Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Impianku Tercapai

Silirnya angin pagi hari berhembus kencang dari segala arah susul-menyusul berebut paling depan bersama temannya ingin segera pulang sampai ketempatnya, setelah merasa lelah mengembara sepanjang malam. Hampir bersamaan munculnya matahari yang diiringi angin di waktu siang. Telah menebarkan rasa dingin kepada setiap orang agar lekas bangun dari mimpinya dan berkarya. Rasa dingin angin pagi menyelinap melalui sela-sela cendala menerobos masuk kedalam kamar seorang gadis, yang masih tertidur pulas. Sepertinya mimpi yang indah tak membuatnya enggan untuk terbangun dari tidurnya. Tetapi hp-nya yang ditaruh disamping bantalnya berdering kencang sekali, hingga membuatnya terpaksa harus bangun untuk menjawab nada panggilan itu. Ketika dilihat ternyata temannya Nova, yang memanggilnya melalui video call.

“Halo Ariani! Jadi gak kamu pergi hari ini?” Tanya Nova.

“Ia jadi, ini kan masih malam to?” Jawab Ariani sambil matanya masih setengah terpejam.

“Malam mbahmu! Sudah siang yo cah ayu…” Ujar Nova.

“La kamu memangnya sudah dimana to Nov?” Tanya Ariani balik.

“Aku ia masih di rumah, maksudku kalau kamu gak jadi minta ku antar ia sudah begitu cantik.” Jelas Nova.

“La Bapak dan Ibumu kemana?” Tanya Nova.

“Kamu kenapa pakai tanya to Nov? Kamu kan tahu Bapakku lagi banyak jadwal panggung dan Ibuku sama.. Emangnya kamu gak mau ngantar aku?” Tutur Ariani. Sambil mengucek-ngucek matanya dan lalu dia bangun dari tidurnya.

“Bukan begitu Ariani sayang, Yo wes, aku otw ketempatmu sekarang ya! Cepetan siap-siap, pokoknya aku datang kita sudah segera harus cus..” Seru Nova. Yang langsung menutup sambungan telpon video itu.

Ariani, lalu bergegas keluar dari kamarnya lalu menuju kekamar mandi. Untuk segera melakukan persiapan, agar ketika Nova sudah datang biar tak menunggu terlalu lama. Hari itu Ariani, akan pergi ketempat wisuda karna dia baru saja menyelesaikan program magisternya. Tetapi kedua orang tuanya tak bisa menemani dirinya diwisuda program magisternya. Dikarenakan Bapaknya banyak jadwal panggung dan demikian juga dengan Ibunya. Meskipun pagi itu kedua orang tua Ariani, masih ada di rumah belum berangkat pergi ketempat pemilik acara. Kedua orang tua Ariani adalah seorang seniman. Jadi tak jarang ada di rumah ketika banyak orang memperlukan kebolehannya dalam pentas seni lawak. Seperti hari itu, tak bisa menemani putrinya dikarenakan Bapak dan Ibunya harus berangkat pagi-pagi sekali soalnya tempat pentasnya jauh diluar kota. Jadi Ariani, meminta tolong kepada Nova teman dekatnya sejak kecil untuk mengantarkannya.

Setelah selesai melakukan persiapan Ariani, lalu berniat mau menghubungi Nova, bahwa dirinya sudah siap. Tetapi sebelum Ariani, membuka layar hp-nya, dari luar rumah terdengar klakson mobil. Dia terus keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang ternyata Nova, telah menunggunya di pinggir jalan. Lalu, Ariani masuk kedalam kamarnya lagi untuk mengambil tasnya dan berpamitan kepada Ibunya serta Bapaknya yang juga akan berangkat. Dan kedua gadis cantik-cantik tersebut sudah ada di dalam mobil, menuju ketempat wisudanya Ariani, yang diselenggarakan di kota Surabaya.

