Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Berburu

Burung di pagi hari berkicau suaranya menyambut mentari yang baru saja terbit menambah semarak suasana menemani orang yang akan berkarya. Tampak dari kejauhan rumah yang cukup besar apabila dibandingkan dengan rumah-rumah di desa itu. Walau terlihat bentuk rumahnya biasa saja seperti yang lainnya hanya saja ukurannya memang berbeda dengan rumah disekelilingnya. Lagipula didepan rumah itu berdiri pendopo yang sangat besar ukurannya. Hanya orang tertentu saja yang dapat membangun pendopo segitu megahnya seluruh bangunannya menggunakan kayu jati semuanya dan untuk penyangganya satu kayu utuh yang baru ditebang dari hutan. Dan bukan hanya itu tetapi pemilik rumah tersebut merupakan pejabat kerajaan sebagai senopati perang ternama. Namun disaat itu sang senopati tak ada di rumah sedang mengemban titah dari junjungannya paduka gusti prabu. Untuk menumpas kerusuhan yang mengganggu ketentraman kawula alit. Sehingga rumah besar yang ada diujung desa hanya ditinggali oleh istri, anak dan menantunya yang baru saja melaksanakan pernikahan beberapa bulan lalu.

Terlihat seorang pria masih muda duduk di samping rumah sedang menghitung jumlah warastra;anak panah lalu dimasukkan kedalam endong tempat mewadahi anak panah lagi setelah dirasa jumlahnya cukup untuk berburu nanti. Tiba-tiba seorang wanita muda menghampiri memberitahu bahwa sarapan pagi dan persiapan untuk berburu sudah tersedia semuanya. Tidak ada yang tertinggal. Terdengar dari percakapan mereka berdua ternyata dua orang itu adalah Limpat Palagan putra sang senopati yakni Rangga Sela. Dan wanita muda itu ternyata adalah istri Limpat Palagan yang bernama Kartika Widuwati. Keduanya baru saja menikah sebelas bulan yang lalu sedangkan Kartika Widuwati lagi mengandung sembilan bulan. Dia memberikan peringatan kepada suaminya untuk tidak berburu juga kalau bisa.

“Kakang kalau bisa jangan berangkat berburu ya perasaanku sungguh tak enak.. “ Tutur Kartika Widuwati.

“Itukan hanya perasaanmu saja adinda… Buktinya selama ini kakang berangkat berburu tidak ada apa-apa kan? Sudahlah tenang saja di rumah bersama ibunda Sekar Sari..” Ujar Limpat Palagan sambil tersenyum membelai rambut istrinya yang hitam panjang terurai serta istrinya itu dipeluknya. Pelukkan itu bagaikan pelukkan yang terakhir. Karena Limpat Palagan memeluk istrinya berbeda dari yang biasanya hal tersebut dirasakan oleh Kartika Widuwati. Tetapi diapun tidak berani mengatakan apa-apa segera mengikuti suaminya untuk kemeja makan.

Setelah Limpat Palagan selesai sarapan paginya dan mempersiapkan perbekalan untuk selama berburuan ditengah hutan diapun berpamitan kepada istrinya itu dan kepada ibunya. Lima orang abdinya ternyata sudah menunggunya di halaman rumah dan merekapun juga sudah siap dengan peralatan berburunya seperti panah, lembing, tombak serta senjata lainnya yang bisa dilemparkan dari jarak jauh. Gerobakpun juga sudah disiapkan untuk membawa hasil dari perburuan dan dua ekor kuda juga sudah dipersiapkan untuk menyeret gerobak besar itu. Kudanya Limpatpun juga sejak tadi terlihat tak sabar menunggu tuanya binatang tinggi besar berwarna hitam dan larinya yang cepat itu selalu meringkik memanggil-manggil pemiliknya. Tak lama kemudian Limpatpun keluar rumah dengan diiringi istrinya dan diapun langsung menaikki kuda hitam itu serta para abdinya melihat majikkannya sudah diatas punggung kuda merekapun segera menaikki kudanya masing-masing, satu orang yang berada didalam gerobak. Sebelum berangkat Limpat mencium kening istrinya lalu diapun mengajak lari kuda kesayangannya itu. Kartika Widuwati selalu mengiringi suaminya dengan iringan doa agar Gusti Maha Pencipta Kehidupan melimpahkan karunia keselamatan.

