Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kenapa Aku Belum Di Khitan

Bagaikan hari yang terus berganti sesuai dengan jalannya. Musim kemarau sudah tiba biasanya anak-anak banyak bermain di halaman rumah sembari menyanyikan tembang dolanan seperti gundul-gundul pacul, cubla-cubla sueng, jamuran dan masih banyak lagi. Tertawa dan sorak-sorai riang sesekali terdengar berasal beberapa anak yang sedang main kelereng atau tembak-tembakan terbuat dari bambu, lalu pelurunya menggunakan daun. Ketika ada salah satu anak terkena tembakan yang lainnya langsung tertawa menyorakinya. Tapi lain halnya dengan salah satu anak yang duduk dipojokan rumah dibawah temaramnya lampu. Sejak tadi terlihat murung menggambarkan hatinya sedang sedih seperti ada yang sedang difikirkan. Beberapa kali teman-temannya mengajaknya untuk ikut bermain tapi bocah yang berusia dua belas tahun itu, hanya menggelengkan kepala. Dimana bocah itu sedang tenggelam dalam kesedihannya yang belum diketahui apa sebabnya. Dari jauh temannya berlari menghampiri dirinya seperti ada yang ingin disampaikan.

“Haryo Mustiko! kamu disuruh pulang sama Pakde Mardi dan Mbokde Wasni.” Teriak temannya itu memberitahu jika disuruh pulang oleh Bapaknya dan Ibunya. Bocah yang tadi hanya duduk diam termenung setelah tahu bahwa kedua orang tuanya memanggil, lalu bangkit berdiri berjalan pulang. Bocah yang duduk termenung sejak tadi itu ternyata namanya Haryo Mustiko, lalu dia langsung bergegas menuju rumahnya.

Rumah berpagar bambu yang ada dipinggir jalan terang sekali dilihat dari kejauahan sepertinya penghuninya belum tidur. Haryo Mustiko melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah dan seterusnya masuk kedalam. Dia langsung disambut oleh Bapak beserta Ibunya dan disuruh duduk di kursi panjang yang ada di ruang tamu. Meskipun dia sudah berada diantara kedua orang tuanya tapi wajahnya tetap saja, merenung bagaikan langit di sore hari yang mau turun hujan. Karena hal itu orang tuanya memanggil dirinya ada apa yang sebenarnya terjadi dan mungkin lagi menginginkan suatu mainan atau yang lainnya.

“Haryo kamu ada apa to ger kok beberapa hari terlihat murung?” Tanya pak Mardi Bapaknya Haryo Mustiko.

“Ia ada apa to ger bilang saja.” Imbuh Bu Wasni Ibunya Haryo Mustiko.

“Tapi kalau Haryo bilang nanti Bapak dan Ibu gak marah?” Tanya Haryo Mustiko sembari memperhatikan Bapak beserta Ibunya bergantian.

“Selama itu masih wajar Bapak dan Ibu gak akan marah kok Haryo, kecuali kalau gak wajar baru Bapak dan Ibumu marah.” Ujar pak Mardi kepada putranya. Di lihat sepertinya putranya itu ada yang ingin disampaikan tapi ragu-ragu.

“Begini pak, bu. Haryo sudah besar dan teman-teman yang seumuran juga sudah disunat semua, jadi Haryo juga minta seperti mereka.” Tutur Haryo Mustiko kepada kedua orang tuanya dan dia harap-harap cemas menunggu jawaban.

“Oh itu to.. Kalau itu kamu gak usah khawatir ger, sekarang tinggal kamu mau disunat kapan?” Tanya pak Mardi balik kepada putranya. Tapi yang ditanya terlihat kebingungan harus menjawab apa.

“Ia ger Haryo kamu maunya kapan, Bapak dan Ibu sebenarnya sudah lama menunggu kamu ingin di sunat kapan soalnya orang sunat itu gak bisa dipaksa.” Tambah dan menjelaskan Ibu Wasni kepada putranya yang belum memberikan jawaban, ingin di sunat kapan.

“Tapi kenapa Bapak dan Ibu gak bilang kalau menunggu Haryo?” Tanya haryo Mustiko meminta penjelasan kenapa harus menunggu dirinya.