Sepanjang perjalanan kedua gadis-gadis itu saling bercerita ngalor ngidul apa yang ada di dalam benaknya. Nova, sangat senang tahu sehabatnya itu telah dapat menyelesaikan program magisternya. Dan dia sendiri sebenarnya juga sedang menyelesaikan tugas akhir magisternya, hanya saja beda kampus dan jurusan. Jika Ariani, mengambil program magister pemasaran, sesuai dengan strata satunya yakni ekonomi. Tetapi jika Nova, melanjutkan sesuai program strata satunya yakni kesenian. Karna dari keluarga keduanya sama-sama seorang pelaku seni. Hanya saja jika Nova, lebih ingin memperdalam bidang kesenian. Hal itu telah terlihat kiprahnya dalam menari, sesindenan, menabuh gendang dan mendalang. Dari empat macam bidang kesenian tersebut kemampuan Nova tak lagi diragukan. Namun, jika Ariani diberikan keleluasaan dari kedua orang tuanya ingin menekuni dibidang yang disukainya. Meskipun demikian Ariani, juga tak kalah merdu kalau lagi menembang lagu jawa. Dan apalagi kalau menari, tak hanya menggerakan olah tubuhnya. Tapi bagi pria yang melihatnya hatinya akan ikut bergerak-gerak, sesuai irama tariannya.

Empat jam lamanya mereka terguncang-guncang di dalam mobil. Dari kota Bojonegoro menuju kekota Surabaya. Akhirnya sampai juga ketempat yang di tujunya. Ariani, melirik arloji yang ada di tangannya menunjukan pukul sebelas kurang sedikit, dia langsung keluar dari dalam mobil terburu-buru.

“Waduh! Terlambat” Seruh Ariani sambil belari-lari. Nova, yang mengetahui hal itu hanya tertawa saja.

Suasana di dalam gedung telah ramai di penuhi oleh para wisudawan dan wisudawati. Ariani, segera mengisi buku kehadiran. Dan dia lalu mencari-cari sahabatnya duduk berkumpul disebelah mana. Akhirnya dia dipanggil Eka, yang duduk bersebelah-belahan sama sahabat lainnya. Tapi sebelum Ariani sempat duduk, MC sudah memanggil giliran program studinya yakni magister manajement pemasaran, untuk naik keatas panggung menerima ucapan selamat. Sahabat-sahabatnya hanya senyum-senyum saja melihat Ariani, karna nafasnya masih senin kamis menandakan dia habis belari-lari, agar tak terlambat. Dengan ketujuh belas sahabatnya Ariani pelan-pelan melangkahkan kaki menuju panggung. Walau itu yang kedua kalinya dia naik keatas panggung untuk menerima ucapan selamat dari Bapak Dekan serta pejabat kampus yang lainnya. Tetapi rasa haru tak dapat disembunyikannya dari raut wajahnya yang ayu nun rupawan itu. Rasa sedih yang menyelinap masuk kedalam hatinya bukan disebabkan orang tuanya tak menyertainya, namun dapat meraih magister manajement pemasaran. Yang dimana hal itu telah diimpikannya sejak lama.

Satu per satu Ariani dan seluruh sahabatnya mendapatkan ucapan selamat. Lalu, turun dari panggung kembali lagi ketempat duduknya masing-masing sesuai dengan program studinya. Tampak garis kebahagiaan melintang di wajah Ariani dan para sahabatnya. Setelah berjibaku selama dua tahun bergulat dengan materi-materi yang telah diberikan oleh Bapak maupun Ibu dosen. Dan sebelumnya ditambah materi ketika masih di strata satu. Dan akhirnya dapat melanjutkan kejenjang berikutnya yaitu magister, lalu dapat menyelesaikan tepat waktu. Jadi tak heran jika Ariani dan para sahabatnya merasa bahagia seperti ada yang plong dari dadanya. Cita-cita yang diharapkan kini menjadi kenyataan.

Ketika sahabat-sahabatnya duduk di kursinya masing-masing tapi Ariani berpamitan mau kekamar mandi sebentar. Dan setelah dia juga izin sama petugas panitia mau keluar sebentar, agar pintu yang tadinya terkunci biar dibukakan. Pintu ruangan telah terbuka lalu gadis yang baru saja itu selesai diwisuda. Keluar bablas menuju keparkiran mobil tapi orang yang dicarinya tak ada dan selanjutnya berpindah ke cafe ternyata disana lalu menghampiri Nova, yang lagi asik mendengarkan musik menggunakan headset. Nova, yang menunggu di cafe disekitar area gedung, dia tak mengira bahwa sahabat sejak kecilnya itu akan keluar lebih cepat dari jadwal. Jadi tak menyadari kalau akan diberikan kejutan. Ariani, lalu mengagetkan Nova yang lagi asik mendengarkan musik jawa dengan aransemen kekinian yaitu rimix campursari. Sontak Nova dibuat kaget setengah mati karna tak mengira bahwa sahabatnya itu sudah keluar dan ada dibelakangnya. Karna Nova, benar-benar sangat kaget hingga minuman yang dipesannya tumpah dari atas meja membasahi pakaiannya. Dan kemarahanpun juga ditumpahkan kepada sahabat yang baru diwisuda itu.

