Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

pusaka semar mesem

Patmi setelah pulang dari kuburan menghadiri acara pemakaman pesaingnya, ketika masih hidup. Patmi duduk terdiam di ruangan tengah rumahnya. Seperti ada yang sedang difikirkannya. Dahinya terlihat berkerut-kerut menandakan dia lagi berfikir keras. Yang difikirkannya tak lain adalah pusaka Semar Mesem. Milik mbahnya Marni, yang telah terkenal dapat memikat siapa saja. Dan dia ingat katanya dulu pusaka itu miliknya nyi Julung Senggoro, yang di curi oleh mbahnya Marni. Patmi ingin memilikinya sebagai tambahan agar dirinya semakin terkenal. Setelah berfikir beberapa saat lamanya dia tak menemukan jalan keluarnya. Akhirnya mau tak mau, dia harus meminta bantuan kepada Nyi Julung untuk mendapatkannya. Dan tak ada orang lain yang dipandangnya dapat membantunya. Dan lagipula pusaka tersebut disimpan dimana juga tak ada yang mengetahuinya. Karena Marni hanya di rumah berdua sama mbahnya itu.

Patmi hari itu hanya di rumah saja sembari menunggu malam tiba. Rencananya nanti malam dia mau memanggil Nyi Julung untuk dimintai bantuannya. Senjapun telah datang matahari segera menghilang dari hadapan dan berganti malam. Ketika waktu benar-benar telah gelap Patmi segera melakukan persiapan untuk mendatangkan, Nyi Julung kerumahnya. Sejak sore hingga tengah malam Patmi tak keluar dari kamarnya. Dan dia sampai membatalkan jadwal dengan orang, yang memintanya untuk menghibur peresmian perusahaannya. Tetapi Patmi memberikan alasan kalau dirinya lagi gak enak badan.

Didalam kamarnya Patmi sudah duduk bersila sebagaimana jika dia mau memanggil, Nyi Julung. Mantra khusus untuk memanggil Nyi Julung, sudah dia rapalkan tak ada yang terlupakan. Namun karena itu di rumahnya sendiri, jadi Patmi juga membakar kemenyan, yang menjadi kesukaan junjungannya. Walau tak tampak jelas bayangan hitam berdiri didepannya Patmi. Tetapi dia hanya diam saja dan masih menutup matanya. Semakin lama bayangan hitam tersebut terlihat jelas, ternyata Nyi Julung yang datang bediri dihadapan hamba sahayanya itu. Lalu makhluk ghaib tersebut memanggil dengan suaranya yang dingin, menyebut nama Patmi. Dan orang yang dipanggil namanya itu langsung membuka matanya serta menghaturkan sembah sambil mengucapkan selamat datang.

Suara dingin Nyi Julung bertanya kepada hambanya itu kenapa memanggilnya, “Patmi, ada apalagi kamu memanggilku…”

“Maaf Nyi, murit memanggil kembali, karena ada yang mau murit katakan.” Ucap Patmi.

Tanpa ada ekspresi Nyi Julung segera menyuruh Patmi, untuk mengatakan apa yang dimaunya. “Cepat kamu katakan.”

Lalu Patmi segera mengatakan apa adanya tanpa harus ditutupi. “Nyi, aku ingin pusaka milik mbahnya Marni, yaitu Keris Semar Mesem, apakah Nyi bersedia menolong aku?” Tutur Patmi.

“Baik kalau begitu.” Dengan singkat dan tanpa mengatakan apapun Nyi Julung. Menyanggupi apa yang menjadi permintaan hamba setianya itu. Dan Patmi merasa senang karena apa yang diinginkan, akan terwujud. Nyi Julung lalu menghilang dari depan Patmi.

