Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Selendang Pengasihan

Malam mulai beranjak dari tempatnya menggantikan terangnya sang surya untuk beristirahat sejenak setelah seharian menemani aktifitas seluruh manusia, yang ada dibawahnya. Berlahan-lahan tapi pasti matahari lenyap di ufuk barat lalu suasana menjadi gelap gulita. Rembulan terlihat malu-malu untuk memancarkan wajahnya yang bersinar karena banyak mata memandanginya, sehingga menunggu pertengahan malam. Dinginnya angin yang menggigit kulit sampai meresap kedalam tulang membuat siapapun tak ingin keluar dari rumah. Meskipun saat itu tak adanya tanda-tanda akan turun hujan. Langit bersih awan saling berlarian seperti sedang bercanda bersama teman-temannya. Dengan ditemani kemerlipnya bintang yang selalu mengawasi dari tempatnya ingin ikut tapi tak bisa.

Terlihat dikejauhan ada seorang wanita berjalan terseok-seok rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan banyak sekali lumpur, diwajahnya seperti ada bekas darah yang sudah mengering. Dengan terus berjalan melangkahkan kaki wanita itu menguatkan tekatnya untuk sampai di gubuk kecil yang ada di tengah hutan. Sudah reyot, atapnyapun tinggal sebagian saja hampir keseluruhan tidak ada tutupnya. Hanya empat tiang bambu yang masih tetap berdiri tegak. Seolah-olah ingin bercerita kenapa kodisinya sampai sedemikian rupa tapi tak bisa apalah dayanya. Anyaman bambu yang sudah bolong-bolong disana-sini sebagai penutup gubuk reyot itu, agar angin dari luar tak masuk semuanya dan pintunyapun juga sudah copot. Itu semua sebagai saksi apa yang sering terjadi di tempat tersebut. Disekeliling gubuk reyot tersebut ditumbuhi pohon besar-besar beranekaragam seperti rambutan, nangka, mengkudu, belimbing, cerme, jambu-jambu, asem dan sebagainya. Lebatnya buah yang ada di pohon menandakan tempat tersebut tidak pernah dijamah oleh manusia, hanya beberapa kelelawar terlihat bergelantungan di dahan.

Sembari menahan sakit wanita berrambut panjang itu akhirnya masuk juga didalam gubuk yang ditujunya. Sesampainya dalam ruangan pengap itu dia segera mencari sesuatu dibawah kolong yang mirip seperti kursi. Tapi tatakan untuk duduknya sudah tak ada, hanya tinggal sandarannya saja. Setelah meraba-raba beberapa saat lamanya apa yang dicarinya ketemu juga, lalu dikeluarkan bungkusan berwarna putih mirip kain kafan. Tapi dari bungkusan kain kafan itu masih ada lagi benda sangat kecil didalamnya, ternyata adalah sepotong kemenyan. Dan benda yang menyerupai seperti korek untuk membakar. Dari garis wajahnya terlihat sangat senang sekali. Senyumnya yang dingin dan ditambah darah kering yang sudah beku hampir diseluruh mukanya menambah angker wanita tersebut. Selanjutnya dia mengeluarkan benda kecil dari dalam kain kapan, yang di simpan bersama kemenyan tadi. Tak perlu waktu lama wanita itu, segera menggerakan salah satu bagian benda yang ada dalam genggamannya. Setelah digerakan beberapa kali benda tersebut mengeluarkan api dan membakar bungkusan berisi kemenyan, yang tadi dicarinya.

Dia duduk bersila matanya terpejam rapat dan nafasnya di atur turun naik. Mulutnya terlihat berkomat-kamit seperti mengucapkan sesuatu tapi tak ada suaranya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai tertiup angin. Aroma kemenyan memenuhi seluruh ruangan sempit itu. Asap yang dihasilkan dari bakaran kemenyan, sampai keluar dari gubuk reyot itu terbawa oleh angin malam. Membuat binatang-binatang yang ada di atas pohon terbang menjauhi gubuk reyot itu, takut akan ada apa-apa sesuatu hal kemungkinan bisa terjadi. Sehingga mereka saling berterbangan tunggang langgang ketika mencium aroma kemenyan dari dalam gubuk yang ada di bawah sana. Jadi kelelawar dan jenis binatang lainnya memberitahu kepada teman-temannya untuk segera meninggalkan tempatnya dan menjauhi sementara waktu gubuk reyot, kalau mau cari selamat. Kecuali besok malam tak ingin lagi bertengger di atas pohon-pohon besar lagi dan menikmati buahnya yang manis.

