Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Rundung Duka

Waktu terus berganti dengan seiringnya angin yang berhembus tiada henti setiap pagi, sore dan sepanjang hari. Menyaksikan jalannya kehidupan manusia untuk lebih baik lagi dari yang kemarin, jika sempat melakukan kesalahan. Karena manusia sama seperti cuaca yang selalu berubah-rubah tanpa sebab. Tetapi dia diberikan akal untuk mempertimbangkan apa yang telah dilakukan untuk memilih jalannya dan memperbaikinya. Tidak jauh bedanya dengan Patmi, dia malam itu terbangun di jam setengah 4 pagi seperti biasa sebelum sholat Subuh melakukan ibadah Tahajud terlebih dahulu. Semenjak dia benar-benar bertaubat meninggalkan semua apa yang pernah dilakukannya kini wanita separuh baya itu meningkatkan kualitas ibadahnya. Sholat di sepertiga malam tidak pernah ditinggalkannya, dzikir selalu dia ucapkan setiap saat ketika sedang sendiri dan terutama membaca ayat-ayat suci. Dia selalu menyempatkan dalam sehari walau hanya beberapa ayat saja. Selain itu, dia juga telah mengenakan hijab. Patmi, yang kini jauh berbeda dengan beberapa bulan lalu. Dia juga sudah tidak lagi menari setiap malam berpindah antar panggung ke panggung. Sekarang dia mempunyai kesibukan lain yaitu mengajar tari, gending dan kesenian yang dirinya bisa kepada anak-anak kecil di desanya serta beberapa tempat lainnya. Beberapa kali tawaran untuk manggung ditolaknya dan malah diberikan kepada teman-temannya yang dia kenal.

Ketika Patmi sedang duduk sendiri disepinya malam sempat tumbuh niat didalam hatinya mau pergi Haji. Karena baru saja belum ada satu bulan dia habis pergi dari Umroh bersama keluarganya semua. Lalu dia berkeinginan untuk menunaikan ibadah Haji, hal itu dibicarakan kepada saudaranya dan mereka juga mendukung apa yang telah diniatkan oleh Patmi tersebut. Setelah mendapatkan persetujuan keluarganya semua maka Patmi, tanpa berfikir lagi dia langsung mempersiapkan diri untuk mendaftarkan Haji ONH Plus. Jika dia harus ikut yang reguler maka fikirnya akan lama. Jadi dia memilih yang ONH Plus saja biar cepat. Semangatnya menggebu-gebu dia segera mengambil telpon genggamnya untuk menelpon kepoanakannya Alvita, untuk menemaninya pergi mendaftar besok pagi.

Alvita: "Halo, Assalamualaikum bulek." Suara dari seberang telpon.

Patmi: "Ia, Walaikumsalam, genduk kamu lagi apa?"

"Lagi nyantai aja bulek, onten nopo to bulek?" Jawab Alvita yang menjelaskan dirinya lagi santai.

"Duk, besok siang bisa gak temani bulek soalle bulek mau daftar Haji tapi yang ONH Plus. Biar cepat berangkat.." Tutur Patmi kepada keponakannya itu.

"Lo, bukannya kemarin bulek baru saja pulang dari Umroh? kok sudah mau berangkat Haji to bulek?" Alvita bertanya setengah keheranan mendengar penuturan buleknya baru saja.

"La, memangnya kenapa gak boleh? mumpung bulek masih ada kesempatan duk, bulek gak mau lagi nunggu-nunggu.." Patmi menjelaskan apa yang dirasakan hatinya kepada keponakannya itu.

"Gih boten nopo-nopo bulek, boleh saja tapi kan ONH Plus itu mahal bulek dan berlipat-lipat dari yang biasanya.. Sedangkan kemarin panjenengan sudah memberangkatkan bapak ibu dan pakde bude.." Jawab Alvita menimpali.

"iyo, ora popo genduk.. lagi pula bulek kan gak punya anak terus mau buat apa harta bulek ini." Tegas Patmi.

"Yo wis, terserah panjenengan kalau seperti itu Vita manut saja.. Besok mau berangkat jam berapa bulek?" Tanya Alvita.

"Besok berangkat pagi-pagi saja ya duk, biar gak ngantri.." Jelas Patmi kepada Alvita.

"Ok, kalau begitu bulek Vita tunggu ditempat biasa gih.." Seru gadis itu.

Lalu masing-masing saling menutup telponnya menandakan sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Patmi, malam itu tidur dengan hati yang gembira karena keinginannya untuk menginjakan kakinya di Tanah Suci akan kesampaian lagi. Karena sehabis kepulangannya dari sana dia selalu rindu ingin ada disana terus. Disebabkan dia merasa tenang tentram. Apalagi ketika mengingat masalalunya, dia merasa berdosa sekali dan dalam hatinya berjanji benar-benar tidak akan mengulanginya. Berulang kali dia terus meminta apunan kepada Allah SWT, pintu apunan yang selalu dia harapkan terbuka lebar. Nama Nyi Julung Senggoro, dihapusnya tanpa bekas dan setiap dia mengingat nama itu Patmi, sangat membencinya kenapa sampai mengikutinya.

Malampun terus merangkak berlahan-lahan menuju pagi mendekati mentari yang akan terbit sesaat lagi. Dari jauh suara ayam memecahkan kesunyian pagi itu agar orang-orang segera bangun dan beraktifitas sesuai dengan bidangnya. Patmi, setelah menyelesaikan sholat Subuhnya, dia langsung bergegas siap-siap karena pagi itu sudah janji dengan Alvita. Patmi, minta kepada orang yang bekerja di rumahnya untuk menyiapkan sarapan. Ketika dia lagi asik menyantap sarapannya tiba-tiba telponnya berdering waktu dilihat Alvita memanggil.