Di sunyinya malam tak ada suara yang terdengar walau hanya jangkrik. Di rumahnya Patmi malam itu benar-benar sepi sekali. Tokek yang ada didinding hanya diam saja dan cicak juga ikut, menyembunyikan suaranya. Seperti ada sesuatu hal yang menakutkan. Patmi sendiri duduk di ruangan tengah dibawah temaramnya lampu. Karena dia hanya menyalakan lampu teplok saja. Sedangkan lampu yang menggunakan energi listrik tak dinyalakan. Memang sejak dia menjadi abdi Nyi Julung Senggoro, kehidupannya menjadi berubah salah satunya. Jika malam hari rumahnya tak ada penerang, yang benar-benar terang seperti rumah pada umumnya. Lampu penerang yang dari listrik, hanya dinyalakan ketika ada tamu datang. Itupun ketika tamu pulang rumahnya kembali gelap atau lampu teplok. Sehingga tampak dari luar terlihat menyeramkan. Apalagi jika ada didalamnya keringat dingin segera membasahi seluruh badan.

Sembari menanti kedatangan nyi Julung Senggoro, Patmi duduk di kursi jati yang berukiran indah. Dia hanya duduk seorang diri rambutnya yang panjang, dibiarkan terurai sampai sebatas pinggang. Hanya harap-harap cemas yang menemaninya. Hal itu dapat diketahui dari pandangan matanya. Selalu melihat ke arah keluar melalui cendela yang tak ditutupnya. Malam itu bintang tak muncul dan rembulan juga tak memperlihatkan dirinya. Angin yang selalu mengembara sepanjang malam, tak berani menyelinap masuk kedalam rumahnya Patmi, walau hanya mengintip saja. Lurus kedepan pandangan matanya seperti dibalik malam ada sesuatu yang akan menghampiri dirinya. Sehingga sikap duduknya bagaikan orang, yang akan menerima tamu dari jauh dan istimewa.

Namun demikian Patmi sempat kaget ketika dia mendengar seperti ada yang terjatuh. Setelah dilihatnya ternyata seekor cicak jatuh tepat diatas meja, yang ada didepannya. Tetapi pandangan matanya belum berpindah masih memperhatikan cicak yang terjatuh itu. Dan cicak sendiri mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang, yang membuatnya takut lalu terjatuh. Dalam hati cicak kenapa harus terjatuh segala tapi cicak tak berani untuk menyuarakan, suara hatinya. Jadi hanya diam saja dan sambil menggeliat pelan-pelan dia merangkak, meninggalkan tempat dimana tadi terjatuh. Dan Patmi hanya membiarkan saja. Karena yang ditunggunya bukan cicak itu, melainkan Nyi Julung Senggoro, yang dia harapkan dengan membawa keinginannya. Yakni pusaka Semar Mesem milik mbahnya Marni. Yang telah meninggal juga karena keinginannya dan dibantu oleh Nyi Julung Senggoro.

Waktu hampir menjelang pagi walaupun suara kokok ayam belum terdengar. Tetapi jam bandul yang ada didinding rumahnya Patmi, sudah berbunyi dua kali. Sejak tadi dia tetap duduk di kursi jati tak berpindah walau hanya sekedipan mata. Dia mulai berfikir apakah kali ini akan gagal apa yang diinginkannya. Kenapa junjungannya belum juga muncul didepannya dengan membawa apa yang diharapkannya. Tapi hal itu hanya melintas di benaknya Patmi saja. Dia tak berani untuk mengutarakannya walaupun hanya dalam hati. Niat ingin menyusul tiba-tiba hinggap dalam fikirannya. Patmi khawatir jangan-jangan junjungannya itu mengalami kesulitan. Karena tak menutup kemungkinan rumah mbahnya Marni, dipasangi pagar ghaib. Meskipun si mbah dan cucu itu sudah meninggal dunia. Tetapi mbahnya Marni memang terkenal sakti, tak hanya dikenal di desanya, namun sampai keluar desa. Banyak orang yang meminta bantuannya untuk mengatasi segala macam persoalan terutama hal yang terkait dengan ghaib.

