Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tambahan Kekuatan

Matahari senja telah menyapa memberi tanda bahwa malam akan segera tiba. Pergantian waktu terus bergelincir hingga lampu dunia itu tak terlihat lagi. Dari arah timur seorang wanita sepuh tapi garis wajahnya seperti usia tiga puluh tahunan, dia mengenakan kebaya hitam, di kepalanya ada cunduk yang terbuat beberapa bunga seperti bunga melati, mawar, telon. Dan di pundaknya ada selendang berwana hitam juga seperti jariknya. Jalannya tampak pelan tapi tarikkan nafas belum dikeluarkan lagi, dia sudah jauh jaraknya ratusan meter hampir satu kilo meter. Wanita sepuh itu berjalan lalu berhenti ditengah halaman rumahnya Patmi, namun ia tak melanjutkan langkahnya. Matanya terpejam dan mulutnya berkomat-kamit, dari kepalanya keluar asap putih yang mengeluarkan aroma harum terus asap putih itu membumbung tinggi seperti akan menggapai langit. Sedangkan pemilik rumah yakni Patmi yang sejak tadi didalam terus setelah dirinya pulang, dari temantenan keponakannya tak keluar-keluar lagi. Tapi ketika dia mencium aroma bunga melati yang sudah tak asing lagi baginya, dia lalu keluar untuk menemui sosok wanita sepuh, yang ada didepan rumahnya. Saat dia keluar dari balik pintu utama rumahnya, wanita sepuh itu tersenyum kearahnya dan Patmi langsung duduk bersimpuh dengan memanggil nyi Julung Senggoro.

Ternyata yang datang kerumahnya Patmi, yakni wanita sepuh itu tak lain adalah nyi Julung Senggoro. Yang tak menggunakan mahkota bergambar kepala macan. Tetapi berpenampilan lain yakni menggunakan bunga-bunga di taruh di kepalanya. Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat penting sekali sehingga dia harus datang langsung kerumah murit sekaligus abdinya itu. Dan Patmi, tampaknya tak tahu kalau nyi Julung mau datang kerumahnya. Karena sejak Patmi, pulang dari acara temantenan keponakannya, dia tak keluar-keluar kamar walau hanya mengambil minum untuk menghilangkan rasa hausnya.

“Maaf nyi, saya tak tahu kalau nyi akan datang.” Ucap Patmi dengan menundukan wajahnya.

“Tidak papa, aku tahu kalau kamu lagi sedih teringat orang yang sangat dikasihi. Tapi ingat malam ini adalah malam keempat puluh, dimana kamu harus mempersiapkan sesaji-sesaji untuk selendangmu biar tak pudar kekuatan yang ada didalamnya, apakah kamu masih ingat syarat-syaratnya?” Tanya Nyai wanita sepuh tadi yang tak lain adalah nyi Julung Senggoro.

“Ia nyi Julung saya ingat.” Patmi menjawab dengan tetap masih menundukkan wajahnya, karena sebenarnya dia lupa dan tak ingat bahwa hari itu merupakan malam keempat puluh.

“Sekarang berikan selendangmu itu, biar aku yang akan menyucinya.” Perintah nyi Julung Senggoro kepadanya. Lalu Patmi mengeluarkan kain panjang dari dalam lipatan bajunya. Sejak dirinya menerima selendang itu tak pernah lepas atau jauh dari tubuhnya mau dimanapun tempatnya. Jadi ketika nyi Julung, meminta selendang itu Patmi tinggal memberikannya saja tak perlu lagi masuk kedalam rumah untuk mengambilnya.

“Tapi apakah kamu juga sudah menyiapkan perlengkapan oborampenya untuk besok malam? Nyi Julung Senggoro bertanya kembali. Tapi yang ditanya tak menjawabnya, hanya mengganggukan kepalanya saja, bahwa semuanya sudah siap. Meskipun Patmi, lupa kalau malam itu adalah hari keempat puluh tapi soal pirantinya dia tak lupa dan memang jauh-jauh hari telah disiapkan. Karena Patmi, khawatir kalau nanti-nanti akan lupa, jadi dia mempersiapkan sewaktu-waktu lupa sudah tersedia.

