Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

reduknya sinar kejayaan

Setiap manusia kebanyakan menyukai kemudahan serta sesuatu hal yang instan walau jalan ditempuhnya salah terpenting berhasil. Jika sudah jauh dari energi yang selama ini selalu membantunya maka kebingungan mau melakukan apa dan dalam hati pastinya tidak ikhlas. Jalan baru harus ditempuhnya dengan langkah yang berat. Demikian juga dengan Patmi, selama ini dia selalu dibantu oleh Nyi Julung Senggoro dalam mendapatkan kekayaannya dan ketenarannya. Oleh sebab itu ketika kekuatan pengaruh iblis lenyap dari diri Patmi, dia merasa tidak bisa apa-apa dan hanya kebingungan. Karena selama ini jika dia mengalami kesulitan sekecil apapun akan dibantu oleh Nyi Julung Senggoro. Sebagai imbal baliknya disetiap pertengahan bulan purnama Patmi, harus melakukan ritual dengan para makhluk ghaib lainnya, yang dipimpin langsung Nyi Julung Senggoro. Tapi sekarang dia sudah tidak lagi melakukan hal itu dikarenakan pengaruh jahat Nyi Julung Senggoro, lepas darinya dan tidak perlu melakukan ritual setiap pertengahan bulan purnama.

Dengan ditemani suara kesunyian disekitar rumah Patmi, timbul keinginannya untuk belajar agama paling tidak dia ingin sholat seperti dahulu ketika bersama mbahnya. Tapi dia bingung mau belajar sama siapa karena di desanya tidak ada yang mengerti tentang agama. Dan dia juga sudah memutuskan untuk berhenti dari dunia kesenian. Sejurus lamanya dia duduk termenung seorang diri hanya nafasnya saja terlihat turun naik secara telatur. Tiba-tiba dia bangkit dari duduknya lalu mengambil hp dan sebentar kemudian seperti sedang menelpon seseorang. Dari percakapannya dia menelpon keponakannya Alvita dan dia mengutarakan kepada keponakannya itu, bahwa ingin mengaji. Lalu Patmi, minta tolong kepada keponakannya itu untuk dicarikan guru yang bersedia mengajarinya. Tampak dari percakapan tersebut keponakannya Alvita bersedia membantu untuk mencarikan guru mengaji untuknya. Hal itu terlihat ketika sedang menelpon dan mengakhiri panggilan Patmi, wajahnya sumringah seperti apa yang dia inginkan akan terwujud. Tidak lama ada nada dering panggilan masuk ketika dilihat ternyata Alvita.

Alvita: "Bulek, ini ada yang bersedia mengajari panjenengan namanya bu Ustazah Hariati.. Tapi tinggalnya jauh bulek bagaimana apa panjenengan mau?"

Patmi: "Yo wis ora popo genduk, bulek gak masalah soal tempatnya jauh apa dekat. Tapi yang terpenting beliaunya maukan mengajari bulek?"

Alvita: "Ia bulek mau. Itu dulu guru ngaji Vita juga tapi sekarang bilau pindah. Kalau mau kapan bulek Vita antar?"

Patmi: "Kalau hari ini bagaimana Vit?"

Alvita: "Kalau hari ini Vita gak bisa bulek, karena Vita ada tugas di kampus, kalau besok saja bagaimana? Vita gak ada kegiatan."

Patmi: "La piye to Vita, tadi kamu tanya bulek bisanya kapan. Terus waktu bulek jawab hari ini bisa, kamunya yang gak bisa."

Alvita: "tenang bulekku sayang. Jangan ngambek yoo.. Besok Vita antar bulek.."

Percakapan bulek dan keponakan itu lalu diakhiri dengan menutup telponnya masing-masing. Patmi, merasa senang hatinya lega bahwa dia sudah mendapatkan tempat untuk belajar mengaji dan beribadah supaya lebih baik lagi. Memang selama ini dia tidak pernah lagi mengingat yang namanya ibadah. Sehingga dia sudah lupa segalanya. Bahkan saat menginap beberapa waktu yang lalu di tempatnya Alvita, pas dia mau sholat Subuh lupa menghadap kemana. Tapi kini dia sudah membulatkan tekat tidak ingin kembali lagi ke jalan yang pernah dia lalui.

Jarum jam terus berjalan maju pindah ke detik berikutnya memang seperti itu kodrat kehidupan. Tidak ada yang ingin berjalan mengarah kebelakang semuanya ingin kedepan lebih baik lagi. Tidak bedanya dengan Patmi, waktu telah berganti hari itu dia bersiap-siap untuk pergi ketempat bu Ustazah Hariati, bersama Alvita mereka berdua janjian ketemu di stasiun. Karena hanya Alvita yang mengetahui tempatnya. Walau udara masih terasa dingin hingga meresap ke tulang sumsum tapi semangatnya Patmi, membuat tubuhnya menjadi hangat keseluruhan. Patmi, seperti orang yang mau ketemu dengan seseorang yang paling dicintai dan lama tidak bertemu. Sehingga wajahnya terlihat gembira sekali. Setelah semuanya dirasa siap dan tidak ada yang ketinggalan dia segera masuk kedalam mobil, lalu menggerakan kendaraan itu berlahan-lahan. Patmi, mengendarai mobil dengan hati yang berbinar-binar. Ketika dia sedang asik menyetir ada panggilan masuk di hp ternyata Alvita.

