Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Selendangku Hilang

Sunyi senyap tiada suara satupun terdengar, Cicak yang ada didinding menutup mulutnya rapat-rapat khawatir akan menggangu tuan rumah, hanya berani memandangi Patmi dari posisinya diatas meja. Kosong, seperti orang tidak tahu arah akan kemana langkahnya hanya bingung yang berkecamuk di fikirannya Patmi. Kotak kecil sebagai tempat menyimpan benda kesayangannya dan menghasilkan pundi-pundi uang sangat banyak, kini harus lenyap hilang selamanya tidak bisa kembali lagi, karna sih mbahnya Erowati telah mengambilnya. Setelah sejak tadi kotak kecil itu dipeganginya terus-menerus, lalu ditaruhnya dibawah lemari. Tampak terlihat murung sekali Patmi, dari raut wajahnya dia tidak ikhlas pusaka kesayangannya harus pisah dengannya. Selain selendangnya, pusaka semar mesem itu juga salah satu kekuatannya. Karna dari itu dia meminta dengan sangat kepada Nyi Julung Senggoro, untuk merebut pusaka tersebut dari sih mbahnya Marni, pesaingnya dahulu.

Lemas bagaikan tidak mempunyai tenaga Patmi, di ruangan depan dia berbaring walau pada saat itu, cuaca sangat panas sekali. Tetapi dia sudah tidak merasakan hal tersebut lagi, dalam hati kecilnya masih mengharapkan bahwa mbahnya Erowati akan menembalikannya. Ketika Patmi, sedang tenggelam dalam lamunanya, tiba-tiba dari arah ruang tamu ada yang menlponnya. Di layar hp dia membaca keponakannya Alvita, yang menelponnya.

“Halo bulek.. Lagi apa?” Tanya Alvita, dari seberang telpon sana.

“Ia lagi gak apa-apa duk..” Jawab Patmi, dengan suara seperti orang lesu.

“Lo, tapi dari suaranya bulek kaya lagi gak semangat begitu kenapa to bulek?” Tanya Alvita lagi.

“Gak papa duk cah ayu.. Mungkin bulek kecapekan dan lagi pula juga belum sarapan..” Jawab Patmi, untuk menutupi rasa kekecewaannya yang sangat mendalam.

“Makannya bulek tadi sarapan dulu, kan Vita sudah bilang, ibu juga sudah bilang kalau sarapan dulu jangan terburu-buru pulang.. memangnya ada keperluan apa to bulek??” Alvita, terus masih bertanya kepada buleknya Patmi.

“Gak papa.. Kamu ada apa kok telpon bulek?” Tanya Patmi, kepada Alvita.

“Begini bulek, mas Eko katanya mau kerumah bulek, tadi dia kesini dikira bulek masih ada disini.. Nah terus setelah tahu bulek gak ada disini dan sudah pulang, jadinya mas Eko mau main dan aku mau ikut.. Boleh to bulek??” Jelas Alvita, kepada buleknya, bahwa saudara sepupunya mau main ke rumahnya Patmi.

“Ia, sudah gak papa, jam berapa mau mainnya?” Tanya Patmi.

“Ia, ini bulek langsung OTW kesana.. Tunggu ya bulek..” Jelas Alvita. Lalu sambungan telpon itu diakhiri.

Patmi, setelah menaruh telponnya diatas meja dia kembali lagi berbaring ditempatnya tadi. Seperti tidak semangat atau gembira keponakan-keponakkannya mau pada datang. Dia hanya mengeluh dari dalam hatinya:

“Kalau pusaka itu hilang aku terus bagaimana, selendang dan pusaka semar mesem itu adalah dua benda yang serasi, sampai aku menjadi seperti ini.. Kalau Nyi Julung, tahu terus bagaimana dan alasan apa yang harus aku berikan..”