Kuda hitam tinggi besar itu berlari kencang sekali seolah-olah mengetahui ketempat kemana tuannya inginkan kaki-kakinya yang kekar berlari bagaikan angin. Limpat Palagan terus berguncang-guncang diatas kuda kesayangannya dia tak ingin berhenti untuk istirahat barang sejenak karena nanti sore sudah harus sampai di tempat hutan yang dituju apabila berhenti akan memakan waktu lama diperjalanan dan bisa kemalaman di jalan. Dan para apdinya mengiring dibelakangnya dengan diatas kudanya masing-masing terus memacu begitu kencang biar tidak ketinggalan tuannya. Memang benar sebelum matahari tenggelam dia beserta rombongannya sudah tiba di hutan yang dijadikan tempat melepaskan kegemaran berburunya. Diapun segera memerintahkan kepada apdinya untuk mendirikan kemah dan perapian sedangkan Limpat sendiri mengawasi suasana disekitar dari atas pohon yang tinggi sekali.

Sebentar kemudian kemah sudah berdiri ada dua yang satu untuk dirinya dan yang satunya lagi untuk para apdinya. Setelah Limpat turun dari atas pohon mengamati keadaan sekitar diapun memutuskan untuk tinggal ditempat itu saja. Sang malampun sudah datang mengembangkan selimut hitamnya sehingga sinar matahari tak tampak lagi dipermukaan cakrawala. Limpat beserta apdinya duduk mengelilingi perapian sembari menikmati bakaran daging kelinci yang didapatkannya di tempat sekitar itu. Bergemeretak suara apipun membuat suasana tak benar-benar sepi.

Waktupun merambat bertambah malam setelah keenam orang yang ada ditengah hutan itu ngobrol-ngobrol serta ditemani dengan bakaran daging kelinci, lima antaranya masuk kedalam kemah untuk beristirahat hampir seharian berkuda tanpa berhenti sehingga rasa lelah merayapi tubuh kelima orang itu. Tinggal Limpat Palagan yang belum istirahat masih duduk-duduk didepan perapian walaupun kelima apdinya sudah didalam kemahnya. Diapun kefikiran apa yang telah dikatakan oleh salah satu apdinya konon ceritanya di hutan yang mereka tinggali saat ini, ada siluman naga yang berwujud seperti manusia sering kali mengganggu siapapun. Karena siluman itu tidak ingin tempatnya ada yang menempatinya selain dirinya. Sehingga hutan tersebut tidak ada yang berani menjamahnya terlihat dari ukuran kayunya besar-besar sekali dan rumput-rumput tumbuh disana-sini begitu lebatnya, hingga tiga ekor kerbau yang untuk membajak sawah tidak mungkin terlihat apabila bersembunyi disitu.

Limpat untuk menjawab rasa penasarannya yang terus menggodanya untuk ingin tahu membuktikan benar apa tidaknya cerita tersebut. Diapun bangun dari tempat duduknya setelah berdiri langit yang bersih dipandanginya. Sebelum Limpat melangkahkan kakinya diapun berdiri tegak lurus-lurus lalu memejamkan matanya, nafasnya ditariknya dalam-dalam sebanyak tiga kali, sebentar kemudian aliran hangat terasa di matanya. Itu berarti Limpat sedang mentrapkan ilmunya Netra Rembulan. Dimana orang yang memiliki ajian itu dapat melihat di waktu malam tak bedanya seperti siang hari meskipun keadaan sekitar gelap pekat. Ajian tersebut selalin dapat disuasana gelap seperti halnya di waktu malam tetapi mempunyai kelebihan lain yaitu bisa melihat makhluk siluman atau makhluk jadi-jadian dengan Netra Rembulan wujud aslinya bisa diketahui, disamping itu juga bisa melihat jarak yang jauh sekali, mata biasa tak mungkin untuk menjangkaunya.

