Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pusaka Semar Mesem Lenyap

Sang dewi rembulan tampak bersinar terang cahaya senyumnya yang indah terlihat mempesona, rasanya ingin terbang mendekatinya. Sepertinya dewi rembulan tidak mau mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Patmi ketika menjelang tidurnya. Suasana semakin sunyi dewi rembulan beranjak dari tempatnya mencari temannya bintang-bintang. Di tanah lapang berdiri sesosok wanita memandangi awan tebal digelapnya malam, disana hanya ada mendung yang sebentar lagi mau turun hujan. Tiba-tiba petir menggelegar begitu kencangnya hingga wanita tersebut jatuh terjenkang diatas tanah, sekilas wajahnya terlihat karna kilat yang menyambar disampingnya, ternyata dia adalah Patmi. Dari garis raut wajahnya dia sedang bingung dan merasa asing dengan tempat itu. Makanya sejak tadi hanya berdiri diam saja memandangi awan, ketika ada petir menggelegar dia kaget. Rintik-rintik hujan mulai turun, semakin lama bertambah lebat saja, hingga pandangan terbatas hanya selangkahan kaki orang dewasa. Suara hujan berderu-deru bercampur dengan hembusan angin yang kencang sekali, sampai-sampai tarikan nafas sendiri tidak terdengar. Patmi, bingung mencari tempat untuk berteduh karna hujan sangat dasyat dan dia benar-benar merasakan kengerian, yang dimana belum pernah dialaminya.Namun, herannya ada suara memanggil namanya dengan jelas dan dari jarak yang tidak begitu jauh dia melihat wanita berdiri menggunakan pakaian kebaya, lalu dipundaknya tersampir selendang seperti seorang penari. Wanita tersebut melangkah kearahnya tetapi Patmi, hanya diam saja seperti arca ditengah lebatnya hujan.

Wanita misterius: “Patmi, cah ayu, kamu lagi apa duk? Jangan seperti orang bingung begitu ora elok.”

Patmi, seperti pernah mendengar suara itu tapi dia bingung dimana tempatnya. Dia berusaha keras mengingat-ngingat pernah mendengar suara itu dimana. Setelah sekian lamanya dia mengingat, tiba-tiba Patmi seperti anak kecil duduk diatas tanah yang basah sembari menangis tersedu. Gumpalan awan tebal rasa bersalahnya Patmi, diwakili oleh pekikan-pekikan tangisannya tiada henti. Satu kata tidak ada yang dapat dia ucapkan hanya tangisan semakin kencang seperti derunya hujan pada malam itu. Sedangkan sesosok wanita misterius itu masih berdiri tegak dihadapannya Patmi, sambil memperhatikan dengan tatapan kasihan seorang mbah kepada cucunya. Tetapi lama-lama wanita misterius tersebut mendekati Patmi, lalu memegang pundaknya dan menyuruhnya untuk duduk dengan baik. Sebelum wanita misterius tersebut mengeluarkan suaranya Patmi, terlebih dahulu memanggilnya.

Patmi: “Mbah Erowati, kulo minta maaf mbah gak bisa menjadi penari sesuai apa yang diinginkan sih mbah. Patmi, salah mbah…”

Ternyata wanita misterius tadi adalah mbahnya Patmi, yang bernama Erowati.

Mbah Erowati: “Ia tidak papa duk, kamu harusnya sabar dan jangan terburu-buru seperti itu tidak boleh. Mbah tidak menyuruhmu seperti itu, kenapa kamu lakukan to duk?”

Patmi: “Ia mbah Patmi minta maaf, Patmi akui salah, gak mengikuti apa kata sih mbah dahulu.. Patmi salah mbah..”

Mbah Erowati: “Kamu tahu duk apa yang kamu lakukan itu?”

Patmi: “Ia mbah tahu.”

Mbah Erowati: “Sekarang kamu mau kembali lagi dan mengikuti apa kata sih mbah dahulu apa tidak? Ini penting untuk masa depanmu nanti duk..”

Patmi: “Ia mbah, mau ngikuti apa yang sih mbah katakan dahulu. Patmi mau tobat mbah.”

Mbah Erowati: “Duk, kalau kita mengikuti hawa nafsu tidak akan pernah ada habisnya puncak kejayaan bukan segalanya dan bukan akhir dari tujuanmu. Tetapi jalani kamu menjadi pesinden penari yang baik jangan seperti itu, mbah tidak mengajarimu begitu.. Kembalilah duk sebelum kamu terlalu jauh langkah kakimu, dengarkanlah suara hatimu.. Eman-eman kamu cantik pinter cucu mbah satu-satunya tapi kamu kok begitu to duk..”

Patmi: “Terus sekarang aku harus bagaimana to mbah?”

Mbah Erowati: “Kamu lepaskan pusaka Semar Mesemmu biarkan sih mbah yang membawanya.. Mau mbah larung ke laut..”

Patmi: “Ia silahkan saja mbah gak papa, Patmi serahkan kepada mbah semua..”