“Begini Haryo, di desa kita ini kalau anaknya mau di sunat menunggu sibocah sampai punya keberanian terlebih dahulu, jadi gak main di sunat aja.” Terang pak Mardi sembari meminum kopi pahitnya yang sudah tersedia diatas meja dan ditemani rebusan ketela.

“Berarti kalau Haryo minta di sunat sekarang bisa dong pak bu?” Tanya Haryo Mustiko dengan wajah berbinar-binar tanda kegirangan walau Bapak dan Ibunya belum mengatakan ia.

“Ia gak sekarang Haryo, sekarang kan sudah malam, besok Bapak dan Ibu bicarakan lagi hari apa baiknya.” Pak Mardi memberikan penjelasan serta meniupkan angin harapan untuk putranya itu.

Yang membawa terbang Haryo Mustiko keatas awang-awang bahwa sebentar lagi dirinya seperti temannya akan di sunat, sehingga tidak perlu malu diejek. Malam itu dia bermimpi bahwa sudah di sunat dan semua teman-temannya hadir tanpa terkecuali, bukan hanya sampai disitu saja tapi orang tuanya memanggil hiburan tayup. Tapi dipertengahan malam dia harus terbangun karena pipinya digigit nyamuk rasa gatal membuat keluar dari mimpinya, yang indah. Walau tidak begitu jelas dia mendengarkan dibalik pintu bahwa Bapak beserta Ibunya, masih membicarakan untuk acara sunatannya. Karena waktu sudah menjelang pagi dia tidak mengikuti pembicaraan tersebut, memilih melanjutkan mimpinya tadi barangkali dapat diulangi. Dalam hatinya berdoa semoga nanti pestanya semeriah apa yang tadi dilihatnya di taman mimpi.

Terangnya sang mentari terbit dari timur mengusir gelapnya malam agar memudahkan orang-orang beraktifitas hingga tidak perlu lagi, bantuan penerang. Ayam jago terus-menerus berkukuruyuk saling bersautan disetiap halaman rumah para warga, memberitahu bahwa sekarang sudah pagi dan saatnya pergi kesawah, untuk melihat bisa ditanami apalagi. Dimana musim kemarau petani harus merubah tanamannya yang tadinya memperlukan air banyak ketika hujan sudah berkurang, harus diganti dengan tanaman yang tidak begitu banyak memperlukan air. Bagi sawah yang dekat dengan sumber air yang cukup banyak tentu adanya kemarau tidak terpengaruh, kecuali sumber airnya juga ikut kering. Tapi jika sawah yang hanya mengandalkan hujan saja maka adanya kemarau akan benar-benar kering. Tanaman demi tanaman tidak dapat dilepaskan oleh para petani mau jenis apapun itu yang terpenting dapat tumbuh disawah mereka masing-masing. Karena hanya tanaman tersebut sebagai sumber penghasilan untuk kebutuhan sehariannya.

Bapak Mardi dan istrinya Ibu Wasni sudah duduk di ruangan depan menunggu putra mereka yakni Haryo Mustiko. Untuk diberitahu acara sunatan bahwa akan diselenggarakan beberapa hari lagi dan akan ada hiburannya tayup sebagai pemeriah. Tapi Ibu Wasni tidak setuju bahwa penari tayupnya Patmi, dikarenakan suaranya yang jelek dan tariannya yang tidak begitu bagus. Ibu Wasni khawatir seperti kejadian tempo dulu tidak ada yang menonton malah sipenari dipukuli dan disuruh keluar dari arena, pertunjukan. Namun pak Mardi tetap pada pendiriannya bahwa tarian dan suara Patmi bagus, yang kejadian kemarin pak Mardi menganggap kebetulan saja dan yang bersangkutan memang lagi ketimpa sampur apes. Jadi beberapa saat waktu suami istri tersebut masih mempersoalkan siapa yang akan menjadi pemeriah, acara sunatan anak mereka. Haryo Mustiko yang ada di ruangan belakang mendengarkan kedua orang tuanya saling adu pendapat tapi dia hanya mendengarkan sambil tersenyum. Dan dia keluar dari pintu belakang memberitahu kepada teman-temannya bahwa sebentar lagi akan sunat seperti yang lainnya.