Patmi, terus saja terdiam ditempatnya, sampai orang-orang yang bekerja di rumahnya bertanya apakah dirinya sedang sakit. Namun, pesinden terkenal itu hanya menggelengkan kepalanya dan berpesan jika ada tamu disuruh masuk saja serta langsung dibuatkan minuman. Terus dia masuk kedalam kamarnya pintunya dikunci dari dalam dan lampunya dimatikan. Wanita setengah baya itu, sebagian wajahnya sudah terlihat keriput walau belum semuanya. Tapi dari pancaran sorot matanya memberikan tanda bahwa semangat untuk menjadi pesinden dan penari terkenal, masih ingin terus selamanya, jangan sampai ada yang boleh mengalahkan atau mengunggulinya. Dia merebahkan badaannya diatas ranjang Patmi, berusaha memejamkan matanya untuk tidur agar bisa melupakan pusaka yang dincintainya, dimana selama ini sudah membantu dirinya mengumpulkan harta kekayaan. Beberapa menit berlalu dan sudah satu jam lebih tapi dia belum juga bisa tidur. Selalu teringat apa yang dikatakan mbahnya Erowati, melalui mimpinya kemarin malam dan lenyapnya pusaka semar mesem. Bayangan buruk bahwa pamornya akan turun dan tidak laku lagi, penyebab dirinya sulit memejamkan mata. Dari luar ada yang mengetuk-ngetuk pintunya, ketika dilihat ternyata pekerja di rumahnya, memberitahu bahwa keponakannya Eko beserta istrinya dan bersama Alvita, menunggu di ruang tamu. Patmi, tanpa berkata apapun langsung bergegas menuju keruang tamu dan benar saja keponakan-keponakannya sudah duduk menunggu, Eko bersama istrinya dan Alvita.

“Halo bulek!! Kok pucat to wajahnya bulek sakit ya??” Seru Alvita, ketika melihat buleknya itu keluar dari ruangan tengah.

“Gak, bulek sehat-sehat saja.. Kamu Eko dan istrimu la yo podo sehat to??” Tanya Patmi, kepada Eko dan istrinya.

“Alhamdulillah bulek sehat..” Jawab Eko.

Istrinya Eko: “Ia, bulek saya sehat.. La bulek sehat to??”

“Bulek, ia seperti ini namanya saja sudah tua.. Ia sudah silahkan duduk.. Dibikinkan minum dulu ya..” Tutur Patmi.

Mereka bertiga lalu duduk kembali setelah sungkem. Sedangkan Patmi, pergi kebelakang membuatkan minum dan mengambilkan makanan untuk keponakannya yang pada kerumahnya. 10 menit kemudian tuan rumah sudah keluar lagi dengan membawa empat cangkir minuman, yang satu untuk dirinya dan beberapa piring berisi makanan kecil sebagai cemilan. Akhirnya mereka berempat bulek dan keponakan itu duduk bersama ngobrol-ngobrol, saling bercanda tertawa, berbicara ngalur ngidul. Karna sudah lama juga Patmi, tidak bertemu dengan keponakannya Eko, sejak pernikahannya beberapa bulan yang lalu.

Obrolan mereka semakin asik saja tanpa terasa waktu sudah sore, jam didinding menunjukan 16.30 WIB. Eko, akhirnya menunda obrolan itu untuk Sholat Ashar dahulu. Mereka berempat akhirnya Sholat berjamaah di ruangan tengah rumahnya Patmi. Sehabis melaksanakan ibadah mereka kembali lagi ngobrol-ngobrol ditempat yang tadi. Keponakan dan bulek itu akhirnya makan bersama di ruangan belakang dengan lauk ayam bakar, ikan bakar dan sambal terasi. Sembari makan tetap bercanda dan tertawa.

“Ohya bulek, mas Eko katanya mau halimun disini boleh gak???” Celetuk Alvita.

“Ia, boleh saja tapi kok kamu yang bilang to duk Vita? Jangan-jangan kamu sendiri yang mau menginap disini??” Saut Patmi.

Ramainya Tertawa pecah disela-sela makan mereka berempat. Sehabis makan Alvita, Eko dan istrinya kembali lagi keruangan depan untuk duduk-duduk menikmati suasana sore hari, selang tidak lama Patmi keluar sembari membawa secangkir kopi.

