Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kekuatanku Musnah

Angin malam datang membawa aroma yang sangat dikenal nyi Julung Senggoro membuatnya kaget dan wajahnya tampak marah sekali. Malam itu makhluk iblis, yang dipuja-puja Patmi selama ini sedang melakukan semedi. Nyi Julung Senggoro, hidungnya mendengus keras sambil memanggil nama sekutunya itu. “Patmi!!!!” Setelah itu dia langsung memejamkan matanya dan kedua tangannya dijulurkan keatas tinggi-tinggi, kakinya menghentakan ketanah tubuhnya melesat bagaikan anak panah siap menjemput nyawa musuhnya. Aroma yang tercium nyi Julung Senggoro, disebabkan dari selendangnya Patmi. Hal itu cukup baginya untuk memberitahu bahwa murit sekutunya sudah melanggar pantangan larangan. Jadi makhluk iblis itu sangat murka sekali mengetahui Patmi melanggar pantangan.

Tapi lain halnya orang yang sedang tergeletak tidak berdaya ditengah lantai ruangan kamar sejak tadi hanya diam saja tanpa berkutik matanya terpejam rapat. Patmi, setelah mengetahui apa yang terjadi pada selendangnya dia seperti orang yang kehilangan kekuatannya lemas tidak mempunyai tenaga apa-apa. Untuk mengangkat tangannya saja dia tidak dapat melakukan hal itu. Dari nafasnya sangat lemah hampir tidak terdengar, dia benar-benar lemas tidak berdaya apa-apa lagi. Yang ada difikirannya saat itu, dia teringat nasehat mbahnya untuk kembali kejalan sebagaimana mestinya selalu terngiang di telinganya. Hanya suara nyamuk disekitarnya sebagai temannya tapi tidak berani mendekatinya khawatir nanti akan terkena dosanya juga dan mengalami yang sama.

Patmi, tidak menyadari diluar rumahnya ada angin besar yang mutar-mutar kencang sampai pohon terangkat terbawa terbang. Siapa saja melihatnya pasti akan menjauhi rumahnya dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Karena tidak ada mendung atau kejala alam lainnya. Tapi suasana dirumahnya Patmi, sangat menyeramkan tanpa tahu sebabnya apa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Yang dapat merasakan keanehan pada malam itu hanya hewan ternaknya Patmi yaitu sapi-sapinya. Yang kandangnya ada dibelakang rumahnya. Sapinya Patmi, didalam kandangnya bersuara terus sejak tadi dan tidak bisa diam selalu bergerak-gerak sampai terdengar kedebukan. Orang yang bekerja di rumahnya Patmi, sudah terlelap tidur sejak sore jadi tidak mengetahuinya.

Sedangkan si pemilik rumah yaitu Patmi, tubuhnya semakin lama berkurang tenaganya seperti orang minggal. Nafasnyapun, juga tidak kentara bila dilihat dari jauh kecuali benar-benar dekat sekali. Saat itu rumahnya Patmi, seperti di kuburan saja suasananya. Lampu didalam rumahnya maupun diluar semuanya mati tidak ada yang bercahaya. Bagaikan rumah kosong tidak berpenghuni puluhan tahun lamanya terlihat sepi dan angker.

Angin semakin lama bertambah kencang saja dan waktu terus merangkak menuju kepertengahan malam. Disekitar rumahnya Patmi, suasana sepi semakin menggigit perasaan. Hanya burung hantu yang sejak tadi sesekali berbunyi dan ditemani burung gagak. Rembulan sepertinya enggan menyinari rumah misterius itu. Dari jauh gumpalan-gumpalan hitam yang sangat pekat mengelilingi rumahnya Patmi, sehingga tidak terlihat lagi bentuk atapnya, temboknya dan bahkan pohon dihalaman. Gumpulan hitam itu pelan tapi semakin cepat mengeluarkan suara yang bergumuruh. Siapa yang mendengarnya pasti akan lari terbirit-birit. Karena mirip seperti runtuhan sebongkah batu dari atas tebing. Lalu sesosok bayangan merah sebesar enam ekor gajah yang sedang berjejer menjadi satu berdiri didepan pintu rumahnya Patmi.Tidak terlalu lama bayangan merah itu dapat mengeluarkan suara “aaaahhh!!!” Sangat kencang sekali bahkan tanah sampai bergetar. Tidak hanya itu saja tapi pintu yang ada dihadapannya hancur porak-poranda menjadi kepingan kecil.

Namun Patmi, yang ada didalam rumah tidak mendengarnya. Setelah bayangan merah itu masuk kedalam rumahnya Patmi, langsung menuju kamar. Bayangan merah itu mau masuk kedalam kamarnya Patmi tapi tidak bisa seperti ada tembok tebal yang membatasi. Hal itu dilakukan oleh makhluk bayangan merah terus-menerus sampai beberapa kali. Karena pintu kamarnya Patmi, tidak ditutup ketika dia tergeletak dilantai. Jadi dia tahu siapa gerangan bayangan merah itu yang mau masuk kedalam kamarnya. Tapi karena dia sudah tidak berdaya lagi jadi hanya diam saja dari tempatnya berbaring. Suaranya yang lemah seperti orang berbisik tapi terdengar jelas Patmi, menyebut bayangan merah itu nyi Julung Senggoro.

