Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Melahirkan Saat Kesedihan

Matahari condong kebarat artinya senja telah tiba dan sebentar lagi dewi malampun segera menembangkan kidungan kesunyian. Malampun tak dapat ditolak kehadirannya duduk seorang wanita cantik di balai angin-angin yang letaknya berada disamping rumah. Wanita tersebut sejak tadi duduk terdiam seperti mendengarkan jangkrik-jangkrik yang sedang membacakan bait puisi tentang kesedihan dimana ditujukan untuk dirinya, dari seseorang yang sangat dicintainya bahwa tak akan dapat bertemu kembali untuk selamanya. Mendadak wanita berparas ayu itu sontak bangun dari hanyutnya suasana, tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara petir yang menggelegar, sampai-sampai tiang balai peranginan yang untuk menikmati istirahat malam, menjadi bergetar dan kursi yang didudukinya ikut bergetar.

Wanita itu seperti melihat bayangan sesosok pria ternyata setelah diamati bayangan tersebut ialah suaminya, yang tak lain adalah Limpat Palagan. Ketika Kartika Widuwati, menyapa suaminya itu menanyakan kenapa tidak terdengar suara kudanya. Tetapi Limpat Palagan, hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan istrinya itu dan Kartika Widuwati juga tidak melanjutkan pertanyaannya. Istri yang sedang mengandung itu segera memegang erat tangan suaminya yaitu Limpat Palagan. Yang sejak tadi duduk terdiam dari raut wajahnya terlihat garis-garis kesedihan memikirkan sang suami yaitu dirinya. Limpat Palaganpun berjalan pelan-pelan mendekati istrinya lalu diapun segera membelai rambut yang panjang terurai itu, lalu mencium keningnya dan tidak lupa mengelus-ngelus perut istrinya itu. Ketika hujan deras datang yang disertai angin besar, Limpat Palaganpun lenyap seperti terbawa angin. Kartika Widuwati entah mengapa tiba-tibapun menangis seperti orang yang tenggelam didalam lautan duka yang mendalam. Tangisan Kartika Widuwati sama derasnya air mata yang dikeluarkan dengan air hujan saat itu. Diapun tak tahu apa sebabnya tiba-tiba perasaan sedih sudah memenuhi ruang jiwanya.

Ketika Kartika Widuwati menangis diapun sayup-sayup mendengar suara yang menyapanya setelah dilihat abdi pertama, yang ikut pergi bersama suaminya beberapa hari lalu untuk berburu.

“Oh paman abdi pertama.. Sudah lama paman?” Tanya Kartika Widuwati sembari menyeka air matanya.

“Ia doro ayu… hamba sudah sejak tadi tapi takut untuk mengganggu…” Jawab penjelasan dari abdi pertamanya Limpat Palagan.

Kartika Widuwatipun segera bertanya kepada abdi suaminya itu, kenapa yang datang hanya dia saja, sedangkan suaminya tidak terlihat. Lalu abdi pertama itu menjelaskan secara berlahan-lahan apa yang terjadi terhadap junjungannya. Setelah abdi pertama itu selesai menceritakan peristiwa yang menimpa Limpat Palagan, sehingga membuat dirinya tewas. Dan tidak hanya sampai disitu saja kabar berita yang Kartika Widuwati dengar tetapi soal sabdha kutukan dari burung merpati jantan, yang ternyata masih ada kerabat dari resi Manjerkawurian.

Kartika Widuwati mendengarkan itu semua bagaikan hujan anak panah ribuan jumlahnya menghuncam dirinya yang tak kuasa untuk ditolaknya. Kartika Widuwati, bertanya-tanya sendiri yang tadi membelai rambutnya dan bahkan mengusap perutnya dimana didalamnya ada si cabang bayi yang akan menyambung tali sejarah diantara mereka. Akhirnya wanita berrambut panjang hitam terurai itu terjatuh pinsan tidak lagi kuat menahan rasa sakit kesedihan dan beban. Dimana ketika anak pertama mereka sebentar lagi akan lahir di dunia fana. Tetapi orang yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, menjadi penghibur manakala dia sedang gundah dan orang yang selalu menuntun mengarahkan ketempat yang terang ketika kadangkala dia sedang berada didalam ruangan gelap.

Abdi pertama lalu menggendong tubuh Kartika Widuwati dibawa keruangan tengah untuk dibaringkan dan disana ternyata sudah ada ibunda Limpat Palagan. Karena ayahnya sendiri sedang mengemban tugas negara menumpas para perusuh. Ibunda Limpat Palagan duduk terdiam disamping tubuh anaknya itu yang sudah diingin dan kaku membeku. Sedangkan Kartika Widuwati masih terbaring dalam pinsannya.

