Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kenapa Temantin Pria Terbawa Pergi

Membumbung tinggi menggapai bintang-bintang yang ada diatas memang diinginkan oleh setiap orang siapapun dia. Tidak jarang semua jalan harus ditempuhnya agar lekas sampai di tempat yang ditujunya pertimbangan ataupun perhitungan, sudah ditinggalkan jauh dibelakang. Yang terpenting keinginan hati dapat terpenuhi meskipun penyesalan datang sili-berganti dikemudian hari. Karena terdorong nafsu yang menggebu-gebu hingga tidak sadar debu banyak berterbangan mengotori kulit kehidupannya. Semakin jauh melangkah, semakin parah debu yang menempel.

Bermula pertunjukannya di rumah pak Mardi patmi namanya banyak disebut-sebut orang khususnya bagi yang mau menggunakan jasanya. Patmi, namanya menjadi kembang bibir dimana-mana bahwa dirinya sangat luar biasa dan di setiap pertunjukannya teman-temanya yang dari kota berdatangan ikut memeriahkan si pemilik hajat. Sejak itu dia hampir tidak pernah ada di rumah setiap malamnya karena selalu ada saja orang yang menyuruhnya, untuk mengisi acara. Dapat dikatakan berbagai bentuk macam acara yang ia harus menampilkan kebolehannya dalam memainkan tarian selendang merahnya dan mengeluarkan suaranya berubah menjadi bertambah merdu. Jadi tak heran kalau Patmi, menjadi rebutan bagi orang-orang yang ingin menghadirkan dirinya di dalam suatu pesta. Saweran yang didapatkan juga banyak berlipat-lipat jika dibandingkan dengan pertunjukan yang sebelum-sebelumnya. Bukan hanya saja acara nikahan, sunatan ataupun peresmian tapi acara setahun bayi juga, mengundang dirinya. Patmi namanya mendadak melambung tinggi seperti terbawa angin puttingbeliung membuat orang bingung, jika harus memanggil dirinya untuk menyesuaikan jadwalnya. Karena pernah terjadi ada salah satu keluarga yang sudah menetapkan tanggal acara tapi disebabkan Patmi, tidak bisa hadir akhirnya dibatalkan disesuaikan dengan dirinya. Lantaran begitu banyaknya orang yang menginginkan Patmi mengisi acara ditempatnya.

Baru satu bulan Patmi namanya terbang tinggi sampai terbawa diluar batas daerahnya berita cepat menyebar dan tarifnya juga mahal diantara penari tayup, yang ada pada saat itu. Hari itu dia harus pergi kebeda kecamatan yang jarak dari tempat tinggalnya sekitar lima puluh kilo meter. Bapak Marlan sebagai yang mempunyai hajat menikahkan putrinya sengaja memanggil Patmi sebagai penghibur acara itu. Karena menurut kabar yang diterima pak Marlan dari pak Mardi, dia adalah penari yang bagus dan tidak akan mengecewakan. Karena dari itu Patmi dipanggil untuk menghibur para tamu serta keluarga yang lain. Meski harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk membayar tarif yang mahal tapi bagi pak Marlan hal tersebut tidak jadi masalah.

Pesta pernikahan putri pak Marlan yang ketiga sangat meriah sekali semua tamu undangan datang walau rumahnya jauh tapi karena persahabatan tidak jadi penghalang. Makanan yang dikeluarkan seperti tidak ada habisnya selalu ada terus diatas meja, setiap tinggal sedikit lalu diisi kembali. Makanan tradisional terlihat diseluruh meja didalam piring renggenan, kue cucur, kue onde-onde, kue nagasari dan lain-lainnya. Sambil menikmati makanan tersebut diiringi dengan campursari orgen tunggal di siang harinya, malam baru ada pertunjukan tarian tayup. Pak Marlan memang sengaja pesta besar-besaran soalnya itu putri terakhirnya dan tidak akan lagi menggelar walimahan. Jadi acara pernikahan dibuat semeriah-meriahnya orang yang dikenalnya disuruh datang semuanya. Dua mempelai yang ada di pelaminan juga tidak ada henti-hentinya menerima salam dari pengunjung, memberikan doa bagaikan air mengalir.