“Hahahahaha…. “ Ariani tertawa tampak gembira sekali melihat sahabatnya kaget seperti itu.

“Kamu nih semperul sekali yo Ariani!!.” Nova, sembari membersihkan pakaiannya tak henti memarahi Ariani. Tetapi orang yang dimarahi itu hanya tertawa-tawa saja seperti tak bersalah.

“La kamu kok sudah keluar? Katanya jam dua belas baru selesai acaranya, piye to..” Tanya Nova.

“Ia, tapi aku bosen ada di dalam paling acaranya juga seperti waktu wisuda pertama kali, jadi mending kita pulang aja yuk..” Ajak Ariani, untuk pulang saja.

“La, entar kalau temanmu nyari-nyari bagaimana bocah semperul!” Balas Nova, menjawab keterangannya Ariani.

“Entar aku umumin di grup, kalau aku sudah pulang dan mau bobo cantik..” Terang Ariani sambil masih tertawa-tawa saja melihat sahabatnya itu membersihkan pakaiannya. Yang belum juga bersih terkena tumpahan minuman.

“Yo wis, kalau begitu, kita keparkiran..” Perintah Nova, menyuruh sahabatnya itu.

“Tapi, jangan lupa teraktirannya..” Ucap Nova.

“Teraktiran opo to?” Jawab Ariani dengan wajah polos seakan-akan tak tahu maksud sahabatnya itu.

“Iyo, teraktiran kamu wisuda itu dan sekaligus permintaan maafmu membasahi pakaianku ini.” Jelas Nova.

“Kaget itukan salahmu sendiri kenapa kagetan… kaya nenek-nenek… hahaha..” Timpal Ariani, sambil tertawa lagi.

“Yo wis, ayo buruan..” Nova menarik tangan Ariani.

Dengan masih marah yang belum hilang dari raut wajah Nova. Karna dia malu sekali keluar dari kafe dengan pakaian yang basah seperti itu. Tetapi karna apa buleh buat lagi. Dan orang yang menyebabkan dia seperti itu tak meminta maaf apalagi merasa bersalah. Memang sejak dulu Ariani, selalu senang membuat teman-temannya di sekolah kaget, keisengannya ternyata belum juga hilang. Akhirnya, dengan terpaksa Nova harus keluar dari cafe dan menuju kemobilnya dengan menahan rasa malu. Dan kebetulan dia waktu memarkirkan mobilnya ada dibelakang jauh dari cafe tempatnya nunggu tadi. Dengan wajah yang malu sekali Nova, lalu berjalan cepat bagaikan lari-lari kecil di waktu pagi. Soalnya banyak mata yang mengarah kepadanya memperhatikan dirinya dan sahabatnya itu. Karna Ariani memakai rok panjang dan masih menggunakan pakaian wisuda lengkap. Jadi waktu dia mengejar Nova, dari belakang seperti tontonan saja. Lalu, ada anak kecil yang melihat mereka berdua saling kejar-mengejar. Anak kecil itu tertawa terpingkal-pingkal karna melihat Ariani.

Sesampainya didekat mobil kedua gadis itu langsung buru-buru masuk kedalamnya. Tak perlu waktu lama Nova langsung menyalakan mesin kendaraan roda empat itu. Namun, diluar dugaan mobil yang dikendarainya tak bisa langsung keluar dengan cepat dari area parkiran. Disebabkan banyaknya kendaraan yang serupa masih terparkir. Dan di jalan yang menuju pintu keluar dipadati oleh orang berlalu-lalang menunggu sanak keluarganya. Memang sesungguhnya acara belum juga usai sesuai jadwal undangan, karna hanya sahabatnya saja yang mau pulang lebih dulu. Dengan dibantu petugas, akhirnya Nova dan Ariani bisa keluar walau perlu waktu agak lama.