Yang di ruangan tersebut hening, hening, hening tidak terdengar suara satupun. Walau hanya tarikkan nafas ataupun desiran angin benar-benar sunyi. Tiba-tiba suara Kartika Widuwati terdengar bangun dari pinsannya lalu melihat kesamping kanan sontak teriakkan tangisannya tidak lagi dapat dibendung. Karena dia masih belum percaya dan belum bisa menerima kenyataan yang harus dialaminya. Seperti suara hujan yang ada diluar saat itu ikut menemani dirinya menangis dan petir menggelegar juga turut membuat pilu bagi orang yang mendengarkannya. Sembari meneteskan air mata Kartika Widuwati terus dan terus memeluki jenazah suaminya itu yang sudah ditinggalkan sukma sejatinya. Ibu mertuanyapun mengetahui tingkah laku memantunya itu tidak dapat berkata-kata walaupun hanya satu kata. Dan kelima abdi yang setia itu hanya terduduk diam menundukkan kepalanya, hati merekapun terasa pilu sendainya saja waktu dapat diputar, barangkali kalau junjungannya itu mau meminta izin terlebih dahulu terhadap resi Manjer Pepadang, bisa jadi tidak seperti ini.

“Ia sudah duk tak perlu lagi menangis yang berlebihan.. Semua ini sudah dalam garis pepesti dari Sang Pencipta…” Tutur ibunda Limpat Palagan.

“Tapi ibu kakang Limpat ingin tahu anaknya lahir dan kenapa harus secepat ini meninggalkan….” Ujar Kartika Widuwati. Yang masih saja memeluki tubuh suaminya.

Abdi yang pertama lalu memberanikan diri untuk angkat bicara langkah selanjutnya bagaimana. Tetapi yang menjawab adalah ibunda Limpat Palagan, karena Kartika Widuwati belum dapat diajak berbicara banyak. Lalu wanita setengah tua itu memberikan pengarahan terhadap abdinya, memang benar tidak baik larut didalam kesedihan sedangkan upacara pemakamanpun harus segera dilaksanakan. Keputusanpun diambil abdi pertama mengabari sanak keluarga yang jauh maupun yang dekat, lalu abdi kedua memberitahu kepada warga sekitar dan ketiga abdi lainnya mempersiapkan yang diperlukan esok pagi.Sedangkan Kartika Widuwati tetap ada disitu ditemani oleh mertuanya. Hujan diluarpun sudah berhenti tidak lagi menumpahkan air yang mengiringi tangisan kesedihan.

Malampun terus berjalan menuju ambang batas terbitnya fajar yang ditandai ayam berkokok saling saut-menyaut. Waktupun bergulir dengan sendirinya para warga sekitar sudah berkumpul di halaman rumah Rangga Sela yang putranya telah mendahuluinya disaat dirinya tidak ada. Kesibukan para warga membantu kelima abdi tuan rumah, terlihat gilir mudik keluar masuk ruangan. Dan selain itu saudara-saudara yang jauhpun mulai berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Limpat Palagan yang mereka kenal selama ini sangat baik. Setelah semuanya dirasa sudah siap raga yang tak bernyawa itu diangkat dari peti, lalu kemudian dibawa ketempat istirahatnya terakhir kali dan selamanya.

Kartika Widuwati melihat peti yang didalamnya terbaring kaku tubuh suaminya diangkat beberapa orang untuk dibawa kepemakaman, diapun kembali menangis hingga tak sadarkan diri. Sedangkan ibunda Limpat Palaganpun mengetahui peti anaknya dibawa keluar rumah tiba-tiba pinsan karena tidak kuat menahan kesedihan. Tetapi titiwanci memang orang yang disayangi harus berpindah tempat tak lagi dapat bersama-sama begitulah cerita kehidupan manusia di muka bumi.

Sehabis Limpat Palagan selesai dimakamkan lalu para yang hadir kembali pulang kerumahnya masing-masing termasuk keluarga besarnya. Rumah bangunan besar itu menjadi sunyi lagi Kartika Widuwati masuk kedalam kamarnya sejak tadi siang, sedangkan ibunda Limpat Palagan juga demikian. Tinggal kelima abdi dan dua embok ban yang selalu ada dibelakang, untuk mempersiapkan makanan ataupun lainnya apabila doro putrinya memperlukan sewaktu-waktu. Kelima abdi pria itu rapih-rapih di halaman rumah dan disamping rumah. Tanpa terasa malampun sudah menyapa lagi terlihat senyumman dewi rembulan turut berduka dari pancaran sinarnya mengarah kerumah itu. Ditambah lampu minyak yang reduk memberikan isarat bahwa tuan rumah sedang diselimuti tebalnya kabut duka.