“Ia sudah pak sana kalau mau cari penari lain tapi bayar sendiri, jangan pakai duitku..” Tegas Ibu Wasni dengan wajahnya bersungut-sungut.

“Tapi bu, yang ada di desa kita hanya dia, sedangkan acara tinggal minggu depan terus mau cari kemana lagi! Persoalaannya apakah waktunya cukup kalau mencari penari lain…” Seru Bapak Mardi sambil melangkahkan kaki keluar rumah untuk menghindari istrinya, yang terus ngomel-ngomel soal penari.

Akhirnya cekcok antara suami istri itu terhenti karena pak Mardi keluar rumah pergi entah kemana. Tinggal bu Wasni yang hanya marah sendiri karena ditinggal oleh suaminya ketika dia lagi berbicara. Tetangga sebelah seorang wanita yang ingin bermain ketempatnya bu Wasni tapi sama pemilik rumah dibentak-bentak, lalu wanita muda tadi membatalkan niatnya untuk bermain. Sementara itu pak Mardi terus berjalan menelusuri jalanan di desanya tiba-tiba ia berbelok di warung yang ada dipertigaan, yaitu warungya mbok Suminah. Pak Mardi setelah ada didalam warung ia memesan kopi dan sarapan dengan lauk urap bayam dicampuri suiran daging ayam.

“Pak Mardi pasti belum sarapan di rumahkan??” Senyum genit mbok Suminah membuat pak Mardi semakin lapar saja.

“Sudah tahu kenapa tanya, sana buatkan aku sarapan..” Sambil memandangi mbok Suminah yang belum juga beranjak dari tempat duduknya.

“Ia ia..” Ucap mbok Suminah yang lalu berdiri untuk membuat kopi dan sarapan untuk pelanggannya itu.

Segarnya aroma kopi yang disodorkan mbok Suminah kepada pak Mardi tercium sampai diluar warung. Hingga burung yang diatas dahan melirik ingin ikut meminta. Setelah selesai membuatkan kopi lalu diberikan kepada pak Mardi sebagai pembeli, mbok Suminah dari arah belakang membawa sepiring nasi serta lauk yang dipesan oleh pak Mardi tadi. Pria muda yang mempunyai anak satu itu melahap cepat sekali seperti tidak makan selama empat hari. Sehabis selesai makan pak Mardi keluar dari warung duduk dibawah pohon jambu klutuk mencari tempat untuk merokok. Ketika dia lagi asik menghisap sebatang rokoknya, dari jarak yang cukup jauh ia melihat penari Patmi berjalan kearahnya. Tapi pak Mardi pangling karena orang yang dimaksudnya bertambah cantik sampai-sampai, dia mengusap matanya barangkali ia salah lihat. Sebelum sempat memastikan lebih jelas tahu-tahu penari itu sudah ada didepannya dan ketika Patmi melontarkan senyumman kepadanya, pria satu anak itu gelagapan. Karena tak percaya apa yang sama dilihatnya soalnya Patmi bertambah ayu saja, berbeda sekali dengan kemarin malam ketika di seret warga di bawa kepinggir desa.

“Lagi apa pak Mardi?” Tanya Patmi kepada pak Mardi dengan senyumman menggoda.

“Ia ia… Lagi ngerokok, la patmi darimana?” Pak Mardi bertanya balik sembari melihat orang yang menanyainya. Dan dari ujung rambut sampai ujung kakinya Patmi, tak luput pandangannya pak Mardi.

“Habis dari pasar.” Jawab singkat Patmi.

Tapi pak Mardi masih terbengong-bengong melihat wanita yang ada dihadapannya. Karena lain dari sebelumnya apa yang pernah dia lihat. Wajahnya menjadi cantik sekali dan mengeluarkan aroma harum. Senyumnya seperti ada daya tarik tersendiri menggetarkan bagi yang melihatnya. Hal itu sebab pak Mardi menjadi salah tingkah. Pak Mardi jadi senyum-senyum sendiri yang tak jelas apa yang membuatnya seperti itu.

“Ohya pak Mardi, kalau ada orang kampung yang mempunyai hajat dan lagi mencari penari tayup, panggil aku saja ya.. Sekarang tarianku dan suaraku merdu, bukan hanya disitu saja tapi pasti sipemilik hajat akan banyak tamu yang datang, aku bakal manggil temanku yang dari kota.” Jelas Patmi kepada pak Mardi.