Lalu nyi Julung Senggoro menrima selendang itu dibawa pergi dan Patmi masuk kedalam rumah lagi. Sebelum dirinya sempurna berdiri wanita sepuh misterius itu sudah hilang dari hadapannya. Besok tepat tengah malam bulan purnama nyi Julung Senggoro akan datang kembali, menemui murit kesayangannya tersebut, untuk menambah kekuatan daya tarik di selendangnya. Nyi Julung Senggoro sendiri adalah makhluk dari alam lain. Konon katanya setiap penari tayup yang datang kepadanya, meminta agar pertunjukannya mempunyai daya pikat tersendiri. Namun tak setiap penari dia mau membantu. Patmi sendiri sudah lama bersekutu dengan makhluk itu, diawali saat dia dihina oleh orang-orang desa. Karena tampilannya sama sekali tak menarik dan membosankan. Lalu waktu dia dianiaya oleh warga desa yang menonton tariannya di salah satu di rumah penduduk tapi karena malam itu Patmi lagi apes, jadi dia dipukuli terus diseret sebagian penonton disebabkan tariannya jelek serta suaranya membuat pusing. Memang perlu diakui setelah Patmi diberikan selendang berwarna merah yang selalu dia kenakan disaat pentas. Sejak itu namanya membumbung keangkasa sampai-sampai orang yang ingin mendatangkannya, harus menyesuaikan dengan waktunya. Berbeda ketika dia belum diberikan selendang pusaka itu. Hanya wajahnya saja yang terlihat bagaikan rembulan.

Patmi hampir lupa bahwa besok malam adalah bulan purnama dan dia harus membawa selendangnya ketempat Nyi Julung Senggoro. Gara-gara dia melihat keponakannya Eko yang duduk bersanding dengan wanita pilihannya, dia jadi teringat sama kekasihnya dulu, pertama dan terakhirnya. Hingga membuatnya lupa. Tapi karena dia adalah abdi yang dikasihi oleh Nyi Julung Senggoro, jadi junjungannya itu mendatangi dirinya untuk mengambil benda keramat yang sekarang ada dengannya. Setelah nyi Julung Senggoro tak ada lagi dari hadapannya, Patmi berucap di dalam hatinya. “Untung saja, nyi Julung bisa mengerti apa yang ada di dalam hatiku dan tahu apa yang lagi ku rasakan.”

Rumah tinggalan orang tuanya Patmi yang ada di desa hanya dia yang menempatinya. Rumah besar bangunan lama itu terlihat seperti tak ada orangnya sepi, dari kejauhan bagaikan tak ada penhuninya ratusan tahun. Dikarenakan Patmi tak pernah menyalahkan penerangan di rumahnya kecuali ada tamu baru tanda-tanda kehidupan terlihat.

Suasana disekitar rumah Patmi menjadi sepi kembali. Terdengar dari kejauahan hanya burung hantu dan ditemani jangkrik yang sedang nembang. Bahwa usia muda jangan mengendorkan tali-tali niat maupun semangat tapi justru diperkencang. Sisingkan lengan baju untuk masa tua yang sudah menunggu. Berjalan menggunakan tenaga sendiri jangan meminta digendong dan jangan membuat alasan, kalau masih dapat melakukan. Berbohong memutar kata memang mudah untuk diucapkan tapi bagaimana di hari belakang. Tembang yang diperdengarkan binatang malam itu menyindir Patmi yang mencari jalan pintas, agar lebih cepat sampai di tempat tujuannya. Namun orang yang dimaksudkan sudah tenggelam didalam dasar lautan nafsu. Hanya waktu yang dapat menyadarkannya dan membawanya keatas permukaan jalan kebaikan.

