Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

mas ingat anakmu

Kekuatan arus senyuman menggoda wanita memang dapat menghanyutkan hati setiap pria, yang telah berumah tangga maupun masih sendiri. Hingga mampu menyeret sampai ketengah lautan asmara. Tetapi jika pria itu belum mempunyai pasangan tak jadi masalah. Namun, sebaliknya apabila telah terikat tali janji suci kesetiaan di dalam lembaga pernikahan. Hanya kekuatan iman serta kokohnya tiang kesetiaan yang dapat membuatnya tak mengalami terombang-ambing di tengah lautan asmara wanita lain. Seperti siang hari itu seorang pria yang baru saja datang kerumahnya Patmi. Terseret gelombang senyuman dan rayuannya Patmi, sehingga tenggelam di dalam lautan asmaranya.

Dodi, biasa Patmi memanggil pria yang lagi rebahan di samping duduknya. Pria yang tahun lalu menikah dan baru saja mempunyai anak usianya sekitar satu bulan itu. Telah hanyut terbawa derasnya gelombang asmaranya Patmi hingga tak kuat untuk kembali berenang ketepian. Dua bulan mereka bertemu ketika di dalam suatu acara waktu Patmi, menjadi bintang tamu. Dodi, sebagai panitia acara yang kebagian untuk mencari hiburan. Lalu mendapatkan informasi bahwa ada seorang penari tayup yang ternama. Setelah Dodi, mendapatkan nomer telponnya Patmi, langsung dihubungi untuk tanya-tanya lebih jauh. Tetapi Patmi, tak bisa pentas seperti biasanya semalaman atau walau hanya dua jam saja. Dikarenakan Patmi, juga ada jadwal lain yang tempatnya cukup jauh. Jadi hanya bisa pentas selama satu jam saja. Namun hal itu tak menjadi masalah untuk Dodi dan teman-temannya.

Hari itu dia kerumahnya Patmi, untuk melepaskan rasa rindunya karna tak bertemu beberapa waktu lamanya. Disebabkan anaknya yang masih kecil demam tinggi dan menangis terus sehingga mengharuskan dirawat di rumah sakit. Patmi, sejak tadi hanya diam saja ketika Dodi datang kerumahnya, tanpa ada ekspresi senang atau gembira yang diberikannya sebagaimana biasanya. Tetapi malah sebaliknya dari pandangan matanya Patmi, penuh tanda tanya yang diarahkan kepada dirinya. Sehingga mengundang rasa ingin tahu yang terlintas di dalam benaknya Dodi. Ada hal apa yang membuat sedemikian rupa orang yang disukainya seperti itu.

“Dik Patmi, kenapa sejak aku datang tadi kok sikapmu berubah tak seperti biasanya?” Tanya Dodi, yang terus menatap matanya Patmi.

“Aku mau tanya mas.” Ucap Patmi, dengan suara datar.

“Mau tanya apa, jangan ragu.” Jawab Dodi, sembari minum wedang jahe campur susu yang disuguhkan sejak dia datang tadi.

“Mas Dodi serius apa tidak sama aku?” Tanya Patmi, yang mulai melontarkan isi benaknya.

“Kenapa dik Patmi, bertanya seperti itu?” Tanya balik Dodi, yang tak menggeser arah pandangannya kemata Patmi.

Sejenak waktu menjadi hening tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya Patmi. Hanya riuhnya burung yang ada diluar rumahnya Patmi, saling bersautan entah memberika informasi apa kepada temannya. Belum lagi suara kokokkan ayam yang menyumbang bertambah semakin meriahnya suasana diluar rumah. Tetapi lain halnya yang ada di dalam rumah masih saja diam tak ada suara terdengan walau hanya sepatah kata. Sejurus kemudian terlihat dari bibirnya Patmi, bergerak-gerak seperti ada yang mau diucapkan.

“Begini mas Dodi, aku tahu kalau mas sudah mempunyai keluarga, jadi aku ingin bukti seberapa seriusnya mas Dodi kepadaku.” Tutur Patmi.

“Lebih baik dik Patmi, katakan saja yang sejelasnya, jangan membuat aku bingung, aku belum faham apa yang dik Patmi maksudkan.” Jelas Dodi.

