Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nasehat Peringatan Datang

Hari itu mentari bersinar cerah menemani para petani yang sedang sibuk menggarap sawahnya terlihat nyangkul disana-sini. Memang jika saat musim hujan datang para petani sangat sibuk hampir separuh waktunya dihabiskan ditengah sawah. Angin berhembus dengan lembut memberikan kesejukan dari teriknya Sang Bagaskara. Beberapa ibu-ibu datang kesawah membawa bakul berisi makanan untuk suaminya. Biar tidak perlu pulang dikarenakan setiap penduduk membangun gubuk kecil ditengah-tengah sawah sebagai tempat untuk beristirahat sejenak. Sawah miliknya Patmi, juga terlihat orang banyak sekali sedang mengelolanya ditanami padi seperti pada umumnya. Memang Patmi, tidak pernah ada waktu untuk mengurus sawahnya, selalu orang lain yang mengelolanya. Dia hanya di rumah saja atau keluar jika ada keperluan.

Dari kejauhan mobil berwarna biru melaju pelan-pelan melintasi jalanan desa, melihat arahnya akan menuju kota. Melalui kaca depan terlihat ternyata pengendara mobil berwarna biru itu adalah Patmi, pasti dia akan pergi ketempat saudaranya yang tinggal di kota. Roda bundar kendaraan itu terus berjalan meninggalkan desa dan sawah dibelakangnya. Patmi, dari dalam mobilnya terus memperhatikan jalan setelah kemarin terguyur hujan lebat, sembari sesekali menebarkan pandangannya diarahkan sawah yang terbentang luas dikanan kirinya, dimana sedang ditumbuhi tanaman padi. Satu jam lamanya Patmi, mengendarai mobilnya menuju ketempat kakaknya dia akhirnya sampai juga. Disana dia disambut hangat oleh keponakannya Alvita. Bulek dan keponakan itu saling berpelukan didepan teras.

“Bulek kenapa gak kesini-sini? Sudah lama lo sampai Vita kangen, sama bulek.” Seru Alvita dengan masih mendekap buleknya itu.

“Bulek juga kangen sama kamu Vita, aturan kamu yang main ketempat bulek.” Jawab Patmi, yang masih mendekap keponakannya itu karna dia menganggap seperti anaknya sendiri.

“Aduh bulek, Vita sibuk kuliah banyak tugas dari kampus jadi gak bisa kemana-mana..” Tutur Alvita.

Patmi: “Kamu nih bisa saja ya alasannya…”

Setelah bulek dan keponakan itu saling menumpahkan rasa rindunya yang terpendam lantaran telah lama tidak bertemu, kini mereka masuk kedalam rumah. Didalam rumah Patmi, bertemu dengan kakak iparnya yaitu Yayu. Kakaknya Patmi, sendiri yaitu Haryo Subroto sedang tidak ada di rumah. Patmi, langsung menuju kekamar untuk menaruh tas barang bawaannya karna dia akan menginap barang dua atau tiga malam. Memang sudah menjadi kebiasaannya jika menginap ditempat saudaranya dia selalu tinggal beberapa hari. Dan saudaranya Patmi semuanya tinggal di kota tetapi jaraknya berjauhan. Sedangkan kakak iparnya sibuk membuatkan hidangan untuk dirinya dan kebetulan jam makan siang. Tanpa harus menunggu terlalu lama Patmi, kakak iparnya Yayu dan Alvita sudah duduk di meja makan. Tidak terlalu lama kakaknya Haryo Subroto datang dan langsung saja mereka berempat makan bersama-sama.

Menu hidangan mereka adalah siang itu Garangasem ayam, Gudeg dan Rawon. Mereka berempat makan dengan lahapnya dan sesekali diselingi canda serta tawa. Setelah selesai makan Patmi, membantu kakak iparnya untuk beres-beres dan dibantu oleh Alvita. Setelah semuanya sudah beres Patmi dan Alvita, masuk kedalam kamar untuk ngobrol-ngobrol, sedangkan Yayu dan suaminya Haryo Subroto keluar ada keperluan pergi keacara kondangan ketempat tetangga.

Waktu terus berputar sesuai garis orbitnya. Tanpa terasa malampun telah tiba Patmi, menghampiri kakaknya yang sedang duduk santai ngobrol bersama istri serta anaknya di teras depan, akhirnya dia ikut nimbrung. Patmi, duduk disebelah Alvita yang sambil makan jagung rebus, ngambil dari kebun belakang rumah hasil tanam sendiri. Sambil ikut makan jagung rebus Patmi, mendengarkan kakaknya bercerita kepada kakak iparnya. Soal pemberian pusaka dari orang lain tetapi kakaknya Patmi yaitu Haryo Subroto, tidak mau menolaknya karna takut nanti ada akibatnya. Patmi, awalnya hanya diam saja karna tidak begitu tertarik dengan cerita tersebut. Tetapi lama-lama diapun tergoda ingin tahu dan bertanya kepada kakaknya soal pusaka yang sedang dibicarakan.

"La kenapa to mas sampeyan gak mau menerima?" Tanya Patmi dengan wajah serius tapi sambil makan rebusan jagung.