“Serius itu Patmi??” Tanya pak Mardi dengan tidak percaya. Soalnya dia juga tahu bahwa Patmi memang penari tapi kualitasnya kurang bagus, jika dibandingkan dengan penari tayup yang lainnya.

“Kalau sampai nanti penampilanku jelek, aku tidak usah dibayar tidak papa pak Mardi.” Tandas Patmi.

“Kebetulan bagaimana pak Mardi?” Tanya Patmi.

“Anakku Haryo Mustiko minta di sunat dan aku berniat mau menanggap tayup sebagai hiburannya, awalnya aku ingin kamu saja tapi istriku gak setuju soalnya itu tadi…” Tutur pak mardi dan Patmi mendengarkan sambil tersenyum, karena dia tahu apa yang dimaksudkan.

“Begini saja pak Mardi, misalnya nanti penampilanku jelek dan gak ada tamu yang datang, pak Mardi sama istri gak usah membayar aku bagaimana dan seluruh biaya hajatan pak Mardi sekeluarga biar aku yang menggantinya, kalau penampilanku gak bagus?!” Patmi memberikan ketegasan agar Mardi lebih yaqin.

Setelah mereka berdua melakukan kesepakatan soal harganya berapa dan Patmi diberitahu harinya kapan, lalu pak Mardi pulang dengan hati gembira. Dalam bayangannya istrinya pasti akan senang sekali karena tidak perlu lagi susah-susah mencari penari kesana-kesini. Patmi sudah memberikan jaminan kalau sampai penampilannya tidak bagus dan tamu sepi maka dia siap untuk pulang tidak membawa upahnya. Sesampainya di rumah Mardi langsung menjelaskan kepada istrinya dan istrinya mendengarkan dengan seksama, lalu setuju. Selanjutnya pasangan suami istri itu melakukan persiapan dan memberi kabar kepada keluarga yang lain serta tetangga, untuk menghadiri acara sunatan putra mereka Haryo Mustiko.

Waktu terus berjalan tanpa ada yang dapat menghalangi seperti hembusan angin dari segalah arah. Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga seperangkat gamelan tersusun rapih sesuai dengan posisinya diatas panggung. Sesaat lagi pertunjukan tarian tayup akan segera dimulai. Haryo Mustiko tampak senang hatinya sedangkan pak Mardi berserta istrinya duduk berdampingan menghadap arah panggung. Patmi sendiri sudah mengenakan selendang merahnya dan dia menyalami tuan rumah serta para hadirin, dengan anggukan kepala. Setelah itu Patmi mengibaskan selendangnya diatas kepalanya sebanyak tiga kali, lalu tidak perlu berganti detik suara gamelan mulai terdengar. Pak Mardi beserta istrinya sangat senang mengetahui banyaknya tamu yang datang, bahkan halaman rumahnya sampai penuh sesak dan tamu-tamu itu menggunakan pakaian bagus seperti dari kota. Pak Mardi beserta sekeluarga sangat senang sekali dan dia beberapa kali melempar pandangan kearah istrinya, yang memberikan isyarat bahwa pilihannya soal penari yakni Patmi, tak mengecewakan sesuai dengan kata hatinya. Istrinya pak Mardi, hanya mencubit-cubit kecil suaminya itu. Ketika Patmi, melemparkan selendang kearah pak Mardi untuk diajak bekso; menari bersama. Tapi Pak Mardi, hanya menggelengkan kepalanya karena istrinya langsung melirik tajam kearahnya.

Setelah pak Mardi, memberikan isyarat bahwa dirinya tak bersedia untuk menari. Patmi, hanya tersenyum saja, karena dia tahu apa sebabnya. Lantas selendang yang dilemparkan kearah pak Mardi, diambilnya kembali dan diberikan kepada orang lain yang telah menunggu ingin menari bersama Patmi. Karena wajah Patmi, di bawah lampu panggung terlihat sangat berseri-seri membuat jantung berdesir setiap melihat senyumnya. Dan suaranya Patmi, juga berubah menjadi merdu, berbeda dengan malam yang sudah-sudah setiap dia membawakan sebuah tembang.