“Begini mas, kalau memang mas Dodi serius suka denganku, apa buktinya?” Tanya Patmi.

“Apa yang aku berikan selama ini belum cukup?”Tanya Dodi.

“Aku minta apa yang mas Dodi miliki berikan kepadaku semuanya.” Tegas Patmi.

Petir menggelegar di waktu pagi hari sehingga membuat banyak mata ngebelalak lebar. Tak jauh bedanya dengan Dodi, mendengarkan rentetan kalimat yang diucapkan Patmi. Membuatnya terhenyak berdiri dari tempat duduknya. Tapi orang yang ada dihadapannya hanya duduk tenang-tenang saja seperti tak terjadi suatu apapun. Dari raut wajahnya Patmi, yang sebenarnya dapat dikatakan sudah tua berusia setengah abad. Tetapi karna Dodi, terkena pengaruh pengasihan pusaka semar mesemnya Patmi, jadi tetap terlihat masih muda bagaikan usia 30 tahun. Lalu, Dodi duduk kembali disampingnya wanita setengah abad itu. Sebelum berbicara Dodi, mengambil minumannya tadi yang tak dihabiskan. Setelah minumannya direguk sampai tetesan air yang terakhir dia angkat bicara.

“Berarti aku harus memberikan semuanya kepada dik Patmi?” Tanya Dodi, untuk menegaskan agar tak salah pengertian.

“Ia.” Jawab singkat Patmi.

“Ok, kalau begitu, aku akan pulang sekarang untuk membuktikan kepada dik Patmi, bahwa kalau aku memang serius.” Ujar Dodi.

Tetapi Patmi, diam saja tak memberikan jawaban apapun hanya pandangan matanya menatap lekat-lekat kearah matanya Dodi. Sedangkan pria yang dipandanginya itu membalas tatapan dengan pandangan kosong. Ketika Patmi, memandangi matanya Dodi, diam-diam tangannya menyilinap kepinggangnya sendiri seperti ada yang dipegangnya tak lain adalah pusaka semar mesem. Sehingga energinya tertransfer melalui pandangan mata. Dan selanjutnya menyebar keseluruh jiwanya Dodi hingga membuatnya lupa segalanya. Bahkan lupa bahwa dirinya mempunyai anak masih kecil dan istri yang sangat dicintainya baru nikahi satu tahun lalu. Setelah keduanya saling berpandangan mata, lalu Dodi berpamitan untuk pulang mengambil apa yang dipinta Patmi. Dodi, lalu melangkah keluar rumah menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya Patmi. Dan si pemilik rumah hanya mengantarkan sampai di depan pintu saja. Seiringnya angin siang hari yang panas membuat Dodi mempercepat laju mobilnya agar segera sampai rumah.



***

Roda mobil yang dikendarai Dodi terus berputar melaju kencang seperti sedang mengejar sesuatu sangat penting. Sampai-sampai ban belakang dua-duanya kempes tak dirasakan. Dalam hatinya hanya ingin segera sampai rumah. Memang tak lama kemudian dia sampai juga dirumahnya dan istrinya segera menyambutnya dengan senyuman cinta yang tulus, bagaikan angin dipagi hari. Fitria, nama istrinya Dodi, yang dinikahinya setahun lalu ketika mereka berdua selesai kuliah. Keduanya kuliah di jurusan yang sama tapi berbeda kampusnya. Awal ketemu keduanya dari acara bakti sosial yang sama-sama menjadi relawan. Namun, tak lama dari pernikahannya langsung mempunyai momongan. Selain itu usahanya Dodi, juga lancar toko langganan yang memesan barang kepadanya bertambah banyak saja. Jadi kebahagiaan keluarga kecil itu lengkap sudah.

Sesampainya di rumah Dodi, langsung menuju keberangkas yang disimpannya. Dimana di dalam berangkas tersebut dirinya menyimpan uang yang hasil dari usahanya. Istrinya Fitria, hanya mengikuti suaminya itu dari belakang. Sedangkan Dodi, tahu kalau dirinya diikuti sama istrinya tapi tak diperdulikan, tetap terus berjalan menuju berangkas. Setelah sampai di tempat penyimpanan berangkasnya Dodi, lalu membuka kunci dan memasukan kata sandi agar dapat dibuka. Dengan cekatan Dodi, langsung mengambil seluruh isi berangkas itu ada sejumlah uang, emas batangan dan benda berharga lainnya yang bisa segera dijual. Fitria, lalu menghampiri suaminya itu dengan penuh tanda tanya.

