Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gak Ada Apa-apa

Pagi sudah tiba senyum mentari menyapa kepada siapa saja. Para pedagang, petani dan pekerja sudah berada di ladangnya masing-masing untuk berkarya sesuai bidangnya. Nasi pecel yang dibungkus daun pisang, aromanya sampai kemana-mana menggoda isi perut membuat tak sabar melahapnya. Seperti Ariani, yang lagi dandan di kamarnya mencium aroma itu, karna ibunya habis dari pasar membelikan sarapan untuk dirinya.

“Duk, ini ibu belikan nasi pecel, katanya kamu pengen sudah lama gak makan..” Ibunya Ariani, memanggil putri kasayangannya.

“Ia, bu, entar dulu nanggung nih sebentar lagi selesai..” Jawab Ariani, dari dalam kamarnya.

“Ibu, taruh diatas meja depan ya duk!!” Ibunya Ariani memberitahu kepada putrinya itu, kalau nasi pecelnya ditaruh di meja depan.

“Ia bu, taruh disitu aja..” Saut Ariani.

Ibunya Ariani, terus keluar pergi bersama tetangga rumahnya entah kemana. Ariani, sendiri masih sibuk didalam kamarnya, mempersiapkan diri untuk interview ke perusahaan yang dikirimi lamaran beberapa waktu lalu. Meskipun dia lulus dari program magisternya tapi hari itu pengalamannya pertama kali, dipanggil interview pekerjaan. Memang dia selalu berpenampilan rapih kalau mau bertemu sama siapa saja. Satu jam lebih lamanya dia ada dalam kamar untuk memilih baju mana yang cocok, akhirnya selesai juga. Dan langsung menuju dimana tadi ibunya menaruh nasi pecel. Begitu lahapnya dia makan nasi pecel itu kurang dari 10 menit sudah habis. Ariani, lalu mencari ibunya kesana-kesini tapi tidak ketemu terus ada tetangga mengatakan, tadi pergi bersama mbok parjo. Gadis tinggi langsing itu terus menelpon ibunya.

“Bu, aku berangkat dulu ya.. Dan mohon doanya ya bu..” Kata Ariani, bicara kepada ibunya melalui sambungan telpon.

“Ohya, duk hati-hati ya.. Semoga gak ada apa-apa ya.. La entar pulang jam berapa?” Jawab ibunya dan tanya lagi kepada, Ariani.

“Gak tahu ya bu.. La ibu kemana? Aku cari-cari kemana-mana gak ketemu..” Tanya Ariani, kepada ibunya.

“Ia duk, ibu kesalonnya mbak Rini soalnya dia mau ketempat saudaranya lama, jadi ibu mau keriting sekarang aja..” Jelas ibunya Ariani.

Ariani, hanya diam saja tidak mengatakan apa-apa karna dia tahu, kalau ibunya suka sekali mencoba model-model keriting rambut. Terus dia menelpon bapaknya yang masih diluar kota karna ada pentas disana. Dia lalu mencari nama bapaknya di ponselnya setelah ketemu tombol Call di klik. Tapi menyambungkan tidak berdering. Docoba lagi sampai beberapa kali, hasilnya tetap saja. Ariani, akhirnya memutuskan nelpon biasa saja tapi hp nya tidak ada pulsanya. Gadis itu pergi ke konter dulu untuk membeli pulsa. Baru dia menelpon bapaknya.

“Halo pak! Hari ini Ariani mau interview kerja, mohon doanya ya pak..” Pinta Ariani, kepada bapaknya.

“Ia, duk semoga gak ada apa-apa ya.. Hati-hati di jalan ya..” Tutur bapaknya Ariani.

“Inggih bapak.. Ariani berangkat dulu ya..” Jelas Ariani.

Sambungan telpon itu terus diakhirinya. Ariani, lalu berjalan menuju ke garasi untuk menyalakan mesin mobil yang mau dipakainya. Tidak terlalu lama dia sudah mengendarai kendaraan roda empat itu menelusuri jalan menuju kota. Alamat perusahaan yang dia lamar adanya di pusat kota. Jalanan lancar, walau kegiatan masyarakat sudah banyak yang pergi kesana dan kesini tapi kemacetan tidak ada. Ariani, mengendarai mobilnya pelan-pelan sembari menikmati sejuknya suasana angin dipagi hari, karna jam menunjukan setengah delapan kurang. Gadis tinggi langsing itu juga sambil memutar gending jawa Sinom, terdengar lirih dari dalam mobilnya. Dia terus melaju kendaraannya. Ariani, walau lahir di zaman yang moderen seperti ini tapi dia juga senang sekali mendengarkan tembang-tembang jawa. Tiba-tiba hp nya berdering ketika dilihat ternyata temannya Nova menelponnya.

