini, kalau kamu tak ingin celaka.” Ucap nyi Julung dengan suara datar.

“Memangnya ada apa nyi Julung?” Tanya Patmi dengan kecemasan yang semakin menjadi kentara dari nada suaranya. Tapi sebelum pertanyaannya dijawab nyi Julung Senggoro sudah menghilang dari hadapannya.

“Kalau nyi Julung Senggoro menyuruhku harus meninggalkan rumah ini berarti pasti ada sesuatu yang tak baik untukku. Kalau begitu aku tak perlu menunggu sampai siang, besok sehabis acara aku harus pamitan” Kata Patmi didalam hatinya.

Duduk terdiam sunyi dalam kebingungan peristiwa yang baru saja dialami ia belum tahu apa sebabnya dan ditambah nyi Julung Senggoro, meminta dirinya segera meninggalkan, rumah kakaknya itu. Rasa haus membuat Patmi berdiri dari tempat duduknya, lalu pergi kedapur untuk mengambil air minum. Waktu akan kembali lagi kekamar ia berpapasan dengan Eko keponakannya yang besok mau menikah.

“Bulek belum tidur?” Tanya Eko dengan tersenyum.

“Belum, la kamu jam segini kok belum tidur juga? Kan sudah jam tiga pagi.. Besok kan kamu mau menikah.” Jawab Patmi yang lalu membalas bertanya.

“Sudah tadi bulek tapi tidur sebentar terus bangun sholat..” Dan setelah Eko menjawab buleknya itu, dia langsung mohon pamit untuk kembali masuk kedalam kamar lagi.

Patmi juga langsung masuk kedalam kamarnya dimana dia tadi tidur bersama keponakan perempuannya. Eko memang pemuda yang sholeh semenjak kecil sampai lulus kuliah dia ada di pondok pesantren. Jadi bangun malam untuk melaksanakan ibadah sholat Tahajud merupakan hal biasa baginya dan ia selalu membaca ayat suci, walau hanya satu atau dua ayat. Ketika Eko berpapasan dengan buleknya Patmi, dia sehabis menyelesaikan membaca kitab suci Al-quran. Kukuruyuk suara ayam terdengar dari kejauahan menandakan sebentar lagi pagi akan tiba. Bintang yang menghiasi malam mulai pergi dan akan datang kembali nanti malam. Namun rasa bingung masih belum mau menjauh dari diri Patmi malah mengikuti sampai ia sarapan pagi. Karena nyi Julung Senggoro, tak mau memberi tahu apa sebabnya dirinya kok bisa lemas semalam.

Kerameyan aktifitas di rumah orang tuanya Eko orang sudah pada sibuk dengan tugasnya masing-masing ada yang mengupas bawang putih dan bawang merah, ada yang mengupas kelapa, ada juga yang mempersiapkan beras untuk segera dimasak serta lain-lainnya. Untuk dibuat makanan yang akan di bawa ketempat pengantin putri dan menyiapkan para pengiring temantin nanti. Karena orang tuanya Eko, tak memesan makanan dari jasa ketring. Ada seorang si mbah yang sehabis memotes-motes cabai, karena sudah sepuh jadi pelupa belum mencuci tangannya, lalu memegang mukanya disebabkan terkena cepratan sesuatu cairan entah apa maksudnya mau dibersihkan. Sontak si mbah itu keperihan lalu menjerit, orang-orang sibuk mencarikan kain basah untuk si mbah tersebut, bermaksud agar rasa perihnya hilang. Tapi karena gugup dan terburu-buru orang tersebut salah mengambilkan kain basah, yang diambilnya kain bekas mengangkat panci panas sehabis untuk memasak rebusan telur. Jadi waktu kain itu ditempelkan di wajahnya si mbah, malah bertambah volume menjeritnya lebih kencang lagi. Patmi yang melihat hal itu menjadi ikut tertawa sampai terpingkal-pingkal dan saudara-saudara yang lainnya juga. Seketika suasana menjadi bertambah ramai karena si mbah tersebut.

Saudara yang tak menginap mulai berdatangan untuk mengiringi temantin pria kerumah calon mempelai wanita, karena tali janji suci akan diikatkan disana. Sehingga di tempat mempelai pria hanya selamatan saja sebelum temantin berangkat. Seluruh keluarga yang akan ikut mengiringi sudah berkumpul ada yang duduk didepan rumah, ada yang lagi mengobrol di ruang tamu dan dibeberapa tempat. Masakan yang akan dibawa ketempat calon besan sudah matang semuanya dan siap untuk dibawa. Selain itu barang-barang yang dibeli seperti lemari, dipan, meja rias dan lainnya. Sebagai sasrahan sudah diatas truk semuanya. Selamatan segera dimulai karena waktu terus berjalan mendekati apa yang sudah direncanakan. Sedangkan Eko si temantin, garis ketidak sabaran terlihat dijelas di raut mukanya segera ingin duduk bersanding dengan wanita, pilihannya satu tahun lalu.