Lalu, Nova mengarahkan mobilnya kearah pulang. Ariani, duduk disampingnya sembari mendengarkan musik lewat hp-nya. Tak terlalu lama dari mereka meninggalkan gedung acara Tiba-tiba Nova, membelokan mobilnya di salah satu tempat toko jualan jajanan.

“Lo, kita kok berhenti disini to Nov?” Tanya Ariani.

“La, memangnya kenapa?” Tanya Nova balik.

“Katanya kamu minta diteraktir?” Jawab Ariani.

“La, ini tempatnya.” Jawab Nova.

“Biasanya kamu milih rumah makan? Inikan toko jajanan.” Terang Ariani.

“Ia, ada dua bocah ayu.” Jelas Nova.

“Maksudmu bagaimana?” Tanya Ariani yang belum mengerti.

“Jadi seperti biasanya nasi bebek, itu ia terus ditambah jajanan ini. Jadi kamu meneraktirku dua kali bocah canti..” Ujar Nova.

“La kok dua kali begitu, bangkurtlah aku.” Jawab Ariani.

“Hahahaha…” Nova, hanya tertawa saja seperti Ariani ketika mentertawakan dirinya.

Mau tidak mau Ariani harus mengalah sama sahabatnya itu. Nova, yang jalan terlebih dulu mendekati etalase makanan yang terpajang disana, hampir semuanya dia ambil. Ariani, tak bisa berkata-kata apalagi karna Nova langsung membawa makanan itu kekasir. Dan lagipula Nova, juga tahu bahwa Ariani mempunyai uang untuk membayar itu semua. Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir mereka berdua lalu berpindah kerumah makan, yang ada diseberang jalan. Dan tak hanya harus membayar makanan yang cukup banyak. Tapi Ariani, juga harus ikut membawa jumlah makanan yang diambil oleh Nova.

Nova dan Ariani, ketika sudah berada di dalam rumah makan nasi bebek tersebut keduanya langsung memesan. Dan tak butuh waktu terlalu lama seorang karyawan datang mendekat dengan membawa pesanan keduanya. Aroma nasi bebek segera mengundang rasa lapar yang sejak tadi tertahan. Nova, lalu melahap isi piring yang ada didepannya satu per satu. Tapi Ketika Ariani, akan menyentuh nasi tiba-tiba ada anak kecil berusia empat tahun mendekatinya. Dan tak berapa lama Ibu dari anak kecil itu datang berniat akan menggendong bocah itu. Tetapi anak kecil itu tak mau malah minta gendong Ariani.

“Maaf, ya mbak sejak tadi anak saya selalu melihat mbaknya, yang mengenakan pakaian wisuda ini.” Ujar Ibu si anak kecil itu.

“Ia, gak papa kok Bu.” Jawab Ariani, yang langsung menggendong bocah kecil imut itu.

Tetapi bocah kecil itu tak mau digendong sambil makan. Ngajak keluar di luar rumah makan. Nova, yang mengetahui hal itu hanya senyum-senyum saja dari tempatnya makan. Karna Nova, makanannya sudah habis dan Ariani belum juga dapat mengembalikan bocah yang berusia empat tahun itu kepada Ibunya. Ketika akan diberikan kepada Ibunya bocah itu langsung menangis, waktu digendong lagi sama Ariani diam sampai beberapa kali. Akhirnya, nasi bebeknya Ariani Nova yang menghabiskan. Ariani hanya diam saja dari tempatnya tak dapat berkata-kata sambil menggendong bocah kecil imut itu. Wajah cemberut diarahkan ke Nova, baginya itu sudah cukup memberitahu bahwa sahabat yang baru saja di wisuda itu sebenarnya kesal, nasi bebeknya dihabiskan. Setelah Nova, menyelesaikan makannya, lalu keluar menuju mobilnya. Karna sebelumnya Ariani, telah membayarnya diawal ketika mereka memesan makanan. Lalu, bocah kecil itu diserahkan kepada orang tuanya dan Ariani, segera menyusul sahabatnya itu masuk kedalam mobil untuk pulang ke rumah. Dua gadis cantik itu akhirnya berjalan menuju pulang.