Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jangan Bersedih

Diinginnya angin hutan dipagi hari membuat orang tak ingin jauh dari selimutnya sembari mendengarkan burung-burung yang berkicau dengan riang gembira. Limpat Palagan keluar dari kemahnya dia melihat ketiga abdinya sedang membakar jagung dan singkong. Tanaman-tanaman itu diperolehnya dari penduduk desa yang tidak begitu jauh dari tempatnya itu. Sedangkan abdinya yang keempat dan abdinya yang kelima lagi pergi ketengah hutan mencari ayam-ayam alas untuk dibakar sebagai pelengkap menu sarapan. Namun tak lama kemudian kedua abdinya yang binatang buruan untuk sarapan sudah datang membawa tujuh ekor ayam-ayam alas akhirnya mereka berenam, selain sarapan jagung dan singkong bakar serta ditambah hewan yang ada di hutan.

Aroma harum bakaran berasal dari tiga macam bentuk makanan itu terbawa asap membumbung tinggi memberitahu kepada penduduk desa terdekat bahwa ada enam orang yang sedang menikmati hidangan pagi ditengah hutan. Ketika Limpat Palagan dan kelima abdinya sedang terkonsentrasi perhatiannya di makanan yang ada di tangannya masing-masing, abdinya yang pertama tiba-tiba berseru membuat kaget orang yang sedang sarapan di pagi itu. Limpatpun segera bertanya ada apa ternyata abdinya yang pertama melihat dua ekor burung merpati berbulu emas. Sontak yang ada didepan kemah itu berdiri mengikuti arah telunjuk abdi yang pertama tersebut. Ketika diperhatikan ternyata betul ada dua burung merpati berbulu emas tetapi yang satunya didadanya bulunya perak. Mereka berenam menninggalkan makanan yang sudah di bakar dan berikutnya berjalan sangat pelan-pelan sekali untuk melihat dari jarak yang tidak begitu jauh agar lebih pasti.

Kedua burung merpati itu setelah diperhatian dari jarak yang tidak begitu jauh ternyata sepasang jantan dan betina. Sepertinya kedua binatang yang berbeda jenis itu sedang bermadu kasih tampak saling kejar. Apabila merpati betina terbang jauh lalu hinggap di dahan pohon yang cukup tinggi sembari kepalanya menoleh kearah merpati jantan. Dan merpati jatanpun segera terbang menyusul selalu seperti itu sampai beberapa kali. Limpat Palagan dan kelima abdinya hanya mengikuti dari belakang, sebelum mengikuti terlalu jauh Limpatpun kembali kekemah untuk mempersiapkan perlengkapan berburunya serta para abdinyapun disuruhnya mempersiapkan alat-alat berburu.

Keenam orang tersebut tidak lagi sadar bahwa mereka sudah berada ditengah-tengah hutan jauh sekali meninggalkan tempat kemahnya dan disamping itu setiap mereka mengejar merpati agar tidak kehilangan jejaknya. Tanpa disadari keenam orang itu sudah mengeluarkan ilmu meringankan tubuh biar lebih cepat dalam berlari. Kini Limpat dan para abdinya sudah diatas bukit hal itu baru disadarinya ketika burung merpati bersama-sama hinggap di pohon yang rindang dan bawahnya terbentang sendang yang airnya jernih. Abdinya Limpatpun yang kelima segera memberitahu kepada dirinya bahwa kawasan tersebut adalah wilayah pertapaan dari resi Tirta Jati. Limpatpun lalu memandangi tempat itu benar nyatanya. Tempat dimana dia pernah belajar segala hal dari mulai kesaktian olah kanuragan, berlajar aksara sampai mempelajari nilai-nilai kehidupan.

Meskipun demikian Limpat sudah terpesona oleh burung merpati berbulu emas dan yang betina berbulu perak didadanya. Dalam hatinya Limpat burung merpati itu akan di panah lalu diadiahkan kepada istrinya yang mengandung sembilan candra; sembilan bulan. Dia sudah tidak berfikir lagi untuk meminta izin sang resi sebagai penguasa kawasan, walau semua abdinya sudah mengingatkan untuk menghadap bopo resi terlebih dahulu. Selanjutnya Limpat menarik dua anak panah sekaligus dari endongnya lalu dipasangkan dengan tali gendewa, tali gendewapun ditarik-tarik sampai mengeluarkan suara bergemerit dan diapun menarik nafas tuju kali, ditarikan yang ketuju. Panah yang tidak begitu panjang dan tidak begitu besar melesat cepat bagaikan kilat menembus dada merpati betina. Sebenarnya panah yang satu sudah diarahkan ke merpati jantan dan panah yang satunya lagi memang diarahkan ke merpati betina. Tetapi ketika Limpat akan melepaskan panah ada sekor lalat masuk kedalam lobang hidungnya penyebab dia terbatuk-batuk, sehingga dua anak panah keduanya menancap didada merpati betina.