Sebelum Patmi beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba, dia mendengar ada suara yang memanggilnya. Tepat ada dihadapannya. Dia sudah tak asing lagi dengan suara itu. Tetapi ketika ditunggu beberapa saat sosok yang sudah akrap dikenalnya belum juga, memperlihatkan wujudnya. Patmi jadi bermacam-macam fikirannya soalnya tak seperti biasanya. Dan dia sempat mendengar suara itu batuk-batuk, beberapa kali. Tapi Patmi belum berani memanggil nama makhluk itu, dia khawatir akan kesalahan. Setelah ditunggu selama sembilan tarikan nafas akhirnya, yang ditunggu memperlihatkan sosoknya. Patmi segera buru-buru menahan seruannya ketika melihat Nyi Julung yang sudah berdiri didepannya. Patmi hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya karena Nyi Julung celemongan darah di mukanya, dadanya, tangannya dan sebagian anggota tubuh lainnya. Tetapi dia tak berani bertanya apa yang telah terjadi. Akhirnya Patmi hanya duduk diam menunggu apa yang akan dikatakan Nyi Julung kepadanya.

Nyi Julung memberikan sesuatu kepada Patmi dan dengan terbata-bata makhluk ghaib itu mengatakan sesuatu. “Patmi, coba kamu lihat bagaimana keadaanku ini..”

“Maaf Nyi, saya tidak tahu, memang apa yang terjadi?” Tanya Patmi dengan keherannan dan belum tahu apa yang telah terjadi.

Dengan tatapan tajam ke arah abdinya itu Nyi Julung Senggoro menceritakan apa yang dialaminya. “Perlu kamu ketahui, untuk mengambil pusaka ini aku harus bertarung dengan penunggu rumah pesaingmu, yang sudah mati itu. Ternyata rumahnya dijaga dengan pagar ghaib yang kuat dan dijaga beberapa makhluk lainnya, jadi aku harus bertarung bersama mereka sekaligus harus menembus benteng pagar rumahnya.”

Patmi hanya bengong saja mendengarkan penjelasan Nyi Julung Senggoro. Karena dia sendiri juga tak tahu bahwa mbahnya Marni, sampai segitunya. Yang dia ketahui hanya sakti. Tetapi Patmi tak tahu kalau mbahnya Marni, juga bisa berhubungan dengan makhluk ghaib. Sehingga junjungannya Nyi Julung Senggoro sampai dibuat seperti itu rupa. Tapi Patmi tak habis fikir kenapa kemarin Nyi Julung bisa mengakhiri mbahnya Marni. Dan kenapa sekarang bisa seperti ini.

“Maaf Nyi tapi kenapa kemarin Nyi bisa membunuh mbahnya Marni?” Tanya Patmi.

“Yang perlu kamu ketahui Patmi, kemarin itu rumahnya dia tak ada yang menjaganya. Baru malam ini ada yang menjaganya. Jadi aku pamit untuk sementara waktu, mempulihkan kekuatanku lagi, jagalah dirimu baik-baik.” Tutur dan pesan Nyi Julung Senggoro kepada Patmi. Karena dia tak akan muncul untuk beberapa saat sampai luka-lukanya sembuh.

Patmi hanya mengangguk pelan, “Ia Nyi, aku tidak akan menganggumu.”

Setelah Nyi Julung Senggoro memberikan sebilah keris kepada Patmi, lalu menghilang. Dan Patmi sendiri menimang-nimang pusaka yang menjadi keinginannya sembari berkata di dalam hati. “Sekarang benda ini menjadi miliku dan namaku akan bertambah bersinar-sinar.” Patmi, lalu tertawa sendiri masih duduk di kursi jatinya. Karena waktu hampir pagi dia masuk kedalam kamar untuk menyimpan pusaka itu dan beristirahat, semalaman tak tidur walau hanya sekejap saja.