Waktu terus berjalan tak mengenal dalam situasi seperti apa. Kartika Widuwati, merasa lelah tubuhnya seharian dia kurang beristirahat tetapi sesungguhnya bukan itu dalam hatinya masih tetap belum percaya bahwa suaminya akan meninggalkan dirinya secepatnya. Karena tubuhnya sudah sangat lelah dan ditambah perasaannya dia tanpa terasa terlelap juga. Kartika Widuwati, tiba-tiba melihat ada seekor kupu-kupu terbang dibelakang rumahnya dia lalu menghampiri mau diambilnya. Tapi ketika dia mendekat kupu-kupu itu terbang. Kejadian itu berulang hingga beberapa kali, akhirnya dia merasa lelah dan istirahat dibawah tanaman bunga anggrek. Ketika Kartika Widuwati, sedang asik istirahat dia melihat suaminya Limpat Palagan datang membawakan kupu-kupu yang dikejarnya tadi. Kartika Widuwati, sangat senang sekali hatinya karena suaminya membawakan kupu-kupu untuknya. Saat Limpat Palagan, menyerahkan kupu-kupu pada istrinya itu dia sempat berbisik bahwa nanti dia ingin anaknya diberikan nama Seno Angkoso. Tapi diwaktu yang bersamaan kupu-kupu yang dipegang oleh Kartika Widuwati, terbang dan Limpat Palagan berusaha untuk mengambil lagi binatang mungil itu. Tapi Kartika Widuwati, melihat suaminya kekanan dan kekiri tidak ada diapun mengalihkan perhatiannya mencari suaminya. Kartika Widuwati, lari kesana dan kesini dicari-cari tidak ketemu juga. Lalu dari jauh dia melihat ada gumpalan angin mendekatinya dan tubuhnya terpelanting. Diapun berteriak memanggil nama suaminya tapi yang datang abdi dan mertuanya. Kartika Widuwati, bertambah bingung melihat disekelilingnya. Dia lalu menceritakan apa yang baru saja dialaminya, ternyata itu tadi hanya mimpinya.

Kartika Widuwati, tiba-tiba perutnya merasakan sakit terus dia langsung memberitahu kepada mertuanya soal kandungannya. Dengan cekatan mertuanya langsung memeriksa kandungannya ternyata Kartika Widuwati akan melahirkan. Seisi rumah para abdi, diberitahu diperintahkan untuk melakukan persiapan bahwa bendaranya sebentar lagi akan melahirkan. Abdi pertama, diberikan tugas untuk memanggil dukun bayi yang ada di desa tersebut. Belum seberapa lama abdi pertama sudah datang bersama dukun bayi yang dimaksudkan. Dukun bayi tersebut langsung saja membantu proses lahiran Kartika Widuwati anak pertamanya. Mertuanya Kartika Widuwati, menunggui di ruangan tengah bersama para abdi mereka berdoa dalam hatinya masing-masing semoga diberikan kelancaran. Tampak jelas dari raut wajahnya mertuanya Kartika Widuwati, terlihat cemas setelah mengetahui bahwa menantunya akan melahirkan. Sedetik, dua detik terlewati lalu dari arah kamar dalam dimana Kartika Widuwati dan si dukun bayi mereka berdua, terdengar suara tangisan anak kecil. Tidak terlalu lama dukun bayi keluar dari kamar dengan menggendong anak bayi akan dimandikan. Para abdi sibuk, ikut menyiapkan apa saja yang kurang atau apa yang bisa dibantu.

Setelah Kartika Widuwati, juga selesai dimandikan oleh si dukun bayi baru mertuanya dan para abdi mengucapkan selamat kepadanya. Terlihat berseri-seri wajah yang ada di rumah itu ketika mengetahui bahwa bayi yang baru saja dilahirkan ternyata laki-laki dan wajahnya mirip seperti Limpat Palagan. Kartika Widuwati, waktu melihat putranya dia jadi teringat suaminya dan wajahnya kembali lagi menjadi sedih. Tetapi mertuanya dan para abdinya yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri segera memberikan pengertian kepada dirinya. Bahwa itu semua sudah kehendak dari Sang Pencipta Kehidupan. Setelah mendengarkan kata-kata tersebut Kartika Widuwati, kembali lagi ceria dan dia segera mendekap putranya itu untuk diberikan asi. Dia lalu teringat bahwa anaknya harus diberikan nama sesuai apa yang dikatakan oleh suaminya melalui mimpi dan mertuanyapun langsung menyetujuinya. Selamatan bubur merah dan putih segera dipersiapkan untuk meringati si jabang bayi yang akan diberikan nama Seno Angkoso.