Merpati jantanpun mengetahui kekasihnya mati terkena dua batang anak panah yang menancap didadanya. Seketika merpati jantanpun terbang tinggi-tinggi untuk melihat dari angkasa siapa yang mempunyai perilaku demikian rupa. Setelah merpati jantan itu melihat kebawah ternyata ada enam orang yang bersembunyi dibalik semak belukar. Dan yang satunya masih memegang gendewa di tangan kirinya lalu kelima orang lainnya ada dibelakangnya. Merpati jantan segera turun dari angkasa lalu langsung menyerang Limpat yang masih memegang gendewa, karena merpati jantan sangat marah sekali ketika sedang bermadu kasih tiba-tiba kekasihnya yakni merpati betina dipanah oleh orang tak dikenal.

Ternyata merpati jantan itu dapat berkelahi seperti layaknya manusia dan serangannya sampai-sampai membuat Limpat Palagan kerepotan membendung yang datang bertubi-tubi seperti air waduk jebol. Akhirnya Limpatpun mengeluarkan seluruh kemampuannya yang dimilikinya. Pertarunganpun menjadi sengit saling serang satu sama lainnya. Ternyata merpati jantan itu juga mempunyai kesaktian yang Limpat belum pernah melihatnya ataupun dia dengarnya dari bopo resinya maupun cerita dari para sesepuh, kalau ada sekor burung dapat bertarung dan mempunyai kesaktian. Beberapa ajian kesaktian sudah dikeluarkan diantara mereka yang sedang bertarung. Setelah dirasa-rasa merpati belum melihat bahwa lawannya akan roboh, burung berbulu emas itu lalu terbang tinggi-tinggi lagi. Limpatpun melihat gelagat yang kurang baik diapun segera mencabut kerisnya yang bernama gajah wuru.

Keris gajah wuru sudah keluar dari werangkanya dan mengeluarkan pamor keemas-emasan, senjata pusaka itu pemberian dari resi Tirta Jati. Burung merpati jantan mengetahui Limpat sudah menggenggam keris pusaka, merpati jantan itu matanya bagaikan nyalanya api di malam hari. Dan bulu-bulunya yang seperti emas tadi berubah menjadi mirip paser senjata rahasia. Pertarunganpun dilanjutkan kini saling serang menggunakan senjatanya masing-masing. Limpat seperti dihujani anak panah tapi kecil-kecil bentuknya. Senjata paser yang dilepaskan oleh burung merpati jantan lalu berhasil dihindari maupun ditangkis oleh Limpat Palagan, yang selanjutnya senjata kecil itu jatuh di tanah karena banyaknya bagaikan sebatang pohon jagung yang sudah tidak ada jagungnya. Pertarungan berlangsung cukup lama tetapi belum juga ada yang kalah, namun dari keduanya sudah merasa lelah. Burung merpatipun sebenarnya juga sudah lelah sekali tapi belum mau mundur kalau orang yang penyebabkan kekasihnya meninggal, belum meninggal juga.

Burung merpati jantan itu kembali lagi terbang tinggi-tinggi tetapi kali ini kedua sayapnya dikembangkan lebar-lebar, lalu dari kedua matanya mengeluarkan asap putih yang menyelimuti seluruh badannya. Setelah asap putih itu hilang burung merpati jantan itu berubah menjadi bertambah besar bagaikan lima ekor gajah dijadikan satu. Limpat yang mengetahui hal itu langsung mengeluarkan ajian simpanannya yakni Hening Maruta. Dimana seluruh tempat itu seperti ada angin yang sangat besar sekali hingga mampu mengangkat kayu-kayu yang ada di hutan. Setelah keduanya sudah siap dengan ajiannya masing-masing burung merpati jantan segera menghantam Limpat. Dan Limpatpun yang sudah siap dengan ajiannya langsung menggebrak burung berbulu emas itu. Lalu keduanya tergeletak terkapar karena terluka dalam yang sangat parah disebabkan benturan tenaga sakti.

Ketika mereka berdua sudah berada dititik terakhir resi Tirta Jati datang berdiri ditengah-tengah kedua makhluk yang sehabis bertarung itu walaupun berbeda jenis makhluknya. Akhirnya resi tua itu menjelaskan bahwa burung merpati jantan itu adalah adik sepeguruannya dulu yang main bersama istrinya. Limpatpun menyatakan rasa bersalahnya dan meminta maaf yang sebesar-besarnya. Tetapi merpati jantan itu tidak mau memaafkannya dan sebelum nyawanya pergi menyusul kekasihnya. Merpati jantan itu mengatakan.

“Hai manusia yang tidak melihat tata krama… Nanti kalau istrimu melahirkan anak pertamamu.. Anakmu akan tidak dapat melihat terangnya matahari…” Kutukkan dari merpati jantan. Sehabis mengatakan itu burung merpati berbulu emas itu lalu menyusul merpati betina yang sudah meninggal terlebih dahulu.

Limpat Palagan ketika mendengar kutukkan itu hatinya merasa sedih dan dia lalu berkata kepada bopo resi kalau menitipkan anaknya yang masih dalam kandungan. Agar didik yang sebaik-baiknya. Setelah mengatakan itu Limpat Palagan menghembuskan nafas terakhirnya.