“Halo Nov! ono opo??” Tanya Ariani.

“La, kamu dimana Riani?” Tanya Nova.

“La, piye to tanya malah balik tanya… Aku mau interview pekerjaan, ada apa?” Jelas Ariani.

“Waaah rajin yo yang baru lulus magister… Entar siang bisa gak temani aku beli kado buat mas Indra?” Tanya Nova, kepada sahabatnya itu.

“La, emangnya jam berapa?” Tanya Ariani.

“Ya, sepulangmu aja..” Kata Nova.

“Ia, sudah entar siang sehabis aku interview, aku tak langsung ketempatmu yo..” Tegas Ariani.

“Ok ok..” Seru Nova.

Video call dua sahabat itu terus diakhiri. Dan Ariani, juga sudah sampai di perusahaan yang ditujunya. Dia mempersiapkan diri untuk nanti ditanya-tanya. Dia membaca lagi profil dari perusahaan itu, cv miliknya dan hal yang lainnya, supaya tidak gugup waktu menjawab pertanyaan. Sebelum turun dari mobilnya dia menarik nafas beberapa kali dulu. Setelah itu dia baru turun dari dalam mobil terus berjalan menuju ruang tunggu. Matanya memandang lurus kedepan disana ada pos skuriti, dia bangun dari tempat duduknya dalam hatinya mau bertanya, ruang tunggu untuk para interview dimana. Ketika Ariani, sudah ada di pos skuriti dia langsung bertanya. Tapi para skuriti yang ada saling lihat diantara temannya. Bukan jawaban yang dia dapatkan tapi disuruh menunggu ditempatnya tadi. Dia akhirnya mengikuti saja apa yang dikatakan sama skuriti dan kembali lagi ketempat yang tadi Sepeminuman the Ariani duduk, skuriti yang tadi menyuruhnya menunggu dulu, datang lagi bersama seorang wanita masih muda berdiri dihadapannya. Terus skuriti itu pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tunggu tamu.

“Kenalkan mbak nama saya Rahmawati. Saya adalah Manajemen Hrd di perusahaan ini.” Jelas Rahmawati, memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.

“Ia, bu saya Ariani, senang berkenalan dengan ibu.” Ucap Ariani, membalas perkenalan itu.

“Kalau boleh tahu mbaknya datang kesini dalam rangka apa ya?” Tanya Rahmawati, kepada Ariani.

“Saya kesini untuk interview, terkait surat lamaran yang saya kirim beberapa waktu yang lalu.” Jawab Ariani.

“Oh, begitu.. Memang mbaknya tidak salah waktu mengirim surat lamaran?” Tanya Rahmawati, kepada gadis didepannya itu.

“Maksudnya bagaimana ya bu? Saya belum mengerti dengan pertanyaan ibu..” Jelas Ariani.

“Begini mbak Ariani. Perusahaan ini sudah lama sekitar lima tahunan tidak menerima pegawai baru, karna kondisi keuangan perusahaan juga sedang tidak memungkinkan untuk menambah lagi jumlah karyawannya.” Tutur Rahmawati.

Ariani, terdiam ketika mendengarkan penjelasan dari HRD perusahaan dimana dia melamar kerja. Fikirannya blank sesaat bingung tidak tahu harus melakukan apa. Karna jelas-jelas surat lamaran yang dibikinnya ditujukan di perusahaan, dimana dia datangi saat itu. Lalu, yang dibacanya kemarin itu apa? Tanda tanya mengumpul jadi satu didalam benaknya Ariani tapi tidak ada jawabannya. Sampai akhirnya HRD perusahaan itu Rahmawati, memegang tangannya Ariani, karna dia bengong.

“Memang mbaknya dapat informasi bahwa di perusahaan ini ada loker dari mana?” Tanya Rahmawati.

“Ia.. bu, saya dapat informasi dari internet dan saya langsung saja menulis surat lamaran, karna disitu tidak ada tanggal, bulan atau tahunnya..” Kata Ariani. Dan dia terus minta diri karna yang dicarinya tidak ada.