Ternyata bayangan merah tadi adalah penjelmaan nyi Julung Senggoro, perwujudtannya ketika dia sedang marah besar. Akhirnya nyi Julung Senggoro, karena tidak dapat masuk kedalam kamar sekutunya itu, dia berdiri tegak didepan pintu sambil memandang tajam kearah Patmi. Dari ujung rambutnya sampai kakinya berwarna merah semuanya, menandakan makhluk iblis itu sedang murka. Lalu dia berteriak lantang keras sekali sampai-sampai telinganya Patmi, mengeluarkan darah hitam dikarenakan teriakan tersebut.

“Aaaaa!!!!!!!” Nyi Julung Senggoro berteriak.

“Dasar kamu makhluk tidak tahu diri, murtat.. Kamu telah melanggar pantangan yang aku wanti-wanti jangan sampai dilanggarnya.. Tapi kenapa kamu langgar!!!!” Ucap nyi Julung Senggoro dengan suara berapi-api.

Tetapi karena Patmi, sudah tidak berdaya lagi untuk berbicara. Akhirnya pesinden ternama itu hanya diam saja. Nyi Julung Senggoro, tetap masih berdiri didepan pintu kamarnya Patmi.

“Kenapa kamu langgar hehe Patmi!!!!” Ucap nyi Julung Senggoro. Tapi Patmi, tetap diam saja seperti tadi. Tidak ada kata yang terdengar dari mulutnya. Lama-lama nyi Julung Senggoro, menjadi bertambah gusar. Makhluk iblis itu mau menyerang Patmi tapi tahu-tahu dia merasakan angin dingin dari arah samping kirinya. Nyi Julung Senggoro, segera menghindar karena dia tahu bahwa itu adalah sarangan. Sekarang yang berdiri didepan pintu kamarnya Patmi, adalah mbahnya Erowati. Tapi nyi Julung Senggoro, belum tahu kalau itu adalah mbahnya Patmi. Mbah Erowati, sempat melirik kearah cucunya yang masih berbaring lemas dilantai kamar. Lalu mbah Erowati, melihat nyi Julung Senggoro, sambil tersenyum. Dan makhluk yang dipandanginya itu membalas pandangan dengan mata kemarahan.

Mbah Erowati: “ Ini to yang menyeret cucuku kelembah hitam untuk mencari ketenaran.”

Nyi Julung Senggoro: “ heh.. kamu makhluk darimana dan kenapa berani-beraninya menggangu urusanku!!”

Mbah Erowati: “ Kenalkan aku si mbahnya Patmi, cucuku kamu hasut untuk menjauhi jalan yang pernah aku ajarkan..”

Nyi Julung Senggoro: “ oh!!! Kamu si mbahnya cucu penghianat itu.. memangnya kenapa kalau aku mengajari dia untuk ikut dengan caraku? Itu bagus-bagus saja, yang terpenting tercapai..”

Mbah Erowati: “ Cucuku sekarang harus kembali kejalan yang benar, tidak boleh lagi mengikuti kamu heh makhluk jelek…”

Nyi Julung Senggoro: “ Tidak bisa dia adalah sekutuku.. malah kau si mbah jelek harus minggir dari hadapanku..”

Setelah berdebat beberapa saat lamanya kedua makhluk dari alam ghaib itu saling bertanding didepan kamarnya Patmi. Sedangkan si pemilik kamar hanya diam saja tidak dapat melakukan apa-apa. Patmi, sebenarnya ingin memberitahu mbahnya bahwa nyi Julung Senggoro, adalah makhluk yang licik dan culas. Tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan mengingat kondisinya masih lemas.

Depan kamarnya Patmi, menjadi seperti kapal pencah saja tembok dan apa yang ada disitu menjadi berpelantingan kemana-mana. Nyi Julung Senggoro, beberapa kali berusaha untuk menyerang mbah Erowati tapi selalu berhasil ditangkisnya. Nyi Julung Senggoro, lama-lama menjadi gusar karena serangannya dapat dipatahkan dengan baik. Sedangkan disisi lain yaitu mbah Erowati, melayani serangan dengan santai dan tenang. Akhirnya nyi Julung Senggoro, mengeluarkan ilmu ajian pamungkasnya. Dan mbah Erowati, sangat menyadari hal itu bahwa lawannya akan mengeluarkan ajian-ajiannya jadi tidak mau ikut ketinggalan, menyiapkan juga ajiannya untuk melawan. Setelah keduanya siap dengan ilmu andalannya masing-masing pertarungan dilanjutkan lagi. Ketika nyi Julung Senggoro, mau menyerang. Tapi mbah Erowati, telah mendahului. Akhirnya nyi julung Sengoro, terjatuh diatas lantai.