Patmi: “Tapi mbah nanti bagaimana sama orang-orang itu gak ada lagi yang suka kepadaku??”

Mbah Erowati: “Soal itu kamu tidak usah khawatir Patmi. Rejeki itu telah ada yang mengatur dan tidak pernah ketukar.. Sebelum manusia lahir oleh Sang Pencipta telah ditetapkan rejeki setiap manusia…”

Patmi: “Inggih mbah.. Patmi, mengikuti apa kata sih mbah..”

Mbah Erowati: “Ia sudah, sekarang kamu hilangkan semuanya yang buruk dari hatimu, kembalilah kejalan yang benar.. Jangan terburu-buru mengejar sesuatu yang bukan menjadi jatahmu..”

Patmi: “Inggih mbah..”

Patmi, setelah mendapatkan wejangan dari mbahnya, hatinya merasa lega tidak ada lagi yang menghimpitnya. Angin sangat kencang datang lagi tapi kali ini lebih dasyat. Patmi sampai-sampai terbawa terbang tinggi, dia melihat kebawah hingga ngeri. Diapun menjerit-jerit yang sekencang-kencangnya. Tiba-tiba dia sudah ada didalam pelukan keponakannya Alvita, sembari mengguncang-guncangkan tubuhnya. Setelah benar-benar dia membuka matanya ternyata tadi hanya mimpi saja. Lalu Patmi, diambilkan minum oleh Alvita dan dia sendiri duduk masih diatas tempat tidur sembari sandaran tembok, tidak lama keponakannya itu membawakan air untuknya. Jam didinding menunjukan pukul tiga lewat 10 menit pagi, ayam berkokok saling bersaut-sautan memberitahu kepada para bapak petani untuk bersiap-siap pergi kesawah. Setelah menghabiskan dua gelas air putih, lalu Patmi ditanya oleh keponakannya itu.

Alvita: “Bulek sepertinya habis mimpi buruk? Coba cerita mimpi apa to bulek?”

Patmi: “Bulek mimpi berdiri ditengah lapangan yang sangat luas sekali tidak ada orang terus tiba-tiba angin sangat dasyat kencang datang. Bulek belum sempat mencari tempat untuk berlindung dan gak Cuma itu tapi hujan deras sekali. Dan bulek tadi mimpi terbawa terbang tinggi sama angin terus mau jatuh, bulek takut melihat kebawah akhirnya ia itu tadi, bulek menjerit yang sejadi-jadinya..”

Patmi, tidak menceritakan apa yang sesungguhnya kepada Alvita. Jika dia bertemu dengan mbahnya Erowati, berarti mbah buyutnya Alvita. Karna mbah Erowati adalah mbahnya bapaknya Alvita juga. Alvita, mendengarkan buleknya sambil tiduran sepertinya dia tidak tertarik dengan ceritanya. Akhirnya mereka berdua kembali tidur lagi karna waktu juga masih malam, walau sebenarnya sudah hampir pagi. Alvita, sudah meraih selimutnya lagi dan dia sempat melirik buleknya itu, yang masih duduk bersandaran tembok. Tetapi Patmi, hanya menganggukan kepala saja, memberikan isyarat bahwa Alvita disuru duluan tidur lagi.

Patmi, masih duduk termenung memikirkan apa yang telah dikatakan oleh mbahnya kepada dirinya tadi. Rasanya belum percaya yang dialaminya tadi seperti kejadian nyata, bukan dalam mimpi. Apa yang dikatakan oleh mbah Erowati, masih saja terngiang di telinganya, walau pada saat itu hanya ada dirinya dan Alvita yang ada di kamar. Tanpa terasa waktu telah mendekati pagi terdengar sayup-sayup Adzan Subuh ada dimana-mana. Hatinya tersentuh ketika mendengar suara Adzan, memang selama ini dia sudah tidak ada lagi menjalani ibadah sebagaimana yang telah diajari mbahnya Erowati. Patmi, sangat dekat dengan mbahnya itu ketika masih hidup, karna dia dulu sempat tinggal satu rumah. Mbah Erowati, ketika hidupnya juga seorang pesinden penari, terkenal suaranya merdu dan tariannya indah sesuai dengan irama gamelan. Dia jadi teringat ketika mbahnya sehabis pulang dari pentas selalu membangunkannya untuk sholat Subbuh, lalu menyuruhnya bersiap-siap berangkat kesekolah atau kepasar jika pas libur. Tetapi kenapa sekarang menjadi seperti ini. Dia merasa menyesal sekali. Dikelopak matanya yang telah mulai keriput terasa hangat mengalir tetesan air kesedihan dan penyesalan. Tapi hal itu segera diusapnya, karna Alvita bangun dari tidurnya.

Alvita: “Lo bulek, belum tidur lagi??”

Patmi: “Belum duk.. La kamu kok sudah bangun?”

Alvita: “Ia bulek, mau sholat Subbuh.. La bulek gak sholat to??”