Pak Haryo Subroto: "Bukan mau atau tidak mau tapi yang jadi soal adalah pusaka itu saktinya kelewat-lewat, aku cuma khawatir saja kalau nanti aku tergoda untuk melakukan yang nggak-nggak to. Namanya orang kan tidak ada yang tahu, walau sudah dihati-hati."

"Aturan bapak ambil aja terus kasihkan kepada bulek ini." Ujar Alvita.

"Diam kamu duk.." Seru ibunya Alvita yaitu Yayu.

"Memang pusaka itu bagaimana to mas?" Tanya Patmi lagi masih penasaran.

"Jadi pusaka dari mbah Klono itu, kalau dibuat berdagang bisa bikin laris, kalau orang itu punya kedudukan bisa naik pangkat. Tetapi yaitu akibatnya kalau kita menzolimi orang semua itu akan hancur. Menurut keterangan mbah Klono seperti itu." Penjelasan dari pak Haryo Subroto kakaknya Patmi.

Patmi: "Kalau begitu gampang to mas? memang orang kan gak boleh saling menzolimi."

"Mulut ngomong gampang tapi orang kalau lagi diatas biasanya lupa terus untuk melakukan yang bukan-bukan." Keterangan dari pak Haryo Subroto.

"Katanya dulu pernah ada, orang menggunakan pusaka itu untuk melakukan yang kurang baik, akhirnya semuanya habis dan ludes dan orangnya itu jatuh sakit parah." Imbuh pak Haryo Subroto.

"La, terus orang yang jatuh sakit itu sekarang kemana mas?" Tanya Patmi.

Pak Haryo Subroto:" Ia tidak tahu, la wong pusakanya itu terus diambil sama mbah Klono kok. Katanya sih dibawa sama keluarganya... Karna dari itu aku tidak mau dikasih pusaka sama mbah Klono, kita syukuri saja hidup seperti ini tidak perlu neko-neko, penting berusaha apa yang bisa dilakukan dan memintalah kepada Tuhan Sang Pencipta kita ini, jangan percaya sama lainnya."

"La, kenapa gak dikasihkan saja sama anaknya mbah Klono atau keluarganya yang lain kan ada to?" Tanya istrinya ibu Yayu.

"Mbah Klono, itu tidak punya anak dan keluarganya tidak ada yang mau." Jawab pak Haryo Subroto.

"Kalau begitu bagaimana dong pak sama mbah Klono?" Tanya Alvita kepada bapaknya.

"Io mbuh ora weruh..." Jawab Pak Haryo Subroto kepada anaknya. Lalu dia mengambil jagung rebus yang masih beberapa butir diatas tampah dialasi daun pisang.

Pak Haryo Subroto: "Kamu Patmi, harus yang lurus dalam bekerja jangan mengejar sesuatu karna hanya pengin dilihat orang hebat atau mencari kekayaan dari jalan yang tidak benar. Buat apa dan untuk apa. Lebih baik yang biasa-biasa saja tapi tetap terus berkarya dalam bidangmu yaitu seni. Misalnya sekarang masih enak tapi nanti bagaimana? Kita tidak ada yang tahu kapan akan terjatuhnya. Jadi kamu Patmi, mending istirahat terus nyari bojo berumah tangga. Kamu mau sampai kapan jadi penari seperti ini terus?"

Orang yang diajak bicara hanya diam saja sembari melihat laron didekat lampu. Ucapan kakaknya membuat Patmi, jadi terhenyak dan ingat pusaka yang ada pada dirinya sekarang. Lalu hubungannya dengan makhluk Nyi Julung Senggoro yang dimana selama ini dia menggantungkan hidupnya. Rasa menyesal bercampur bersalah menjadi satu, mau menangis saat itu juga tapi tidak mungkin dia lakukan didepan kakaknya. Yang ada di benaknya saat itu hanya bagaimana caranya kembali kejalan yang disampaikan oleh kakaknya tadi. Dan dia tahu betul siapa Nyi Julung Senggoro, makhluk iblis yang menggoda manusia mendapatkan harta dengan mudah. Yang terpikat salah satunya adalah dirinya. Nafsu dendam dan diwarnai debu angkara murka memenuhi ruang jiwanya. Yang selama ini dia sembunyikan dari semua keluarganya untuk mencapai puncak kesuksesan.

Akhirnya Patmi, minta izin kepada kakaknya dan kakak iparnya untuk masuk kedalam kamar lebih dahulu dan Alvita, juga ikut menemani buleknya itu. Setelah didalam kamar Patmi, terus kefikiran apa yang telah diucapkan oleh kakaknya tadi. Walau tubuhnya berbaring diatas ranjang tapi fikirannya melayang entah kemana. Sedangkan keponakannya Alvita, sibuk telponan sama teman-temannya menggunakan video call. Karna sedih bersalah dan sebagainya yang susul-menyusul memenuhi seluruh jiwanya akhirnya Patmi, terlelap tidur juga. Dengan ditemani rasa sedih dan bersalah yang mendalam, hingga dia tidak kuat lagi untuk menahan rasa kantuk amat dasyat. Alvita, setelah selesai telpon temannya segera menyusul buleknya itu tapi sebelum tidur diapun menyelimuti Patmi, yang ternyata lupa tidak mengenakan selimut. Karna rasa sedih sehingga membuatnya lupa untuk tidak memakai selimut. Alvita, lalu bersiap untuk menuju kealam mimpi, setelah menyelimuti buleknya.