Malam itu Patmi tak ada yang dilakukannya diam saja dalam kamarnya dan berusaha untuk membuang bayangan masalalunya. Yang terus menari seperti dirinya membuat orang terpesona. Waktu merangkak mendekati pagi dan malampun berganti siang. Hari itu Patmi tak ada kegiatan apa-apa dan seharian dia hanya di rumah belakang, karena rumahnya terbagi dua bagian rumah depan dan rumah belakang digandengkan menjadi satu. Tepat ditengah hari dia merendamkan tubuhnya di kolam yang sudah dicampuri beberapa kembang setaman. Hal itu sampai nanti pertengahan malam. Ritual yang dilakukannya sebagai awal sebelum acara puncaknya. Tampak dari wajahnya dia seperti orang yang menahan dingin. Meskipun waktu masih siang dan air yang diambilnya baru dari kran. Itu disebabkan mantra yang dibaca sebelum dirinya masuk kedalam air dampaknya seperti orang kedinginan. Dia menenggelamkan seluruh tubuhnya tanpa menanggalkan pakaiannya dan rambutnya yang panjang dibiarkan terurai.

Aroma wangi kemenyan memenuhi seluruh ruangan dan asapnya turut menyelimuti peti yang untuk berendam Patmi. Matanya terpejam serta nafasnya naik turun secara teratur. Didalam hatinya dia merapalkan mantra-mantra yang diberikan Nyi Julung Senggoro. Gumpalan asap membungkus seluruh petinya apabila ada yang melihatnya, dikira bakaran gunungan sampah. Karena peti berwana hitam itu tak lagi terlihat walau hanya samar-samar. Ruangan gelap tanpa ada satu titik cahaya yang menerangi lilin ataupun lampu teplok tak ada. Meskipun diluar matahari masih menyinari terang-benderang. Tapi ruangan rumah Patmi bagian belakang tertutup rapat, hingga cahaya dari luar tak dapat menembus masuk. Semilirnya anginpun juga tak dapat masuk dikarenakan celah untuk bisa samppai dalam tertutup rapat. Sudah lebih dari tiga jam Patmi berada dalam peti yang diisi air dan dicampuri kembang setaman, dia masih tetap bertahan didalamnya.

Mendung datang dari arah utara bergulung-gulung membuat orang yang ada di sawah, berlarian pulang kerumahnya untuk memasukan binatang peliharaannya, agar tak kehujanan. Burung-burung yang sedang terbang sembari bersenandung dengan kicauannya, mendadak berbelok ketika mendekati rumahnya Patmi. Seperti membentur dinding yang tak terlihat oleh mata telanjang. Angin yang menderu-deru kencang menumbangkan beberapa pohon yang diserempetnya dan membawa terbang pohon yang berukuran besar, disebabkan terkena hembasannya langsung. Rumah warga juga ada beberapa yang gentengnya terbawa terbang bagaikan lembaran kertas. Namun galaknya angin tak berani mendekati rumahnya Patmi yang tampak sepi dari luar. Di angkasa angin berputar-putar cepat seperti mau menerjang rumah yang ada dibawahnya yaitu tempatnya Patmi tapi putaran angin mendadak buyar, ada kekuatan lain yang menghantamnya dari arah dalam.

Sementara itu matahari sudah pudar cahayanya semakin lama reduk dan menjadi malam. Sunyi senyap disekitar rumahnya Patmi karena dia paling ujung desa. Sedangkan jarak dengan rumah yang lainnya berjauhan. Dikarenakan tanah yang ditempatinya dulunya sebidang sawah empat petak. Lalu jarak seratus meter disamping kanan rumahnya adalah hutan yang dimana pohon mahoni, jati dan lainnya berdiri gagah disana-sini. Samping kiri rumahnya jarak enam ratus meter sungai kecil tak terlalu besar, hanya pas musim penghujan sampai meluap juga. Lalu dibelakang rumah Patmi sekitar sembilan ratus meter hamparan sawah orang lain. Dan tujuh puluh meter dari depan rumahnya terbentang jalan, untuk aktifitas warga semuanya. Memang hanya itu jalan satu-satunya apabila mau pergi ke kota atau pergi ke desa tetangga.