Berlahan-lahan Limpat Palagan melangkahkan kakinya dan tubuhnyapun segera lenyap dibalik pepohonan. Suasana didepan kemah menjadi sepi kembali api yang bekas untuk membakar daging kelinci tadi lama-lama reduk dan akhirnya padam. Para apdinya Limpat yang sudah didalam mimpi tak tahu orang yang diikuti tadi siang entah kemana.

Sudah cukup jauh Limpat Palagan berjalan tetapi dia belum juga melihat adanya tanda-tanda siluman yang dimaksudkan muncul. Karena cukup jauh dia berjalan dan sepertinya waktu sudah tengah malam akhirnya Limpatpun istirahat dibawah pohon jati yang mempunyai ukuran sebesar badan kerbau enam ekor dijadikan satu. Belum terlalu lama dia duduk tiba-tiba telinganya mendengar langkah kaki tetapi seperti langkah kakinya tak menyentuh tanah maupun rumput sehingga hampir tak terdengar dan langkah kaki itu dari arah depan datangnya. Dia memperkirakan langkah kaki itu akan tiba dihadapannya sepuluh kali kunyahan anak kecil. Tetapi Limpat pura-pura tidak tahu meskipun dia sudah bersiap-siap kemungkinan yang akan terjadi. Karena dengan ajiannya Netra Rembulan dia sudah tahu siapa yang datang dan memang itu yang diinginkannya. Keris serta tombaknya dipersiapkan sejak didepan kemah tadi dipegangnya ternyata masih ada terselip dipinggangnya. Dia semakin tenang dan bertambah pura-pura tidak tahu.

Benar tidak begitu lama Limpat mendengar tertawanya dari seorang wanita dan diapun ditanya oleh sumber suara itu. Setelah saling bertanya ternyata sumber suara tadi adalah makhluk siluman yang dicari oleh Limpat Palagan. Cundrik Manis siluman mengaku namanya itu. Yang perwujudtannya semampai tingginya, wajahnya dingin tak ada ekspresi dan tatapan matanya tajam tak berkedip. Suaranya yang datar menyuruh Limpat untuk pergi dari situ karena kehadirannya membuat panas sehingga mengusik ketenangannya. Orang yang disuruh pergi tetapi tidak mau tetap disitu. Mereka berdua tetap pada pendiriannya masing-masing lalu terjadilah pertempuran keduanya.

Mengingat Limpat Palagan adalah putra dari senopati perang kerajaan maka segala macam bentuk pertarungan dengan manusia maupun dengan siluman tak ada masalah. Diapun melayani serangan demi serangan dari siluman naga yang ternyata berwujud wanita, dengan hati tenang. Setiap serangan yang berbentuk pukulan, tendangan yang dimana bentuk tendangannya itu seperti sabetan ekor naga dan sesekali dari mulutnya menyemburkan upas. Walaupun Limpat Palagan terkadang harus melantingkan tubuhnya tinggi-tinggi untuk menghindari semburan upas. Dan apabila siluman wanita itu menendang Limpatpun harus cepat-cepat menarik badannya jauh kebelakang, karena siluman itu kalau menendang kakinya menjadi panjang berubah menjadi ekor.

Sepeminuman segelas kopi Limpat belum ada tanda-tanda kelelahan karena gerakkannya dilambari dengan dua ajian yang selalu diandalkan yakni Jati Waseso. Segencar apapun serangan lawan dirinya tetap bisa ditepisnya. Lalu ajian keduanya yaitu Kencana Maruta sehingga gerakkannya bisa secepat angin. Selama pertarungan Limpat Palagan belum juga mengadakan perlawanan hanya menangkis ataupun menghindarinya. Tetapi siluman Cundrik Manis terlihat semakin gusar mengetahui lawan tandingnya masih segar bugar. Dan setiap semburannya ataupun tendangan kakinya yang seperti sabetan ekor naga selalu menghantam pohon-pohon yang ada disitu, sehingga pepohonan yang besar-besar banyak bertumbangan. Dan akarnya berserabutan bagaikan sehabis diangkat oleh tenaga yang sangat kuat.