“Ohya mas kita pulang jam berapa ya?” Tanya Alvita, kepada Eko.

“Entar aja habis Maghrib, nanggung nih tinggal sebentar lagi.” Jawab Eko.

“Kenapa buru-buru to Vita?” Tanya Patmi.

“Ia bulek, besok Vita ada acara di kampus..” Jelas Alvita.

Patmi, hanya menganggukan kepala saja dan Eko beserta istrinya diam mendengarkan keterangan Alvita. Memang benar waktu sudah hampir maghirb, tinggal beberapa menit lagi. Karna Eko, harus mengantarkan adik sepupunya itu terlebih dahulu kerumahnya, baru dia melanjutkan perjalanan pulang bersama istrinya. Jadi jika pulang pada saat itu akan kehabisan jadwal Maghrib, lebih baik menunggu beberapa saat. Benar saja tidak terlalu lama suara Adzan terdengar dari HP miliknya Eko. Di desanya Patmi, jauh dari Masjid atau Mushola, jadi bisa dikatakan suara Adzan tidak pernah terdengar walau sayup-sayup. Eko, lalu diikuti istrinya, Alvita dan Patmi mengambil air wudhu dibelakang rumah. Setelah itu mereka berempat berjamaah lagi. Patmi, ketika mendengar keponakannya itu membacakan ayat suci, dalam hatinya terasa terharu bercampur sedih yang amat sangat dasyat sampai-sampai, dia meneteskan air matanya terbawa perasaannya. Selesai melaksanakan ibadah Eko, istrinya dan Alvita mohon pamit pulang karna waktu sudah malam.

Istrinya Eko: “Bulek, pulang dulu ya.. Bulek sehat-sehat selalu ya..”

Eko: “ Bulek, Eko pulang dulu ya.. Nanti kapan-kapan main lagi..”

Alvita: “Bulek, aku mau pulang dulu yaa,, besok aku jemput bulek ya, gantian nyinap ditempatku masa Cuma semalam..”

“Ia, duk Vita, nanti bulek nyinap ditempatmu lama..” Jawab Patmi, sambil tersenyum kepada keponakannya itu.

“Ia, kalian yang hati-hati di jalan ya kapan-kapan kamu Eko dan istrimu, katanya mau halimunan disini??” Tutur Patmi.

“Aaahhh, bulek, itukan katanya dik Alvita saja…” Jelas Eko, sambil tersenyum kecil.

Patmi: “Beneran juga gak papa..”

Setelah selesai berpamitan kepada buleknya mereka bertiga akhirnya masuk kedalam mobil, mesin mulai menyala dan selanjutnya meninggalkan halaman rumahnya Patmi. Si pemilik rumah masih berdiri ditengah halaman memperhatikan mobil keponakannya itu, hingga tidak terlihat ditikungan jalan. Suasana yang sepi itu mendadak Patmi, mencium aroma bunga melati dari arah dalam rumahnya, dia langsung berlari masuk menuju kamarnya. Karna dia sangat mengenal aroma bunga yang diciumnya itu, tak lain adalah dari Selendangnya. Tangannya dengan secepat kilat membuka kotak berwarna hitam dan didalamnya ada kain kafan, dimana diatasnya diikat seperti orang meninggal.

Patmi, sangat kaget ketika dia membuka tali pocong pengikat Selendangnya. Matanya terbelalak lebar ketika mengetahui isi dalam kain kafan yang ada digenggamannya. Selendang, yang selama ini membawanya terbang mengantarkan kepuncak keteran tapi mendadak hilang, sudah tidak ada ditempatnya. Seketika wajahnya pusat seperti mayat, nyawanya bagaikan terbang keawang-awang dan tubuhnya terasa lemas. Patmi, tiba-tiba jatuh tersungkur pinsan sembari tetap memegang kain kafan, yang isinya yaitu Selendangnya kini tidak ada lagi. Tapi aroma bunga melati itu, tetap terus ada dan semakin lama bertambah menyengat terbawa terbang tinggi bersama angin malam menuju ketempat sunyi nun jauh disana. Sehingga membuat kaget makhluk yang menciumnya.