Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

kembalikan pusakaku

Sepasang mata tampak gembira berbinar-binar memandangi barang yang diinginkannya telah ada di dalam genggamannya. Dan tanpa harus bersusah payah mengeluarkan uang untuk membelinya. Patmi, sangat senang sekali melihat isi tas yang didapatkannya dari Dodi. Orang yang kesekian terkena bujuk rayu asmaranya itu. Yang telah sudi memberikan harta miliknya tanpa harus memaksanya. Di dalam kamar semua isi tas dikeluarkan satu per satu ditaruh di atas meja, hingga tak ada yang ketinggalan. Senyum puas mengembang di wajahnya Patmi, dia merasa senang sekali melihat barang berharga dan sejumlah uang yang berjejer di atas meja kamarnya.

Sembari tertawa lirih dia berkata, “He he he kini hartaku bertambah lagi, tanpa aku harus lelah-lelah menari setiap malam lagi, paling tidak ini cukup untuk biaya hidupku lebih dari sepuluh tahun, apalagi kalau aku belikan sapi akan bertambah banyak saja.”

Diluar rumahnya Patmi, malam telah menyelimuti cakrawala hingga matahari tak terlihat lagi. Gelapnya malam menyebar dimana-mana dan kebetulan di langit sepertinya akan turun hujan. Suara petir yang sejak tadi terus menggelegar tiada henti. Membuat takut anak kecil sehingga bersembunyi di dalam pelukan Ibundanya. Kilat bertebaran disana-sini bagaikan lidah api menerangi rumahnya Patmi. Yang tak diberikan lampu penerang itu disetiap sudutnya maupun di dalam ruangan. Gerimis mulai turun rintik-rintik disertai angin dan petir yang terus menggelegar susul-menyusul bersama temannya. Malam itu terasa sunyi suasana seram semakin menggigit perasaan setiap orang yang melintas atau ada di area rumahnya Patmi. Orang-orang yang bekerja mengurusi binatang ternaknya Patmi. Sudah berada di tempatnya di bangunan belakang rumah tak ada yang keluar satupun.

Hujan semakin lama bertambah deras saja tak seperti biasanya. Baru saja hujan turun tapi air sudah membuat jalanan tak terlihat. Dikarenakan tergenang setinggi lutut orang dewasa. Namun hujan belum ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu cepat. Angin juga bertambah kencang saja sampai pohon besar bertumbangan. Tanaman bunga yang ada di rumahnya Patmi, berterbangan kemana-mana hingga keatas genteng terbawa hembusan angin. Riuhnya suara hujan, alam dan kondisi sekitar yang ditimbulkan membuat ngeri. Sehingga membuat orang nggan membuka pintu atau cendela, melihat bagaimana keadaan diluaran. Pintu maupun cendela malah ditutup rapat-rapat dan anak-anak kecil tidur pulas di dalam gendongan Ibunya.

Tampak dibawah temaramnya lampu yang ada di teras rumahnya Patmi. Bayangan hitam berdiri tegak persis didepan pintu. Tetapi apabila disaat itu ada orang yang melihat sosok bayangan hitam didepan pintu, akan lari terbirit-birit tungganglanggang, paling tidak pinsan seketika. Karena bayangan hitam tersebut tidak menyentuh tanah kakinya atau alas apapun. Dia berdiri melayang 10 jengkal orang dewasa dari permukaan tanah. Dan matanya menatap tajam kearah pintu. Dari tatapan matanya bayangan hitam tersebut sangat marah sekali. Terlihat sorotan matanya seperti menyimpan api dendam dan kebencian. Yang siap membakar siapa saja ada didepannya.

Hujan terus saja mengguyur bumi yang ada disekitar tempat itu. Mendadak bayangan hitam yang sejak tadi berdiri tegak didepan pintu rumahnya Patmi. Mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seperti akan menggapai langit. Dari mulutnya menghembuskan angin yang sangat kencang sekali sehingga pintu rumahnya Patmi, secepat kilat terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara. Hawa dingin yang dihembuskan dari mulut bayangan hitam itu, energinya sampai kedalam kamarnya Patmi.

Dengan masih memegang dan menatap terus barang yang dikeluarkan dari tasnya Dodi, yang diletakan diatas meja. Patmi, tidak henti terus tertawa menandakan hatinya sangat senang sekali melihat barang tersebut didepan matanya tanpa harus bersusah payah. Tiba-tiba kakinya terasa dingin lalu menjalar hingga seluruh tubuhnya. Dia menjadi terkejut apa yang sedang terjadi kepada dirinya. Ketika dia mau berteriak mulutnya tidak bisa terbuka dan suaranya juga tidak terdengar. Untuk mengedipkan matanya dia juga tidak bisa. Rasa bingung seketika memenuhi ruang fikirannya ada apa dengan dirinya.

Ketika Patmi, akan memanggil Nyi Julung Senggoro dari dalam hatinya. Sebelum dia merapalkan mantranya. Pintu kamarnya terbuka pelan hingga terbentang. Dia melihat dari tempat duduknya tidak ada siapa-siapa. Lalu sesaat kemudian Patmi, melihat bayangan hitam tetapi tidak begitu jelas makhluk apa gerangan. Sudah berdiri tepat dihadapannya. Namun, Patmi tidak bisa mengucapkan walau hanya satu kata saja. Bahkan untuk menggerakan mulut Patmi tidak bisa. Jadi dia hanya duduk tertekun memperhatikan makhluk yang ada dihadapannya.

Secara tiba-tiba Patmi mendengar suara tapi sumbernya jauh sekali, “Kembalikan pusakaku, jangan dibuat menyangsarakan orang lain.” Kata suara tersebut.

“pusaka itu hanya untuk mendatangkan orang agar menonton pertunjukan dan memilih untuk menghibur. Bukan untuk mencari kekayaan dengan cara seperti itu, aku tidak rela.” Imbuh kata makhluk bayangan hitam tersebut itu.

Setelah mengucapkan kata-kata makhluk bayangan hitam, lalu menghilang dari hadapannya Patmi. Dan dia semakin lama terbebas dari pengaruh energi dingin yang ditimbulkan makhluk tadi. Ketika rasa dingin menghilang Patmi, merasa lega dan dia bisa menarik nafas panjang. Dia berusaha keras untuk mengingat mengenali suara yang baru saja didengarnya. Karena kenapa makhluk tadi mengucapkan perkataan demikian seperti mengetahui apa yang dilakukannya. Hingga detik itu Patmi, belum berhasil mengenali suara siapa tadi gerangan. Selain terdengar jauh posisinya dan suara tadi seperti didalam ruangan yang kedap.

Dia berniat akan memanggil Nyi Julung Senggoro tetapi hal itu diurungkannya. Dikarenakan Patmi, berfikir paling makhluk salah tujuan saja.