“Mas, itu semua kenapa dikeluarkan?” Tanya Fitria.

“Aku mau kerjasama sama temanku, ini semua untuk modalnya.” Jawab Dodi, yang memasukan barang-barang itu kedalam tas.

“Sama teman mas yang siapa? Kok gak bilang aku sebelumnya?” Tanya Fitria, yang masih saja memperhatikan suaminya dengan cepat memasukan barang itu kedalam tas kecil.

“Diam!!!” Bentak Dodi, kepada Fitria.

Fitria, mendapatkan perubahan sikap dari suaminya itu dia langsung merasa tak enak hatinya. Prasangka yang tak baik berdatangan berdesak-desakan di dalam perasaannya. Sehingga tanpa sebab air matanya menetes berlinangan membasahi pipinya. Dodi, tak mereken ketika istrinya bertanya sambil mengeluarkan air mata. Dodi, tetap saja mengeluarkan isi berangkas hingga bersih tak ada yang tersisa. Lalu, Bapak satu anak itu menutup tasnya rapat-rapat dan langsung berdiri untuk kembali keluar. Tetapi istrinya Fitria, menghadang langkah kakinya. Sehingga membuat dia harus menghentikan langkahnya.

“Mas, aku pinta kamu jujur kepadaku, itu barang-barang yang ada diberangkas kenapa kamu ambil semuanya?” Tanya Fitria lagi, yang belum puas dengan jawaban Dodi tadi untuk bekerjasama dengan temannya.

“Kamu nih banyak tanya, aku kan sudah bilang kalau aku mau kerjasama sama temanku.” Jawab Dodi, dengan wajah garang.

“Teman mas yangmana? Kenapa mas kok gak bilang sama aku sebelumnya mas?” Tanya Fitria lagi, yang kali ini air matanya tak dapat dibendung.

“Kenapa sih kamu jadi cerewet kaya gini.” Saut Dodi.

“Bukan begitu mas, aku ini kan istrimu, jadi paling gak aku harus tahu apa yang kamu lakukan, siapa tahu aku bisa memberikan masukan kepadamu mas.” Ujar Fitria.

“Diam!!!!!!!!” Teriak Dodi dan sambil melayangkan kepalan tangannya kearah wajah Fitria.

Fitria, yang tak mengira suaminya akan seperti itu dia tersentak kaget. Apalagi ketika kepalan tangannya Dodi, mendarat di wajahnya bertambah tak percaya bahwa suaminya dapat melakukan seperti itu. Pecah tangisan Fitria, terdengar bagaikan pecahan ban yang meledak. Bahwa orang yang sangat dicintainya selama tujuh tahun lamanya tapi kini mendadak berubah. Enam tahun berpacaran baik-baik saja dan satu tahun menikah juga tak ada apa-apa. Tetapi kenapa semuanya menjadi berubah. Dodi, lalu kembali melangkahkan kaki keluar rumah. Tetapi Fitria, segera memegangi tangan suaminya itu.

“Mas, jangan pergi dulu sebelum kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Fitria, sambil memegangi erat tangannya Dodi.

“Aku kan sudah bilang, kalau aku mau kerjasama sama temanku apa kamu gak dengar!!!!!! Istri gak dengar apa kata suami.” Jawab Dodi seperti tadi.

“Aku yaqin mas kalau kamu itu lagi berbohong sama aku, pasti kamu punya wanita simpanan diluar sana.” Tutur Fitria. Tetapi Dodi, tak menjawabnya tetap terus berjalan keluar rumah menuju kemobilnya.

“Katakan mas siapa wanita murahan itu? Sehingga membuatmu menjadi seperti ini?” Tanya Fitria, mendadak wajahnya Dodi berubah ketika mendengar ucapan dari Fitria, menyebut wanita murahan.

“Lebih baik kamu diam!!!!!!!!!!!” Kali ini Dodi, benar-benar marah sampai hati dia mendorong fitria hingga tersungkur jatuh kebelakang.