Patmi: “Iiiia,,, duk sholat.. Kamu duluan aja ngambil air wudhunya…”

Alvita, segera bergegas keluar kamar untuk menuju tempat mengambil air wudhu. Patmi, juga segera menyusul keponakannya itu untuk mengambil air wudhu yang pertama kali. Diam-diam dia memperhatikan keponakannya itu caranya mengambil air wudhu, karna telah sekian lama tidak melaksanakan ibadah Patmi, jadi bingung harus bagaimana. Matanya terus memperhatikan Alvita hingga selesai, keponakannya itu jadi heran kepada buleknya kenapa memandangi dirinya seperti melihat sesuatu yang menyeramkan.

Alvita: “Kenapa bulek ngelihatin aku kaya gitu memangnya aku aneh?”

Patmi: “Gak kok duk.. Ia sudah sana masuk kamar.. Nanti bulek nyusul..”

Alvita, akhirnya meninggalkan buleknya sendiri di tempat pengambilan air wudhu. Patmi, segera mengambil air wudhu dan mengikuti gerakan keponakannya tadi. Setelah itu Patmi, langsung menuju kekamar untuk sholat Subbuh. Disana Alvita, sedang sholat tapi sudah selesai tinggal berdoa saja. Ketika Alvita, telah selesai sholat kini gantian Patmi, karna kamarnya tidak muat jika untuk berjamaah dua orang. Alvita, lalu duduk ditepian ranjang sembari bermain hp tiba-tiba dia tertawa melihat buleknya itu, karna mengarahkan sabjadah salah menghadap keutara.

Alvita: “Bulek itu salah!!!”

Patmi: “Lo bukannya begini ya duk? Seperti kamu tadi?”

Alvita: “Bukan bulek, memangnya bulek sudah lupa sama arah rumah ini?”

Patmi, hanya diam saja ketika ditanya seperti itu oleh keponakannya. Karna rumah orang tuanya Alvita, itu menghadap ketimur. Akhirnya Alvita merapihkan arah sabjadah yang akan digunakan oleh Patmi. Dia akhirnya sholat dan membaca apa yang diingatnya. Setelah selesai melakukan ibadah Patmi, berdoa tapi bingung apa yang mau diucapkan hanya diam saja hingga dirinya menangis. Sampai Alvita, memegang pundaknya serta memanggil namanya. Akhirnya Patmi, bangkit dari tempat duduknya terus keluar rumah untuk mencari udara segar. Alvita, masih tetap didalam kamarnya sepertinya dia melanjutkan tidurnya.

Patmi, berdiri di halaman rumah dia melihat kakaknya mengendarai motor sepertinya mau pergi dan kakak iparnya sedang ada di dapur. Hingga detik itu Patmi, masih saja kefikiran tentang mimpinya semalam, akhirnya dia memutuskan untuk pulang saja. Niatnya menginap untuk beberapa malam di tempat kakaknya dibatalkan, dia mau melihat pusakanya Semar Mesem. Karna menurut mimpinya semalam pusaka tersebut akan diambil oleh mbahnya Erowati. Dia lalu masuk kedalam kamar untuk merapihkan barang bawaannya, Alvita yang melihat buleknya packing sontak mengundang pertanyaan dibenaknya. Karna katanya mau menginap untuk beberapa malam. Tetapi Patmi, tidak mengindahkan pertanyaan keponakannya itu, dia hanya bilang mendadak ada keperluan. Patmi, terus berpamitan kepada kakak iparnya dan memberikan alasan yang sama.

Setelah semuanya dianggap selesai Patmi, lalu keluar kehalaman menghampiri mobilnya. Kakak iparnya dan keponakannya Alvita, mengiringi dibelakangnya dan sampai-sampai disuruh makan sarapan dia tidak mau, hingga pesinden penari terkenal itu mengendarai mobilnya, semakin jauh meninggalkan rumah mereka. Awan yang berterbangan diatas angkasa menengok mobil berwarna biru dibawah sana, sedang terburu-buru melaju dengan cepat dan pengendaranya terlihat cemas. Patmi, memang ingin sekali secepatnya sampai di rumah melihat pusaka Semar Mesemnya apakah masih ditempatnya. 30 menit dia akhirnya sampai juga di rumahnya, tanpa dimasukan kedalam garasi mobilnya, hanya diparkirkan di halaman. Dengan lari-lari kecil Patmi terus masuk kedalam rumahnya dan menuju kekamarnya. Tangannya dengan cekatan membuka kotak kecil yang disimpan dibawah tempat tidurnya. Setelah membuka kotak kecil itu dan melihat kedalamnya dia kaget seperti orang tersengat kala jenking puluhan. Tetapi didalam kotak kecil itu ada selembar surat dan sepertinya ditunjukan untuk dirinya.

“Patmi, pusakamu sudah aku ambil. Kamu bertobatlah dan tinggalkan hal-hal yang tidak baik itu… Dari sih mbahmu..” Mbah Erowati, ternyata telah mengambil pusakanya Patmi dan meninggalkan pesan untuk dirinya.