“Hai Limpat jangan hanya kaya anak kecil lompat sana-sini.. ayo seranglah aku.. Aku ingin mengerti bagaimana seranganmu…” Seru siluman Cundrik Manis.

“”Apakah kau sudah siap menerima seranganku? Dan kalau kau musnah apakah juga sudah siap?” Balas Limpat Palagan.

“Bedebah!!!! Jajal keluarkan aku mau tahu bagaimana seranganmu….” Tantang Siluman Cundrik Manis.

Limpatpun memang sudah tak sabar segera ingin menyelesaikan pertarungan itu. Diapun memejamkan matanya lalu memusatkan fikirannya tiba-tiba sekujur tubuhnya bergetar seperti orang kedinginan itu berarti ajian Samudro Geni yang mengendap didasar jiwanya siap untuk digunakan. Segala apapun jika dipegang atau dihantam menggunakan ajian itu akan merubah menjadi arang yang tersentuh tangannya. Lalu pertarungan kembali dimulai kali ini Limpat tak ayal-ayalan lagi. Diapun mencari-cari kesempatan untuk menghantam makhluk siluman itu yang ternyata memang ganas. Cundrik Manispun tidak kuat sekujur tubuhnya terasa panas lama semakin lama rasa panas selalu bertambah. Dan hawa serangan dari Limpat seperti kobaran api yang tertiup angin besar belum lagi jika Cundrik Manis menginjakkan kakinya di tanah juga terasa panas yang amat sangat dasyat. Bagaikan disekelilingnya ada kobaran api yang menyala-nyala tapi tidak ada wujudnya. Limpatpun melihat lawannya sudah keteteran dan disaat siluman wanita itu membalikkan badannya akan meninggalkan arena pertandingan, Limpat tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Siluman naga wanita itu akhirnya berhasil dihantam telak di badannya, seketika silamun itu terpelanting jauh kebelakang.

Limpat melihat musuhnya itu sudah terkapar diapun mundur beberapa tindak tidak melanjutkan penyerangan. Limpatpun hanya memperhatikan dari jarak yang cukup jauh apa yang terjadi berikutnya sehingga diapun masih berdiri dengan kuda-kudanya siap untuk melanjutkan pertarungan kembali. Sesaat lamanya siluman Cundrik Manis masih tergeletak diatas tanah mendadak asap hitam keluar dari lobang telinganya, hidungnya dan dari rongga mulutnya yang sejak tadi menganga. Kepulan asap itu berkumpul tepat diatas siluman itu dan disaat berikutnya kepulan asap itu membungkus tubuh si Cundrik Manis. Setelah kepulan asap menghilang tubuhnyapun juga ikut menghilang hanya suaranya yang terdengar diawang-awang.

“Hai Limpat ragaku sekarang memang berhasil kau musnahkan dengan ajianmu itu.. Tetapi ingat pembalasanku kepada anakmu tunggulah saatnya tiba…” Tandas siluman naga wanita Cundrik Manis.

Limpat Palagan yang mendengarkan hal itu tidak menjadikan soal dan diapun tidak memperdulikannya. Setelah dianggap sudah tak ada apa-apa lagi Limpatpun kembali kekemahnya jangan sampai para apdinya mencari-carinya. Karena dari itu dia segera mempercepat langkahnya lalu masuk kedalam kemahnya. Dan diapun segera berjalan darimana asalnya tadi. Angin malampun membisikkan kepada kesatria itu bahwa sebentar lagi pagi akan tiba siap menemani para petani yang sedang berusaha keras menanam padi.