Mbah Erowati: “ Bagaimana apakah kamu masih mau memaksa cucuku untuk mengikuti jalanmu yang sesat itu?”

Nyi Julung Senggoro: “Ampun.. tidak… terserah cucumu… Ampuni aku..”

Mbah Erowati: “ Ia aku akan mengampunimu. Tapi jangan sekali-kali menggangu cucuku lagi..”

Nyi Julung Senggoro: “ Ia sudah izinkan aku pergi dari sini..”

Akhirnya nyi Julung Senggoro, pergi dengan membawa luka dalam diakibatkan serangannya mbah Erowati. Setelah dianggap aman mbah Erowati, masuk kedalam kamar cucunya itu dan dihampirinya. Wanita sepuh itu lalu duduk disampingnya Patmi, dengan matanya terpejam dan tidak lama tangannya mengusap wajah cucunya yang seperti kehilangan kekuatan. Tidak terlalu lama Patmi, merasakan tubuhnya seperti semula lagi segar dan kekuatannya pulih sebagaimana mestinya. Lalu Patmi, mencium tangan mbahnya itu dan mereka berdua duduk ditengah ruangan sambil ada beberapa hal yang disampaikan oleh mbah Erowati, kepada cucunya.

Mbah Erowati: “ Begini genduk, sekarang kamu sudah terbebas dari pengaruh nyi Julung Senggoro, yang selama ini membelenggumu.”

Patmi: “ Tapi mbah, kenapa aku tadi kok bisa menjadi lemas tidak berdaya lagi?”

Mbah Erowati: “ Begini genduk, karena kamu sudah kehilangan kekuatan dari selendang merahmu terus kehilangan kekuatan dari pusaka Semar Mesemu.. Jadi selama ini kamu hidup dipengaruhi sama dua kekuatan itu.”

Patmi: “tapi mbah bukannya dua pusaka itu hanya benda saja?”

Mbah Erowati: “Ia genduk betul tapi kamu harus tahu.. Tanpa sepengetahuanmu nyi Julung Senggoro, telah memasukannya kedalam tubuhmu.. Sekarang coba dingat-ingat kamu pernah melakukan ritual apa?”

Patmi: “Ohya mbah aku baru ingat.. Aku pernah disuruh ngerendem dan setiap purnama aku melakukan ritual-ritual.”

Mbah Erowati: “Nah itu genduk, jadi ibarat tali bundelannya adalah selendang merah yang sering kamu pakai itu… Jadi kalau selendang merah itu hilang dan kamu melanggar syarat ketentuan. Maka selendang merah itu sebagai bundelan akan lenyap dengan sendirinya.. Dan kamu akan merasakan lemas seperti tadi karena kekuatanmu darisana.”

Patmi: “Berarti aku sekarang harus bagaimana mbah? Karena semua pusaka itu sudah lenyap..”

Mbah Erowati: “Kamu tidak usah khawatir, rezeki itu sudah ada yang mengaturnya.. Yang terpenting sekarang jalani hidupmu dengan baik dan benar.. Lagi pula apa yang kamu miliki sekarang ini sudah cukup untuk hidup sehari-hari.”

Mbah Erowati: “Dan satu lagi genduk, rezeki yang kamu dapatkan dengan apa adanya itu lebih baik, walau hanya sedikit.. Karena tidak hanya sehat badanmu saja tapi harus sehat juga rohanimu genduk..”

Patmi: “ Siap mbah.. Nasehat mbah gak aku lupakan dan Patmi, minta maaf kemarin sudah tersesat jalan.. Dan janji tidak mengulanginya lagi..”

Mbah Erowati: “Ia sudah, sekarang ibadahmu ditekuni seperti dulu mbah ajarkan kepadamu, jangan sampai lupa untuk sholat lima waktu..”

Patmi: “Baik mbah.. Patmi, akan selalu ikuti.”

Lalu si mbah dan cucu tersebut berpelukan sebelum akhirnya mereka berpisah memang alamnya yang berbeda. Patmi, duduk termangu diruangan tengah rumahnya dia belum dapat percaya apa yang baru saja dialaminya. Tetapi kali ini dia tidak merasa ada mengganjal direlung hatinya karena dua benda yang selama ini menemaninya berjalan menuju puncak kesuksesan. Lain halnya ketika dia tahu bahwa pusaka Semar Mesem, lenyap dari tempatnya. Itu dia merasa kehilangan kekuatan yang sangat dasyat, sehingga untuk ikhlas tidak bisa. Patmi, memulai menapaki jalan kehidupan baru tanpa adanya dua benda yang dipercayainya sebagai sumber kekuatan. Didalam hatinya Patmi berucap.

“Aku pasti bisa dan semuanya akan ku serahkan kepada Gusti seng gawe urip.” Terjemahannya: Gusti Yang Membuat Kehidupan.