Hari yang meriah itu dipenuhi canda tawa riang berlalu begitu saja tidak terasa malam akan segera menyapa dan menggantikan matahari, yang harus beristirahat. Temantin pria terlihat lelah walau sudah tidak diatas pelaminan lagi ternyata teman-temannya terus saja ada yang berdatangan, mereka berbicara didepan dalam tenda yang masih kosong. Dan temantin putri sedang asik ngobrol dengan saudaranya di ruangan tengah. Temantin pria masih saja tertawa dengan temannya dan salah satu diantaranya sempat menyeletuk.

“Surya nanti malam jangan buru-buru ya..” Celetuk salah satu temannya. Seketika pecah tertawa antara teman itu, mempertawakan temantin pria yang namanya Surya.

Obrolan temantin pria dengan beberapa temannya harus terhenti karena sebentar lagi akan memasuki malam dan kebetulan disaat bersamaan penari Patmi datang. Suasana menjadi riuh seperti ikan yang di kolam diberikan obat menggelepar-menggelepar. Mereka berebut ingin saling berkenalan dan bagi para jejaka mendesak-desak karena ingin bersalaman. Pak marlan sebagai tuan rumah juga tidak ingin ketinggalan walau Patmi ketika sampai sudah menyalaminya terlebih dahulu tapi pak Marlan mencari kesempatan, biar lebih dekat lagi. Istri pak Marlan mengetahui suaminya mencuri-curi kesempatan agar dapat berdekatan dengan penari tayup itu, jadi istrinya selalu mengawasinya dengan lirikkan. Pada saat itu Surya temantin pria melihat suasana yang ramai seperti kacau balau dia memilih untuk duduk saja, dalam fikirnya nanti jika sudah orang-orang memberikan salam semuanya, dia baru berdiri menyambut selamat datang dan mengucapkan terima kasih telah hadir.

Dua puluh menit lebih Patmi masih tertahan di halaman rumah pak Marlan karena banyaknya pria jejaka yang meminta foto bareng. Pak Marlan dalam hatinya juga ingin foto bareng tapi istrinya sejak tadi selalu melirik kepadanya hingga dia takut tidak berani berfoto, dengan penari yang sudah ia bayar mahal itu. Pemuda yang ada disitu semuanya mengeluarkan gadgetnya masing-masing termasuk teman dari pengantin sendiri yang belum pulang. Surya dari tempat duduknya hanya tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya, sebenarnya dia sendiri tidak suka dengan adanya acara yang semacam itu. Sejak awal Surya meminta kepada keluarga istrinya untuk mengadakan resepsi yang sederhana saja, jika bisa pesta yang biasa-biasa, tidak perlu berlebihan ada tontonan. Tapi karena niat pak Marlan kuat untuk mendatangkan penari yang dia inginkan. Jadi Surya, hanya mengikuti saja apa yang menjadi keinginan mertua laki-lakinya itu.

Semua pemuda sudah mendapatkan berfoto bareng satu per satu tidak ada yang tertinggal. Surya melihat yang mengelilingi Patmi sudah tidak begitu banyak lagi hanya keluarga mengantarkan kedalam kamar untuk berias diri sebelum memulai pertunjukan. Niat hatinya Surya ingin berjalan menyalami penari yang menjadi rebutan tapi ketika dia mau berdiri kakinya kesemutan, hingga ia harus membatalkan niatnya itu. Patmi yang melihat hal tersebut segera menghampiri temantin pria Surya dengan tidak enak hati, Surya menyambut uluran tangan Patmi. Tanpa tidak disengaja dan tidak ada yang mengetahuinya selendang merahnya Patmi menyenggol makanannya Surya, berletak di atas piring disampingnya. Waktu itu selendangnya Patmi, berkibar-kibar tertiup angin hingga mengenai makanannya Pengantin pria tersebut. Setelah keduanya saling bersalaman Patmi langsung masuk kedalam kamar untuk istirahat sejenak. Dan Surya juga langsung masuk kedalam keruangan tengah menghampiri istrinya yang masih ngobrol asik sama sepupunya, hingga ada keramaian diluar tidak tahu.