Sepemasakan nasi dihadapan wanita yang membakar menyan tadi ada gumpalan asap setinggi dua meter entah dari mana asalnya. Semakin lama gumpulan asap itu menipis berubah wujud menjadi sesosok wanita cantik berambut panjang juga. Namun di kepalanya ada seperti berbentuk mahkota tapi bergambar kepala macan. Lalu wanita yang mengenakan mahkota tersebut menghentakan kakinya ketanah hingga tanah disekitar bergetar. Dan sampai bangunan reyot itu ikut bergoyang mengeluarkan suara berderak-derak. Tapi tak perlu ganti detik, di saat itu juga wanita yang duduk bersila tadi membuka matanya.

“Nyi Julung Senggoro, maafkan hamba sudah berani memanggil kembali.” Ucap wanita yang bersila tadi memanggil sesosok yang ada didepannya dengan menyebut Nyi Julung Senggoro. Merupakan nama dari sosok wanita yang mengenakan mahkota bergambar kepala macan itu.

“Ada apa Patmi kamu memanggilku?” Jawab nyi Julung Senggoro tersebut. Ternyata wanita yang duduk bersila dihadapannya bernama Patmi.

“Saya mohon diberikan tambahan bekal lagi, lihatlah nyi badan saya dianiaya seperti ini rupa, katanya suara saya jelek dan tarian saya membuat pusing. Jadi saya mohon diberikan tambahan bekal.” Patmi memohon kepada nyi Julung Senggoro agar dia diberikan tambahan ilmu atau pusaka untuk pegangannya.

“Nyi Julung, tentu tahu siapa yang melakukan ini semua kepada saya, hingga saya harus mengalami seperti ini..” Imbuh Patmi kepada nyi Julung Senggoro. Tapi wanita yang menggunakan mahkota kepala macan itu, hanya tersenyum dingin.

“Baiklah kalau begitu tapi ada syaratnya..” Tegas nyi Julung Senggoro.

“Apa itu nyi syaratnya?” Tanya Patmi dengan tidak sabar.

“Tapi apakah kamu kuat untuk melaksanakan syaratnya?” Tegas lagi nyi Julung Senggoro.

“Apapun itu nyi, yang terpenting saya bisa menjadi pesinden yang terkenal, suara merdu dan banyak para lelaki memberikan sawerannya lebih banyak lagi.” Patmi menjelaskan kepada nyi Julung Senggoro.

“Baik kalau begitu, sekarang kamu pejamkan matamu.” Perintah nyi Julung Senggoro.

Patmi langsung memejamkan matanya sesuai apa yang diperintahkan oleh nyi Julung.

Dia tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh sosok berambut panjang yang menggunakan mahkota itu. Yang dirasakan hanya dingin dari mulai kepalanya sampai ujung jari kakinya. Sosok yang dipanggil nyi Julung Senggoro, itu hanya memandangi bagian kepala Patmi. Namun bagi orang yang mempunyai mata batin akan dapat mengetahui energi apa keluar dari mata nyi Julung Senggoro, lalu masuk ketubuh Patmi melalui kepalanya. Tapi orang yang dipanggil nyi Julung itu, dari kedua matanya mengeluarkan seperti sinar berwarna merah dan melesat begitu cepat masuk kedalam kepala Patmi. Selama tiga tarikan nafas lalu Patmi disuruh membuka matanya kembali. Dia kaget ketika membuka matanya karena kakinya yang semula terasa sakit lalu tiba-tiba menjadi lenyap dan wajahnya yang sebelumnya banyak sekali darah kering menjadi bersih. Badannya yang terasa sakit diakibatkan terkena pukulan orang-orang karena penampilan sindennya kurang bagus dan dia disuruh keluar dari area tempat untuk menari. Tapi tidak mau akhirnya beberapa orang memukulinya, lalu menyeretnya sampai batas desa.

“Sekarang apa yang kamu rasakan Patmi..” Tanya nyi Julung Senggoro dengan suara datar.

“Yang saya rasakan tidak lagi terasa sakit badan saya pulih seperti semula.” Jawab Patmi memberi tahu kepada nyi Julung.