Rumah bangunan besar itu berdiri kokoh dan di halaman banyak sekali pohon menghasilkan buah seperti rambutan, kelapa, mengkudu, pete, jengkol, nangka terus yang semacamnya. Pemandangan demikian menambah angkernya suasana. Belum lagi ditambah aroma kemenyan yang berasal dari dalam rumah membuat bulu guduk menggidik. Bagi orang yang sedang melintas berada disekitar tempat itu akan jatuh pingsan disebabkan mencium aroma kemenyan dan melihat pandangan disekeliling, walau tak terlihat jelas tapi samar-samar disetiap pohon ada orang yang lagi berdiri. Bagi orang yang dapat melihat alam lain akan melihat perwujudan tak pada manusia biasanya. Dimana ada tiga puluh orang lebih menggunakan pakaian adat jawa lengkap dengan keris dibelakang. Tapi apabila diperhatikan dengan seksama orang-orang tersebut wajahnya dipenuhi darah yang masih menetes sampai kepundak. Sehingga wajah-wajah itu tak dapat dilihat dengan jelas, walau dari dekat sekalipun. Anyirnya darah tercium santer bercampur aromanya kemenyan rasanya membuat nafas sesak, dikarenakan harus menahan menghirup udara. Belum lagi sepasang mata yang tak dapat diketahui berapa jumlahnya dan ada dimana saja. Karena setiap melangkahkan kaki dibelakang, didepan dan dikanan ataupun dikiri rumah. Seperti ada yang memperhatikan.

Ditengah sunyinya malam entah darimana datangnya tiba-tiba ada menggelegarnya suara seperti halilintar, sebanyak tujuh kali, hingga tanah terasa bergetar dan sampai pohon bergoyang. Tapi langit bersih tak ada awan mendung walau hanya selembar. Karena tadi sore juga tak jadi turun hujan. Disela bunyinya halilintar dari segala penjuru arah mata angin ada kilatan cahaya yang sangat terang sekali. Walau terdengar samar tapi berlahan jelas suara gamelan semakin kencang. Sesosok makhluk bermunculan berkumpul tengah-tengah halaman rumahnya Patmi. Sebagian tiga puluh orang lebih memang menggunakan pakaian jawa dan dibelakangnya terselip sebilah keris. Lalu kebanyakan dari mereka hanya menggunakan jarik biasa. Sikap mereka semuanya membuat lingkaran, berbaris sesuai dengan pakaian yang digunakan. Tanpa ada suara yang dikeluarkan mereka berputar saling berlawanan. Yang tiga puluh orang lebih tersebut berputar kearah kanan. Dan yang sisanya berputar kearah kiri sembari bertepuk-tepuk tangan dan berjingkrak-jingkrak.

Ketika mereka lagi asik-asiknya suara gamelan berhenti dan datang seorang wanita sepuh tapi wajahnya kelimis seperti masih muda dan dikepalanya ada mahkota bergambar kepala macan, kali ini nyi Julung Senggoro mengenakan tanda kebesarannya. Walau gelap gulita tapi sinarnya rembulan mengintip apa yang mereka akan lakukan, ternyata nyi Julung Senggoro pemimpinnya. Dibelakangnya ada empat orang memanggul peti kecil. Junjungannya Patmi itu mengangkat tangan kirinya lurus keatas dan tangan kanannya menyilang didada sambil mulutnya berkomat-kamit entah apa yang diucapkannya. Lalu matanya berkedip tujuh kali berturut-turut kearah pintu rumah abdinya itu. Setelah mengedipkan matanya yang ketujuh pintu terbuka sendiri, dari dalam meluncur peti berukuran besar. Dimana sejak tadi siang abdinya Patmi beremdam didalamnya. Nyi Julung Senggoro menurunkan tangan kirinya lalu dilipat sama tangan kanannya didepan dada. Sehabis itu dia memejamkan matanya rapat-rapat dan mulutnya berkomat-kamit lagi, tak terlalu lama dia memutari peti abdinya itu, lalu diikuti semua abdinya dari alam lain. Suara gamelan berbunyi kembali dan kali ini semakin kencang berbeda dengan yang tadi.