Dengan waktu bersamaan anaknya yang masih kecil menangis terbangun dari tidurnya. Sepertinya mengetahui apa yang sedang terjadi di antara kedua orang tuanya. Fitria, lalu bangun dari tempatnya terjatuh tadi dan masuk kedalam kamar untuk mengendong anaknya yang menagis. Anak kecil yang lucu itu lalu diam di dalam dekapan Ibunya jadi tak menangis lagi. Sedangkan Dodi, mengambil tasnya yang mental jauh ketika dia mendorong istrinya. Setelah isi tas dilihat tak ada yang berkurang Dodi, lalu kembali lagi berjalan keluar pintu. Tapi didepan pintu dia telah dihadang sama istrinya yang menggendong anaknya. Jadi mau tak mau Dodi, harus menghentikan langkahnya dan ketika dia melihat istrinya menggendong anaknya ekspresinya biasa saja.

“Lihatlah mas yang aku gendong ini, kalau kamu mas boleh memukulku tapi lihatlah anak kecil ini yang wajahnya mirip denganmu.” Tutur Fitria.

Sejenak Dodi, termangu melihat wajah anaknya yang memang mirip dengannya. Hatinya mendadak tersentuh sedih apalagi yang telah dilakukan kepada istrinya baru saja. Tetapi Wajahnya Patmi, tiba-tiba hadir dipelupuk matanya Dodi. Dan suaranya Patmi, juga terdengar di telinganya seakan-akan segera menyuruhnya datang untuk memenuhi apa permintaannya. Sikapnya Dodi, menjadi berubah bertambah kelam terlihat dari raut wajahnya dan tatapan matanya yang mengarah kepada istri serta anaknya. Fitria, yang melihat perubahan sikap suaminya itu menjadi menggigil ketakutan dan dia semakin bertambah erat mendekap anaknya.

“Minggiiiiir!!!!!!!!” Teriak Dodi, yang sambil menyepakan kakinya kearah istrinya.

Seketika Fitria dan anaknya terjatuh membentur pintu. Bocah kecil itu yang belum mengetahui apa-apa terjatuh hingga sampai keluar rumah. Fitria, yang melihat anaknya terjatuh sampai sedemikian rupa langsung berdiri untuk memukuli suaminya itu. Sebagai penyebab anaknya terjatuh keluar rumah. Sambil menangis Fitria terus menyerang suaminya. Tetapi orang yang dihujani pukulan itu tetap saja berjalan menuju mobil. Tak memperdulikan tangisan dari istri dan anaknya. Ketika sudah sampai di dekat mobil lalu mendadak Dodi, membanting istrinya kearah anaknya tadi terjatuh. Dia sendiri langsung bergegas masuk kedalam mobil dan segera melajukan kencang-kencang kendaraan roda empat itu. Tanpa mendengarkan tangisan pilu dari anaknya dan istrinya. Fitria, lalu meraih anaknya didekapnya dan diciumnya bocah kecil itu, yang masih menangis. Keduanya menangis bersama-sama kenapa harus terjadi lelakon yang tak diinginkan.

“Sabar ya nak, semoga Papahmu segera sadar dengan apa yang dilakukannya.” Tutur Fitria, sambil terus mengelus-ngelus anaknya yang masih saja menangis. Lalu Ibu muda itu membawa anaknya masuk kedalam rumah, untuk digantikan pakaiannya yang kotor terkena tanah di halaman.



***

Rasa tak sabar terus mendorong Dodi, untuk segera sampai di tempatnya Patmi. Sehingga mobilnya berlari kencang seperti ketika dia baru pulang dari rumahnya Patmi tadi. Bannya yang bocor tak disadarinya. Yang tadi hanya ban belakang saja tapi kini ban depannya juga tak mau ikut ketinggalan bocor. Dan ketika melintas di rel kereta, mendadak mesin mobilnya mati dinyalakan beberapa kali tak mau hidup. Ketika dia mau turun untuk mengecek kondisi mesin dari arah samping kanan kereta melaju kencang jaraknya kira-kira tinggal 5 meter lagi. Karna begitu paniknya Dodi, tak sempat untuk menyelamatkan diri. Walau sejak tadi sudah ada peringatan klakson kereta. Tetapi karna di dalam fikirannya hanya ada Patmi semata, jadidia tak mendengarnya. Masih di dalam mobil Dodi dan kendaraannya itu terseret kereta sampai jauh sekitar 20 meter. Mobilnya sampai terbalik posisinya. Tetapi tak perlu waktu lama tim efakuasi segera datang untuk menolong.