Setelah selesai melaksanakan selamatan orang-orang yang ikut mengiringi temantin masuk kedalam kendaraannya. Eko satu mobil bersama kedua orang tuanya. Patmi sendiri bersama keponakannya yang perempuan-perempuan satu mobil dengannya. Saudara dan kerabat yang lain sudah berada di kendaraannya sendiri-sendiri siap mengikuti dari belakang. Mobil yang ditumpangi Eko beserta keluarganya ada ditengah-tengah dikelilingi antara kendaraan pengiringnya. Barisan paling belakang ada tujuh puluh motor yang akan mengikuti. Barisan yang ada didepan sebagai pembuka jalan sekitar lima motor. Sepupu dan temannya Eko diundang mereka semuanya datang, tanpa ada yang absen. Rombongan temantin itu mulai bergerak berlahan-lahan hingga kecepatan tak bisa kencang, mengingat banyaknya kendaraan. Dilihat dari kejauahan bagaikan semut yang sedang berbaris mendatangi manisnya gula.

Satu jam setengah lamanya rombongan pengantin pria melakukan perjalanan menuju ketempat pengantin wanita, akhirnya sampai juga. Kendaraan rombongan diparkir sendiri-sendiri dititipkan di rumah para tetangga sekitar, karena acara resepsinya di desa. Eko terlihat turun dari mobil dengan didampingi oleh Bapak dan Ibunya, sedangkan para pengiring mengililinginya. Kedatangan mereka disambut dengan meriahnya klenengan, hingga seluruh rombongan yang ada masuk dalam tenda. Suara klenengan berhenti sejenak untuk mendengarkan pengantin pria mengucapkan Hijabqabul, sebagai tanda bahwa pasangan kekasih itu resmi menjadi suami istri. Rangkaian acara selanjutnya dua mempelai sungkem kepada kedua orang tua masing-masing, agar mendapatkan doa restu dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Supaya kuat ketika ada badai di depan tetap melaju dengan selamat dan jangan sampai porak-poranda dikarenakan tak tahan terjangan badai, akhirnya hanyut terbawa arus kepedihan hati.

Setelah selesai meminta doa restu terhadap kedua orang tua, lalu pengantin keduanya duduk dipelaminan. Agar para para tamu yang hadir dapat mengucapkan salam dan mendoakan. Tampak berseri-seri wajah dari dua pengantin itu ketika menyambut uluran tangan yang disertai ucapan salam. Patmi melihat keponakannya duduk diatas pelaminan dengan seorang gadis pelihannya, tiba-tiba hatinya menjadi perih seperti tergores duri. Bayangan beberapa tahun silam kembali muncul dalam ingatannya Patmi. Dimana pada waktu itu ia sedang menjalin tali asmara dengan seorang pria yang sangat-sangat dicinntainya tapi jalan cerita harus melewati jalur lain. Kedua orang tua dari pria itu tak setuju dengan dirinya, disebabkan ia tak berpendidikan tinggi, sedangkan pria yang dicintainya adalah berpendidikan tinggi. Oleh sebab itu kedua orang tuanya tak menyukai Patmi. Karena sebab itu ia menjadi penari tayup, niat awalnya hanya untuk menghibur hatinya yang lagi lara dan kebetulan ada salah satu temannya di waktu kecil mau mengajarinya. Tapi lama semakin lama dia menjadi senang dengan apa yang dilakoninya saat itu. Namun memang Patmi, mempunyai bakat sejak kecil dalam olah seni tari, karena dulu waktu dia masih sekolah SD selalu juara satu setingkat Kabupaten. Jadi tak perlu waktu lama untuk dirinya belajar dan ketika dia masih kecil juga, sering di ajari nembang oleh mbahnya.

Patmi lalu berpamitan kepada kakaknya dan semua saudara-saudaranya untuk undur diri terlebih dahulu, dia mengatakan bahwa ada acara yang harus dihadirinya karena tak bisa ditinggalkan. Menurut rencana mereka akan sampai sore ada disana, jadi Patmi tak mungkin kalau ikut hingga sore juga. Setelah Patmi, berpamitan kepada semua keluarganya sendiri dan keluarga istri dari keponakannya, lalu orang-orang yang ada disekitarnya. Patmi langsung menghampiri mobil kijangnya, yang terparkir agak jauh kira-kira enam rumah dari si pemilik hajat tersebut. Sebentar kemudian mobil kijangnya berjalan berlahan-lahan menjauh meninggalkan dimana orang-orang masih bergembira di dalam pesta pernikahan.

Kenangan yang indah dimasa silam memang sulit untuk dihapus dari ingatan. Meskipun sudah tertinggal jauh dibelakang bercampur dengan debu yang berterbangan. Seperti juga Patmi yang melihat keponakannya Eko ketika bersanding dengan wanita pilihannya, dia menjadi teringat kisahnya sendiri tapi tidak begitu beruntung, harus terpisah dikarenakan restu orang tua tidak mengalir sesuai apa yang dibayangkan. Sesampainya di rumah dirinya hanya berdiam didalam kamarnya hatinya mendadak terendam air bah kerinduan. Tanpa disadari air matanya sudah mengalir deras tidak dapat dibendung lagi, ia terbawa arus kesedihan. Isakan tangisnya sampai terdengar diluar kamarnya tapi karena dia tinggal sendiri saja, sehingga tidak ada yang mendengar pilunya suara disudut ranjang tersebut. Sempat terbesit dalam fikirannya untuk membuat bagaimana caranya agar kekasihnya dulu dapat bersama dengannya tapi sayang orang itu sudah meninggal dunia. Lalu ia menyimpan rapat-rapat kenangan indah tersebut biar menjadi obat rindu manakala ingin bertemu.