Alvita: "Halo bulek, panjenengan ada dimana? ini Vita sudah ada di stasiun."

Patmi: "Ia, genduk tenang saja bulek sudah ada di jalan kok, sekitar 15 menit lagi sampai.. La kamu sama siapa kesitu?"

Alvita: "Tadi diantar bapak bulek."

Patmi: "Ia, sudah tunggu sebentar yo.."

Alvita: "Asiap bulek."

Sehabis mendapatkan telpon dari keponakannya itu dia langsung mempercepat laju kendaraannya. Tidak begitu lama sesuai apa yang dikatakan tadi Patmi, sampai di stasiun dimana Alvita menunggu memang 15 menit. Dia melihat keponakannya itu sudah berdiri mengnunggunya tapi seorang diri saja. Patmi, lalu turun dari mobilnya dan menghampiri keponakannya itu.

Patmi: "Lo, katanya kamu sama bapakmu duk?"

Alvita: "Ia, tapi sudah pulang bulek, cuma mengantar saja."

Patmi: "La, terus bagaimana apa mau berangkat sekarang?"

Alvita: "Ia, sudah gak papa bulek, ayo berangkat sekarang saja."

Lalu keduanya masuk kedalam mobil , ketika akan di starter mobilnya tidak mau nyala mesinnya. Dan dia lalu buru-buru mengeceknya untuk memastikan lagi. Ternyata memang benar aki mobilnya bermasalah harus diganti dahulu. Dia dan Alvita mengeluh bersama-sama. Lalu keduanya saling berbagi tugas Patmi, menunggui mobil dan Alvita mencari bengkel mobil. Setelah ketemu menurut keterangan Alvita, bengkel mobilnya jauh sekitar 700 meter. Keduanya saling pandang karena mobilnya tidak mungkin untuk dipaksakan jalan mau tidak mau harus didorong, sedangkan disekitar situ sepi orang. Akhirnya Patmi, mempunyai saran bahwa dia yang akan menyetir dan Alvita yang mendorong. Sontak, ketika Alvita mendengar saran buleknya itu tidak terima karena disuruh mendorong mobil. Tapi setelah patmi, memberikan penjelasan bahwa kalau menunggu ada orang akan sampai sore walau ada orang itupun ibu-ibu mau berangkat kepasar. Awalnya Alvita, menolak saran dari buleknya itu, karena dia khawatir nanti akan mengeluarkan keringat sedangkan dia tidak membawa minyak wangi. Patmi, terus membujuk keponakannya itu agar mau mendorong mobil sampai ketempat bengkel yang dimaksudnya tadi. Dan Patmi, juga mengatakan kepada Alvita, nanti akan dibelikan minyak wangi. Karena Patmi, sangat tahu sifat keponakannya yang satu itu, tidak mau bau keringat walau hanya sebentar.

Akhirnya Alvita, mengalah juga sama buleknya itu dan dia segera ada dibelakang mobil. Dan Patmi, sendiri segera masuk kedalam mobil. Suara Alvita, ketika mendorong mobil sangat seru terdengar sampai kedalam mobil dan Patmi, mendengar suara keponakannya itu tertawa-tawa sendiri.

Alvita: "satu, dua, tiga yooo dorong.. satu, dua, tiga yoooo dorong.. satu, dua, tiga yoooo dorooong..." Hingga beberapa kali. Patmi, sebenarnya mau tertawa tapi tidak enak nanti kedengaran keponakannya itu yang sedang semangat mendorong mobil.

Tapi tidak berapa lama Patmi, tidak mendengar suara Alvita lagi. Karena waktu itu jalanannya menurun jadi Patmi, konsentrasi untuk ngerem mobil. Dia merasakan keanehan mobilnya menjadi berat padahal jalanan menurun. Setelah kembali lagi di jalanan yang datar Patmi, baru mengecek apa yang terjadi. Ternyata dia melihat Alvita, berbaring di tempat bagasi dan sempat-sempatnya untuk tidur. Lalu Patmi, membiarkan keponakannya itu untuk tidur karena sudah tidak begitu jauh sama tempat tujuannya yaitu bengkel mobil. Maka dia pergi ke bengkel itu sendiri. Setelah dicek oleh montir, mobilnya Patmi dapat di starter lagi dan nyala. Dia baru membangunkan Alvita.

Patmi: "Duk, bangun nyenyak benar tidurnya?"

Alvita: "Ia, bulek capek banget.."

Patmi: "Cuma dorong sebentar juga.. Dan kenapa tidur disini gak bilang aja sama bulek kalau capek?"

Alvita: "Vita, fikir jalanannya kan turun jadi Vita gak usah dorong lagi dan kebetulan bagasi ini muat buat Vita, tiduran tapi hehehe.. tidur beneran.."

Patmi: "Ia, sudah kita berangkat.. Mobilnya sudah jadi nih.."