“Bagus kalau begitu, sekarang kamu berjalan menuju kolam kecil dibelakang gubuk ini, lalu kamu berendam sampai besok malam, setelah itu baru akan ku berikan syarat serta tambahan yang kamu minta.” Penjelasan nyi Julung kepada Patmi dan orang yang disuruh bangkit berdiri mencari kolam yang dimaksud.

Patmi terus berjalan mengikuti arahan dari nyi Julung Senggoro, untuk menelusuri belakang gubuk reyot itu. Diluar gubuk sangat gelap sekali setitik cahaya rembulan tak terlihat dan sangat sepi sekali. Padahal ketika dia berjalan menuju gubuk itu rembulan terlihat jelas sedang menyaksikan bintang-bintang. Tapi dewi malam itu mendadak menghilang. Desiran angin yang melintas namun jaraknya dua puluh meter masih terdengar, disebabkan suasana begitu sunyinya. Ketika Patmi sedang menengok kanan kiri lalu dia ingin melangkahkan kakinya kembali tapi dikejutkan seekor burung terbang didepannya. Beberapa langkah mencari akhirnya ketemu juga. Benar saja sekarang dihadapannya ada kolam kecil kira-kira dua kali dua diameternya tapi airnya sangat bening. Tanpa berfikir panjang dia segera membenamkan tubuhnya di kolam tersebut. Pekik suaranya sempat terdengar ketika sudah ada dalam air, rupanya dinginnya air membuat dirinya kaget. Karena dia merasa dinginya air itu tak seperti biasanya, benar-benar sangat dingin sekali. Bagaikan puluhan ribu bongkahan es di tumpuk menjadi satu dan dia ada di tengah-tengahnya.

Kelelawar dari tempatnya yang cukup jauh tapi masih bisa dilihatnya dengan jelas kearah Patmi. ada di pohon-pohon melihat dirinya didalam suara hatinya binatang malam itu bertanya “Lagi apa wanita itu malam-malam merendamkan tubuhnya gak jelas sekali.” Tapi Patmi tidak mendengar suara yang keheranan.

Satu malam, ditambah satu hari Patmi menyelesaikan apa yang diperintahkan oleh nyi Julung untuk berendam di kolam. Ketika malam telah datang kembali dia segera keluar dari kolam yang kecil itu, tubuhnya basah kuyup dan rasa hangat menyelimuti seluruh badannya. Dia sempat terheranan, kenapa tubuhnya menjadi terasa hangat padahal ketika masuk kedalam kolam dinginnya, jangan pernah di tanyakan. Langkah kakinya menuju gubuk reyot itu lagi. Tapi disana nyi Julung Senggoro sudah menunggu dan ia disambut dengan senyumman dingin yang tidak ada ekspresinya. Dan dia tak tahu dibalik makna senyumman itu apa. Patmi langsung duduk bersimpuh dihadapannya untuk menerima perintah apalagi.

“Saya sudah selesai melaksanakan perintah nyi Julung Senggoro.” Terang Patmi. Tapi nyi Julung Senggoro hanya diam saja, lalu tidak lama wanita yang mengenai mahkota itu tertawa melengking. Membuat orang yang mendengarnya langsung pinsan di waktu itu juga.

“Bagus Patmi, aku senang kamu bisa menyelesaikan apa yang ku perintahkan.” Tegas nyi Julung Senggoro.

“Lalu apalagi yang harus saya lakukan nyi?” Tanya Patmi meminta arahan selanjutnya apa yang harus dia lakukan kembali.

“Ini kamu terima selendang berwarna merah tapi ingat jangan sekali-kali di rumahmu ada orang yang melakukan ibadah atau mengucapkan kata-kata langit. Dan jauhi orang-orang tua yang mempunyai tembang tolak balak. Mengerti kamu Patmi!” Seru nyi Julung memberitahu kepada Patmi.

"Tapi untuk syarat kedua itu bagaimana saya bisa mengetahui bahwa ada orang tua yang mempunyai tembang tolak balak nyi? Karena tak ada tandanya yang bisa di lihat oleh mata." Tanya Patmi.