Para abdi Nyi Julung Senggoro ikut berputar mengikuti dari belakang tertata rapih. Berbeda dengan yang sebelum Nyi Julung Senggoro datang. Mereka berputar semakin lama semakin bertambah cepat saja, mata biasa tak mungkin untuk mengikuti gerak yang dapat membuat pusing kepala itu. Suara yang ditimbulkan mirip dengan angin yang sedang berderu membuat takut setiap orang apabila mengangkat rumahnya. Nyi Julung Senggoro mendadak berhenti tepat dibagian kepalanya Patmi. Abdinya yang juga ikut berhenti tanpa diberi aba-aba langsung membuka tutup peti itu. Dari dalam tubuh Patmi keluar tapi seperti dilontarkan keatas, sehingga dia terpelanting tinggi sekali. Namun Nyi Julung Senggoro melihat abdinya terpelanting demikian rupa malah tertawa bagaikan anak kecil yang mengetahui sesuatu hal lucu. Tontonan yang menajukan itu membuat orang tak mau mengedipkan matanya walau sesaat. Karena ketika Patmi terpelanting keatas tubuhnya masih dalam posisi tertidur. Tapi waktu dia diatas persekian detik tubuhnya menjadi vertikal, sehingga yang mengijak tanah adalah kakinya terlebih dahulu. Lalu dia menghaturkan sembah sujud terhadap junjungannya itu.

“Hamba menghaturkan sembah yi..” Patmi meletakkan tangannya dilipat berada di punggungnya sebagai tata cara menghaturkan sungkemnya.

“Ia ku terima… Dan bangunlah..” Perintah Nyi Julung Senggoro.

“Sekarang kamu terima selendang ini lagi dan ingat setiap tiga kali jumat wage, jangan lupa.” Pesan Nyi Julung Senggoro sembari mengulurkan kain panjang kepada Patmi. Dan berpesan agar abdi kinasihnya itu tak lupa dengan hari perjanjian. Karena Patmi kemarin lupa disebabkan masalalunya yang tampil didalam layar ingatannya.

“Dan ingat kamu jangan sekali-kali main lagi di tempat saudaramu yang kemarin itu..” Nyi Julung Senggoro mengucapkan dengan wajah yang sangat serius.

“Memangnya kenapa nyi? Itu kan saudara saya?” Tanya Patmi yang memang belum mengerti, kenapa dirinya dilarang.

“Patmi dikeluargamu ada yang mempunyai tolak-balak, jadi kamu kalau sering main atau menembus pagar yang dipasang sama keluargamu, daya yang ada didalam tubuhmu akan luntur dan mungkin bisa lenyap. Sedangkan aku tak akan bisa menolongmu, karena aku juga tak kuasa melawannya..” Nyi Julung Senggoro menjelaskan dengan raut wajah bersungguh-sungguh.

“Kalau nyi tahu, keluarga saya yangmana?” Patmi masih penasaran dengan apa yang dijelaskan junjungannya itu.

“Dia sebenarnya bukan dari keluargamu yang sesungguhnya tapi dia adalah mertua dari kakakmu itu.” Penjelasan singkat itu membuat Patmi berfikir sejenak.

“Maksud Nyi mbah Wojo Samudro? Mbahnya Eko keponakan saya?” Tanya Patmi dengan tak percaya.

“Ia betul, kamu harus berhati-hati karena dia bisa membahayakanmu dan aku gak bisa menolongmu.” Setelah Nyi Julung Senggoro memberikan penjelasan kepada abdinya itu, dia lalu pergi bersama datangnya angin malam yang semeribit.

Makhluk yang ada disitu semuanya juga ikut lenyap setelah tahu pemimpin mereka sudah tak ada lagi. Tinggal Patmi yang masih duduk bersimpuh di halaman rumahnya. Sambil menimang-nimang selendang merahnya, yang sudah ditambah kekuatan daya tarik pengasihan, untuk mendukung penampilannya dalam pentas. Karena tanpa ia melakukan seperti itu, dia tak akan menjadi penari yang diperhitungkan. Apalagi kalau dia ingat peristiwa beberapa waktu yang berlalu. Dimana ketika dia sedang menari dan sambil menembangkan suatu tembang tiba-tiba, dirinya diseret beberapa orang disebabkan suaranya yang katanya tak bagus serta tariannya membuat pusing. Rasa dendam yang meluap-luap bergemuruh didalam dadanya hingga mengharuskan dirinya, bersahabat dan menjadi abdi makhluk iblis. Yang selalu membisikan manisnya gula.