Sebelum tim datang untuk menolong Dodi, yang selanjutnya di bawa kerumah sakit. Tetapi dia masih sempat untuk membagikan lokasinya ada dimana dikirimkan kepada Patmi. Kalau mobilnya mogok di tengah rel kereta. Patmi, yang mendapatkan pesan seperti itu langsung menuju ketempat tujuan. Karna mengetahui jalan pintas agar cepat sampai tak butuh waktu lama datangnya lebih dulu dibandingkan tim efakuasi. Sehingga Dodi, masih sempat memberikan tas yang berisikan barang berharga semuanya kepada Patmi. Orang yang menerima tas itu hanya tersenyum saja ketika membuka dan melihat isi tas.

“Bawa aku,, kerumah sakit,, dan temanni aku di rumah sakit,,” Ucap Dodi dengan terbata-bata meminta kepada Patmi, untuk mendampinginya kerumah sakit.

“Tenang saja, nanti sudah ada tim yang akan membawamu. Sebelumnya makasih ya sama yang ada di dalam tas ini.” Ucap Patmi, sembari tersenyum kepada Dodi.

Tetapi sebelum menjawab pria malang itu keburu tak sadarkan diri. Sedangkan Patmi, segera pergi dari tempat itu tak ada yang mengetahui menyelinap disela-sela area disekitar. Secepat kilat tim medis mengangkat tubuh Dodi, dibawa masuk kedalam ambulan. Dan tak beberapa lama ambulan tersebut sampai di rumah sakit. Setelah dilakukan pemerisaan dan pingsan untuk beberapa saat lamanya, akhirnya Dodi sadar juga.

Kebetulan suster yang sedang mengecek kondisinya Dodi, langsung menghampiri pasiennya. Ternyata Dodi, meminta telpon genggam karna dia mau menghubungi istrinya Fitria. Suster langsung keluar kamar untuk menghubungi bagian terkait karna pasien minta telpon genggam untuk menghubungi istrinya. Lalu, satu orang masuk kedalam kamar menghampiri Dodi yang berbaring lemas tak berdaya. Orang itu lalu menyodorkan telpon genggam yang diminta oleh pasien. Karna Dodi, masih kuat untuk memegang telpon genggam jadi dia sendiri yang memencet nomernya. Dari seberang telpon terdengar suara wanita yang tak lain adalah Fitria.

“Halo Mah, ini aku suamimu Dodi, aku ada di rumah sakit kecelakaan mobilku terseret kereta, jadi kamu segera kesini ya.” Sanbil terbata-bata dan suaranya yang tak begitu jelas. Dodi, meminta istrinya untuk secepatnya datang kerumah sakit.

“Maaf mas, aku sekarang lagi di dalam perjalanan kerumah orang tuaku. Dan barang kali pernikahan kita cukup sampai disini saja, kamu silahkan bersama wanita pilihanmu dan aku biarkan akan merawat anak kita.” Ucap Fitria, yang langsung menutup sambungan telponnya.

Jawaban yang diberikan Fitria kepada Dodi suaminya. Membuat bertambah sakit tak hanya fisiknya saja tapi jiwanya. Rasa penyesalanpun mulai megerayangi hatinya berlahan-lahan tetesan air matanya mengalir melewati luka-luka yang ada di wajahnya. Perihnya luka yang dilintasi air mata tak begitu terasa. Tetapi kenyataan yang tak dapat dihindari benar-benar sangat perih sekali. Sehingga Dodi, tiba-tiba berteriak tapi tak keluar suaranya disebabkan Malaikat maut mendahuluinya. Tanpa ditunggui oleh istri tercintanya maupun anaknya yang masih mungil-mungilnya. Semua itu hanya mengikuti asmara yang tak jelas dan melampoi batas.