"Untuk itu, kamu tak usah khawatir, aku akan selalu mengawasimu dari kejauhan, jadi kalau ada orang tua seperti itu aku akan memberitahumu, jadi kamu bisa menjauhinya atau jangan sampai dia kerumahmu." Penjelasan dari nyi Julung kepada Patmi. Orang yang diberikan penjelasan manggut-manggut saja, menandakan bahwa dia tak perlu risau untuk hal tersebut.

“Ia saya tahu nyi.” Saut Patmi.

“Cara menggunakan selendang ini, kalau kamu usapkan di wajah laki-laki atau makanan maupun minuman yang terkena sedikit saja dari bagian selendang ini maka semua apa yang kamu katakan mereka akan mengikutinya. Dan kamu akan selalu diikuti dari bangsaku setiap kamu ada pertunjukan, cobalah lihat dibelakangmu.” Ujar nyi Julung Senggoro, lalu wanita yang menggunakan mahkota kepala macan itu memerintahkan Patmi untuk melihat keluar gubuk.

Waktu Patmi membalikan badannya dia kaget beberapa makhluk banyak sekali diluar gubuk.

“Mereka itu siapa nyi?” Tanya Patmi dengan keheranan apa yang dilihatnya. Karena tiba-tiba puluhan orang laki-laki telah berdiri di luar gubuk dan kakinya tak ada yang menyentuh tanah.

“Itulah yang selalu menjagamu, jadi disetiap kamu ada pertunjukan mereka akan datang sebagai penonton sehingga akan terlihat ramai di setiap kamu tampil, jadi orang-orang tidak lagi meremehkanmu karena tidak ada yang menonton tapi ingat pesanku jangan dilanggar.” Tegas nyi Julung Senggoro.

“Lalu, bagimana nyi dengan orang yang telah bikin saya seperti ini, saya mohon dibalaskan nyi..” Patmi meminta kepada nyi Julung, untuk membalaskan kepada orang yang menyebabkan dirinya mengalami seperti itu.

“Kamu tak usah khawatir, waktunya akan tiba juga tapi tak saat ini, tunggulah saat-saat itu..” Ujar nyi Julung Senggoro, kepada Patmi, bahwa dia disuruh menunggu saatnya tiba untuk memberikan pembalasan orang yang dimaksudkan.

“Apa yang nyi Julung katakan saya akan selalu ingat tak mungkin lupa.” Tegas Patmi sebelum nyi Julung Senggoro pergi dari hadapannya.

Makhluk yang dipanggil nyi Julung Senggoro, sudah tidak ada lagi didepannya dan kain panjang berwarna merah itu dimasukan kedalam balik bajunya. Orang yang berdiri diluar gubuk tadi juga sudah tak ada. Patmi lalu memutuskan untuk pulang membuktikan kepada orang di desanya bahwa dia layak untuk menjadi penari tayup. Yang tak lagi dianggap remeh atau hanya biasa-biasa saja. Selain itu dia akan menunjukan kepada orang banyak bahwa di setiap pertunjukannya ramai penonton. Tak hanya itu, Patmi juga mau menunjukan bahwa dirinya yang paling unggul, kalau dibandingkan lainnya.

Tembang dendam mengiringi langkah setiap tindak kakinya kemana yang ia inginkan. Patmi keluar dari gubuk reyot itu dengan wajah gembira serta senyum dan tawanya mengiringi langkahnya. Terbawa angin tawanya terdengar sampai jauh hingga membuat ngeri bagi yang mendengarnya, nyamuk-nyamuk disekitar tak ingin mendekat malah pergi menjauh. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai menambah dirinya terlihat semakin seram, bagaikan makhluk dari alam lain beberapa abat silam. Setelah dia mendapatkan selendang pemberian nyi Julung Senggoro, ada energi lain keluar dari dalam tubuhnya memancarkan daya pikat siapa yang memandangnya pasti akan terbayang-bayang. Sejenak dia menghentikan langkahnya dan memandangi bintang-bintang yang ada di atas kembali lagi muncul dalam hatinya berkata, “Aku pasti seperti bintang itu dan namaku akan bersinar sampai kemana-mana.” Setelah Patmi puas memandang bintang, dia melanjutkan jalannya lagi untuk kembali kerumahnya. Dengan ditemani angan-angan akan seperti bintang namanya membumbung tinggi dan bersinar terang, hingga tak ada yang mengalahkan siapapun itu. Dan nyi Julung Senggoro, telah bersedia membantu dirinya jika ada sesuatu hal menghalangi langkah karirnya.