Mereka berdua selanjutnya meneruskan perjalanan dan Alvita, duduk disebelah buleknya. Satu jam lamanya Patmi dan Alvita, berada dalam perjalanan. Ketika itu suasana di rumahnya bu Hariati, karena beliau lebih suka dipanggil seperti itu. Setelah disuruh menunggu beberapa saat lamanya oleh salah seorang santri. Memang bu Hariati, mempunyai pondok pesantren yang baru saja didirikan disamping rumahnya, walau belum begitu banyak para santrinya sekitar 30 orang. Pada saat itu bu Hariati, sedang ada acara diluar menurut keterangan santri yang menerima mereka tadi.

40 menit telah berlalu, ada sebuah mobil memasuki perkarangan rumahnya bu Hariati ternyata beliau yang datang. Patmi dan Alvita, lalu bersalaman dengan bu Hariati tapi beliau minta izin ada keperluan sebentar. Patmi dan Alvita, hanya mengangguk serta tersenyum. Patmi, entah lantaran kenapa dia merasa senang dan terasa sejuk yang dirasakan ketika itu. Tapi dia tidak menceritakan pada Alvita, sehingga perasaan itu hanya dirinya yang mengetahui. Dari arah ruangan dalam bu Hariati keluar menemui bulek dan keponakan itu.

Bu Hariati: "Vita, bapak dan ibumu yo sehat semua kan ya?"

Alvita: "Inggih ibu, bapak dan ibu saya sehat semua.. Ibu juga sehatkan?"

Bu Hariati: "Ia, Alhamdulillah ibu juga sehat."

Bu Hariati: "Mbak Patmi, sehat kan ya?"

Patmi: "Ia, bu, saya juga sehat.. Ibu sendiri bagaimana sehat kan ya?"

Bu Hariati: "Ia, Alhamdulillah, saya sehat.."

Bu Hariati: "Ngomong-ngomong ada apa nih mbak Patmi dan Alvita, datang kesini?"

Patmi, segera menjawab pertanyaan dari bu Hariati dan tanpa sungkan-sungkan dia langsung mengutarakan yang menjadi niatnya. Tapi sebelumnya Alvita, pergi untuk menunggu di beranda depan. Sehingga ketika Patmi, menceritakan tentang perihal dirinya menjalin bersekutu dengan makhluk iblis yang bernama Nyi Julung Senggoro, Alvita tidak mendengarnya. Jadi hanya Patmi dan bu Hariati, yang ada di ruangan tersebut. Bu Hariati, mendengarkan dengan seksama apa yang telah dituturkan oleh Patmi.

Bu Hariati: "Saya sangat senang sekali mbak Patmi, mau kembali ke jalan yang benar. Memang nafsu dunia sering mennggoda kita manusia.. Tapi ingatlah mbak patmi, bahwa setinggi-tingginya kedudukan manusia jika diperolehnya dengan cara yang tidak benar maka akan terjatuh juga.. Itu sebagai tanda Allah mengingatkan dia. Dan terserah Allah mau mengingatkan dengan cara yang bagaimana.."

Patmi: "Ia bu Hariati, saya sangat menyesal dan ingin bertobat kembali ke jalan yang benar.. Tapi apakah Allah akan menerima tobatan saya?"

Bu Hariati: "Mbak Patmi, Allah adalah sangat pemurah dan jika mbak patmi bertobat dengan sungguh-sungguh dengan tulus ikhlas karena Allah dan tidak mengulanginya lagi terus banyak-banyak berbuat baik kepada orang lain. Insya Allah akan membukakan pintu rahmatnya."

Patmi: "Tapi saya belum bisa ibadah yang benar bu Hariati, selama ini saya meninggalkan ibadah sholat.."

Bu Hariati: "Ia, gak papa mbak patmi, nanti pelan-pelan belajar akan bisa juga.. Dengan mbak Patmi, datang kesini dan mau bertobat itu sudah merupakan langkah awal menuju jalan kebaikannya Allah. Yang terpenting hatinya mbak Patmi, diluruskan dahulu niatnya."

Patmi: "Tapi Bu Hariati, mau kan mengajari saya?"

Bu Hariati: "Insya Allah, nanti kita belajar bersama-sama.. Yang penting itu tadi mbak Patmi, memantapkan niatnya lagi dan tidak perlu memikirkan yang lain-lain.."

Setelah Patmi dan bu Hariati, bebicara hanya berdua saja. Akhirnya Patmi, mohon pamit pulang dan dia segera memanggil Alvita, untuk berpamitan juga. Selesai bersalaman, bulek dan keponakan itu lalu masuk kedalam mobil. Ibu Hariati, berdiri mengawasi mobilnya Patmi, hingga tidak dapat dipandanginya lagi.

Patmi, langsung mengarahkan mobilnya ke rumahnya Alvita sekalian dia mau main juga. Fikirannya melayang entah kemana tapi perasaan lega dan semangat hidupnya berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini dia benar-benar merasakan seperti ketika dahulu bersama mbahnya Erowati. Dimana setiap hari setelah dia menunaikan sholat Subuh selalu melakukan aktifitas lainnya dan tidak ada beban.