Sehabis Ariani, berpamitan kepada Rahmawati HRD perusahaan itu. Dia langsung menuju kkeparkiran dan masuk kedalam mobil. Didalam mobil dia menggerutu sendiri kenapa tidak tanya dulu, lagipula perusahaan dan rumahnya jaraknya Cuma beberapa kilo saja. Tapi suara hatinya itu yang mendengar Cuma angin lewat. Dia terus menjalankan mobilnya kearah rumahnya Nova, karna tadi sudah janji akan mengantar mencari kado untuk pacarnya Indra. Sesampainya di rumahnya Nova, dia langsung diajak berangkat ke toko eletronik penjual perlengkapan komputer.

“La, kok kesini to Nov? inikan toko perlengkapan komputer..” Tanya Ariani, dengan wajah keheranan.

“Ia, Riani, mas Indra itu sukanya keyboard external untuk menyelesaikan pekerjaannya menulis..” Jelas Nova.

“Uwislah diam aja jangan tanya lagi, mending bantu aku milihin keyboard gamming..” Seru Nova, ketika Ariani mau membuka mulutnya.

Terus Ariani, melangkahkan kakinya ke warung bakso diseberangnya, dia tidak ikut Nova masuk kedalam toko. Akhirnya Nova, sendiri yang masuk kedalam toko itu dan memilih keyboard external untuk kado pacarnya. Sedangkan Ariani, memilih menunggu sambil makan bakso dan minum es kelapa. Karna di toko itu sangat banyak sekali pilihan jenis keyboard external, jadinya lama Nova memilihnya sampai dia bingung. Kurang dari 30 menit Nova, keluar toko dengan membawa beberapa kardus keyboard external dan dia berjalan menuju ke warung bakso, dimana Ariani makan disana. Sahabatnya itu yang lagi asik makan bakso sempat kaget.

“Loh, kamu tu mau jualan to Nov!!!” Seru Ariani, melihat sahabatnya itu membawa lebih dari 3 kardus keyboard external.

“Gak papa, mas Indra, suka ganti-ganti keyboard, jadi sehari pakai yang ini dan sehari lagi pakai yang ini dan seterusnya..” Jawab Nova, sambil menunjuk-nunjuk memberitahu sahabatnya itu Ariani.

“Kamu sudah habis berapa mangkok?” Tanya Nova, kepada Ariani.

“Aku baru habis dua mangkok sama dua gelas es kelapa.. Aku lagi gak pengin makan nasi..” Ucap Ariani.

“Waaduuuh dua mangkok dan dua gelas es kelapa, dibilang lagi gak pengin makan nasi.. Ya jelaslah.. Emangnya ada apa to?” Tanya Nova.

“Aku melamar kerja, ternyata perusahaan yang aku lamari itu sudah lebih tiga tahunan, tidak menerima karyawan..” Tutur Ariani.

“La kok bisa? Bagaimana ceritanya? La emangnya kamu gak baca dulu apa keterangannya?” Tanya Nova.

“La ia itu, kesalahanku.. Aku baca dari internet, aku langsung aja melamar tidak datang dulu ke perusahaan itu..” Jelas Ariani, dengan wajahnya sedih tapi sambil gigit bakso yang ukurannya besar.

“Makannya besok lagi, jangan langsung melamar cari tahu dulu, kalau tempatnya dekat datang..” Nova, memberikan pesan kepada sahabatnya itu.

“Yo wis sekarang makan bakso lagi, aku pesenin yooo..” Ucap Nova, terus dia memanggil mas yang jualan bakso untuk membuatkan dua mangkok lagi.

Dua sahabat itu terus makan bakso sambil ngobrol-ngobrol seru, tidak membahas soal lamarannya Ariani. Satu jam lamanya mereka makan bakso sambil bercanda ria, akhirnya pulang kerumahnya Nova. Sebelum itu mampir dulu kepenjual kertas pembungkus kado. Barulah mereka benar-benar pulang, karna yang dicarinya sudah dapat.

Nova, sangat senang berhasil mendapatkan barang yang diinginkannya untuk orang yang sangat dicintainya. Yang akan menjadi tempat berlabuh hatinya beberapa bulan lagi, setelah dirinya lulus magister.

Ariani, meskipun sedikit kecewa tapi dia mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga dan semangatnya tetap masih menyala-nyala.