Surya lalu mengajak istrinya untuk masuk kekamar untuk beristirahat walau waktu belum begitu malam sekitar jam setengah delapan. Sehingga pembicaraan hangat antara sepupu yang lama tidak pernah ketemu disebabkan kesibukan masing-masing, jadi harus terhenti. Surya mengikuti istrinya dari belakang mereka berdua masuk kamar dan sebentar kemudian pintu kamar tertutup rapat. Hingga nyamuk yang ada didepan kamar tidak berani untuk masuk khawatir akan mengganggu dua mempelai. Sunyi senyap tidak banyak suara didepan kamar pengantin hanya sesekali orang lewat dan kebetulan sambil ngobrol dengan teman entah siapa.

Dari arah luar terdengar suara gamelan sudah dibunyikan dan suara gendang semakin membuat orang ingin bergoyang-goyang. Patmi mulai memperlihatkan kebolehannya menari memainkan selendang merahnya dan memperdengarkan suaranya yang merdu itu. Merdunya tembang yang dibawakan Patmi terdengar sampai kedalam kamar pengantin hingga Surya ingin keluar mendengarkan secara langsung berada didepan panggung. Dia meminta izin pada istrinya untuk melihat sebentar pertunjukan tersebut, walau dengan berat hati istrinya melarang tapi akhirnya dibolehkan juga. Surya keluar dari kamar berjalan menuju panggung dan posisinya kebetulan ada di tempatnya tadi dia mengobrol sama teman-temannya, dia lalu duduk disitu. Karena perutnya terasa lapar dan sejak tadi belum makan, lalu dia teringat makanan yang ada diatas meja disamping kursi dimana ia duduki itu. Setelah ditengok ternyata masih ada dan menanti untuk dinikmati, lalu tanpa sungkan-sungkan segera diambilnya terus dikunyah, sebentar kemudian makanan yang ada di atas piring itu habis masuk kedalam perutnya tanpa tersisa satupun. sembari pandangannya lurus kedepan, kearah Patmi menari. Disaat yang bersamaan pandangan mereka berdua bertatapan dari mata Patmi mengeluarkan kekuatan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Waktu Surya bersalaman dengan wanita penari yang ada didepannya itu, tanpa dia sadari dirinya selalu di awasi oleh Patmi. Karena Patmi sendiri, lalu teringat dengan orang yang sangat dia cintai tapi sebab suatu hal, mereka akhirnya tak bisa bersama. Soalnya wajahnya Surya, mirip dengan seorang pria yang pernah menghuni hatinya Patmi. Oleh dari itu timbul di hatinya Patmi, untuk memiliki Surya.

Surya melihat patmi menari-nari dihadapannya bagaikan bidadari turun dari kayangan dan aroma harum, yang dipancarkan dari selendang merahnya merasuk kedalam jiwa pengantin pria melalui tarikan nafasnya. Setiap pandangan matanya membentur senyummannya penari yang ada didepannya perasaannya seperti terbawa terbang kebalik awan. Lenggak-lenggok tarian yang diperagakan Patmi seperti menyedot hati dan fikirannya Surya, ketika istrinya menghampiri mengajak dirinya untuk kekamar tapi ditolaknya, istrinya disuruh terlebih dahulu nanti dirinya menyusul. Tanpa curiga istrinya membalikan badan pergi kekamar sendiri dan gadis yang selama dua tahun mempererat tali keseriusan hubungan mereka berdua, pada ujungnya berakhir di pelaminan malam itu. Tapi temantin putri tidak mengetahui apa yang sedang bergejolak dalam jiwa suaminya.