Acara selamatan bubur merah dan putih sudah selesai. Lalu waktu terus bergulir mengikuti matahari yang akan istirahat di tempatnya. Tapi tidak demikian dengan Kartika Widuwati, yang sedang duduk bersandar dinding dalam kamarnya sembari memangku putranya yang masih bayi merah itu. Karena sejak tadi bocah kecil itu belum juga tidur. Jadinya Kartika Widuwati juga tidak dapat beristirahat, yang dia lakukan mengelus kepala bocah itu dengan diiringi perasaan haru didalam hatinya kenapa ini harus terjadi. Tetapi hanya angin yang dapat mendengar suara hatinya Kartika Widuwati. Sedangkan mertuanya dan para abdi rumahnya sudah masuk kedalam kamarnya masing-masing karena waktu merangkak ketengah malam.

“Nak, seandainya saja ayahmu masih pasti dia akan senang melihatmu yang tampan dan wajahmu mirip seperti ayahmu nak.. Semoga kamu nanti kelak bisa menjadi seperti ayahmu seorang kesatria yang membela wong cilik tanpa pamrih tetap hidup sederhana di desa seperti sekarang..” Tutur Kartika Widuwati pada anaknya. Seperti tahu apa yang sedang dirasakan ibunya bocah kecil yang masih merah itu, langsung memejamkan matanya untuk tidur. Setelah anaknya benar-benar sudah tidur diapun juga segera menyusul membaringkan badannya, disamping putranya.

Didalam tidurnya Kartika Widuwati, melihat bahwa anaknya sedang ditimang-timang oleh suaminya dia hanya memperhatikan saja. Lalu Limpat Palagan, membarikan putranya itu yang masih bayi merah diatas ranjang dan berikutnya dia duduk bersila disampingnya dengan matanya terpejam rapat. Setengah peminuman the Limpat Palagan, mengusap tubuh anaknya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sedangkan Kartika Widuwati, hanya diam saja di tempatnya berdiri memperhatikan apa yang dilakukan oleh suaminya pada anak mereka. Ketika bocah kecil itu diusap dari ujung rambutnya sampai ujung kaki oleh ayahnya tangannya terlihat bergerak-gerak seperti anak yang sudah berusia satu tahunan. Kartika Widuwati, kaget dia hampir tidak percaya apa yang dilihatnya itu. Karena anak yang baru saja dia lahirkan belum ada satu minggu usianya, baru tadi siang. Setelah melakukan apa yang Kartika Widuwati, tidak mengerti lalu Limpat Palagan, menggendong anaknya itu lagi dan diberikan kepada istrinya yang sejak tadi diam saja sembari berkata.

“Jaga anak kita, dia nanti akan menjadi seorang kesatria yang pilih tanding tiada lawan dan gemar membantu tanpa pamrih..” Tutur Limpat Palagan kepada istrinya itu. Kartika Widuwati, hanya diam saja tidak ada yang dapat dia katakan walau satu katapun, hanya menggangguk saja. Setelah itu Limpat Palagan, hilang dari hadapan istrinya dan anaknya.

Lalu Kartika Widuwati, mendengar anaknya menangis kencang sekali akhirnya dia melangkah buru-buru dan tidak menyadari bahwa didepannya ada dingklik; bangku kecil istilah jawa. Kakinya tersandung dingklik itu dan dia terjatuh. Ternyata apa yang dilihatnya tadi hanyalah mimpi semata tapi seperti benar saja. Ketika dia lihat anaknya masih tidur anteng ditempatnya. Kartika Widuwati, langsung bergegas ke kamar mertuanya untuk menceritakan semuanya apa yang dilihatnya tadi dalam mimpi. Ketika mertuanya mendengarkan apa yang dituturkan oleh menantunya itu wanita sepuh itu hanya diam saja. Tetapi tidak begitu lama dia berkata kepada menantunya.

“Genduk, suamimu walau di alam lain tapi dia tetap selalu mengawasi anak kalian.. Jadi kamu tidak perlu risau apalagi cemas bahwa akan sendirian merawat anakmu..” Tutur mertuanya Kartika Widuwati.

Diapun hanya diam saja mendengarkan penjelasan dari mertuanya itu. Hatinya sangat lega bahwa dia tidak sendiri merawat anaknya ternyata suami yang dicintainya akan ikut mengawasi putra mereka walau dari alam lain. Lalu Kartika Widuwati, melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan semangat yang tidak seperti sebelumnya, karena dia merasa sendirian saja tanpa suaminya. Tapi kini seluruh harapannya dan segalanya dia akan curahkan untuk membesarkan anaknya sesuai apa yang dikatakan oleh Limpat Palagan melalui mimpi. Bahwa anaknya akan menjadi seorang kesatria yang pilih tanding dan suka membantu yang lemah tanpa pamrih.