Malam terus bergulir mendekati dini hari dan sebentar lagi pagi akan tiba. Pertunjukan tarian Patmi harus berakhir sesuai dengan kesepakatan sebelum jam empat pagi pertunjukan sudah selesai. Patmi segera berkemas peralatannya dimasukan kedalam tas dan berikutnya dia berpamitan kepada tuan rumah. Setelah itu dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir persis dibelakang panggung. Sebelas menit mobil Patmi menelusuri jalanan kampung, lalu memasuki jalanan yang kanan kirinya sawah, disitu dia melihat seorang pemuda memperhentikan dirinya. Karena waktu masih gelap sang bagaskara belum menampakan sinarnya jadi iapun harus keluar dari dalam mobilnya untuk melihat lebih jelas. Ketika diperhatikan lebih dekat Patmi kaget ternyata Surya mantu dari pak Marlan.

“Kamu kenapa ada disini? Dan bukannya kamu mantunya pak Marlan kan?” Tanya Patmi sembari memperhatikan lebih dekat lagi biar lebih jelas ia khawatir salah lihat.

“Ia nyi, aku adalah mantu pak Marlan.” Singkat Surya menjawab pertanyaan itu.

“La terus kamu ngapain disini?” Patmi mengulangi pertanyaannya lagi.

“Aku mau ikut kamu nyi dan aku harap kamu mau hidup bersamaku..” Maksud tujuan Surya menghadang Patmi.

“La terus bagaimana sama istrimu? Kamu kan baru saja nikah.” Patmi menjelaskan sembari memegang wajahnya Surya.

“Biarkan saja nyi.” Jawab Surya dengan singkat dan tanpa ada beban yang menganjalnya.

“Terus apa yang mau kamu berikan kepadaku, kalau kamu mau hidup samaku?” Tanya Patmi sambil memandangi wajahnya Surya.

“Seluruh apa yang ku punya akan, ku berikan padamu nyi.” Ucap Surya yang dia tidak lagi menyadarinya.

Akhirnya mereka berdua masuk kedalam mobil dan Surya meninggalkan luka yang mendalam dihati dimana dia berjanji akan sehidup semati. Di rumah pak Marlan pagi itu sangat ramai sekali raut wajah kebingungan terlihat disetiap sudut ruangan. Karena pengantin pria tiba-tiba menghilang tidak tahu kemana arahnya dan hilangnya temantin pria berbarengan dengan Patmi pulang tadi pagi. Putri pak Marlan terus saja menangis tiada henti didalam kamarnya dan para orang tua juga bingung sudah dicari disana-sini tapi juga tidak ketemu. Keluarga dari mempelai pria juga kebingungan harus mencari kemana lagi dan sampai-sampai semua temannya Surya, yang dikenal oleh keluarganya dihubungi satu per satu, barangkali ada yang mengetahui. Tapi setelah mereka ditanyai, malah ikut bingung kenapa sahabat yang dikenal sangat baik itu tega menggoreskan luka mendalam di hati orang paling dekat dalam hidupnya. Bahkan ada yang berinisiatif untuk melaporkan kepada pihak yang berwajib minta bantuannya. Tetapi karena belum ada 24 jam kehilangannya Surya, jadi niat tersebut di urungkan. Namun tiba-tiba ada orang tua sudah sepuh, beliau dari keluarga mempelai pengantin putri, tepatnya pakdenya Bapak Marlan. Orang tua sepuh itu, lalu memberitahu kepada yang ada disitu semua bahwa temantin pria telah dibawa Patmi. Dan orang sepuh tersebut juga menjelaskan apa sebabnya, agar tak ada penantian untuk temantin putri.