"Halo, bulek Vita sudah sampai nih, katanya mau berangkat pagi.. Vita tunggu yaa.." Alvita, memberitahu kalau dirinya sudah sampai di tempat biasanya ketemuan dengan buleknya itu.

"La,ini masih jam piro to genduk.. baru jam setengah 6 aja belum ada." Jawab Patmi memberitahu.

"Wah, bulek gak cek jam ya.. Coba lihat lagi bulek sudah jam berapa itu atau jamnya bulek baterainya habis? hahaha..." Ledek Alvita kepada buleknya.

"Wenak tenan kamu kalau bilang.. coba bulek lihat dulu.. Ohya betul Vit, hampir jam 6.. Yo wis tunggu dulu ya,, bulek gak lama segera OTW." Setelah berkata begitu Patmi, segera menutup telponnya dan dia cepat-cepat melakukan persiapan.

Patmi, masuk kedalam kamarnya dan tidak lama dia keluar lagi berjalan menuju mobilnya. Tanpa menoleh kebelakang ketika salah satu pekerjanya memanggil dirinya tapi wanita sepuh itu hanya mengatakan nanti saja, kalau sudah pulang. Pekerja tersebut hanya diam saja dan kembali dengan lesu. Sedangkan Patmi, sendiri memang terburu-buru karena telah ditunggu Alvita sejak tadi. Tidak terlalu lama dia sampai juga di tempat Alvita menunggu, akhirnya mereka berdua langsung melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di tempat pendaftaran Haji Patmi dan Alvita lalu turun dari dalam mobil. Mereka berdua segera disambut hangat oleh bagian administrasi. Petugas tersebut lalu menjelaskan biaya naik Haji ONH Plus berapa jumlahnya. Setelah semuanya selesai bulek dan keponakan itu keluar dari ruangan dan menuju ke mobil yang di parkir cukup jauh ada dipaling ujung. Sembari berjalan Alvita mencubit bahu buleknya itu dan jelas saja Patmi kaget, karena tidak ada angin maupun hujan tiba-tiba keponakannya mencubit bahunya.

"Bulek, itu tadi benar harganya segitu?" Tanya Alvita kepada buleknya. Sepertinya Patmi belum tahu arah pertanyaan gadis yang berdiri disampingnya itu.

"Masudmu opo to duk?" Tanya Patmi, dengan wajah bingung karena belum tahu maksud pertanyaan.

"Maksud Vita, biaya untuk naik Haji segitu banyaknya apa bulek tetap mau pergi?" Tanya Alvita tapi orang yang ditanya tidak segera memberikan jawaban, malah memandanginya.

"Duk, itu tidak mahal tapi itu semua untuk biaya bulek berangkat naik kendaraan, makan, menginap dan lainnya. Kalau naik Hajinya tidak sigitu duk tapi gratis. Yang mahal biaya yang lain-lainnya. La, memangnya kenapa to kamu kok tanya seperti itu?" Jawab Patmi, sembari memberikan penjelasan kepada keponakannya itu. Alvita, hanya mengangguk saja.

"Bulek, tetap berangkat kok duk bila Allah mengijinkan." Imbuh tutur Patmi.

"Lo, maksud bulek bagaimana? kok kalau Allah mengijinkan.." Tanya Alvita keheranan ketika mendengar jawaban buleknya.

"Ia, karena jika kita sudah siap semuanya tapi kalau Allah tidak mengijinkan kan bisa saja tidak berangkat to duk?" Alvita, bertambah rapat mulutnya tidak dapat berbicara apa-apa lagi mendengarkan ucapan buleknya baru saja. Dia sungguh heran kenapa buleknya sekarang menjadi bertambah bijak seperti itu. Tapi rasa keheranan itu tetap terdiam didalam fikirannya tidak menemukan jawabannya. Akhirnya mereka berdua melanjutkan jalan pulang.

Sepanjang jalan Alvita, lebih banyak diam tidak banyak bicara apa-apa walau beberapa kali buleknya itu mengajaknya membahas sesuatu tapi dia tetap diam. Ketika lagi di tengah perjalanan pulang Patmi, mendapatkan telpon dari orang yang bekerja di rumahnya bahwa hewan ternaknya semuanya meninggal sekitar 100 ekor karena sakit. Patmi, menjadi terkejut ketika mendengarkan bahwa hewan ternaknya sapi 100 ekor meninggal semuanya. Mobilnya segera di laju cepat-cepat dan Alvita juga keheranan kenapa sapi 100 ekor bisa meninggal semua, lalu di waktu yang bersamaan. Ketika Patmi, sudah sampai di rumah dia langsung bergegas kekandang ternaknya dan benar saja sapi-sapinya meninggal semuanya 100 ekor. Para yang kerja di rumahnya hanya diam saja tidak berani melihat majikannya itu. Tapi tampak dari raut wajahnya Patmi, tidak marah dan tenang-tenang saja lalu dia memanggil salah satu pekerjanya yang bernama Bejo.

"Bejo, tadi ini kenapa dan coba kamu jelaskan." Tanya Patmi, kepada Bejo.

"Begini bu Patmi, ini sebenarnya sudah dari Subuh tadi. Waktu panjenengan mau pergi tadi maksud saya mau memberitahu bahwa sapi-sapi itu sudah sakit tapi panjenengan bilang nanti saja kalau sudah pulang. Nah sebelum panjenengan sampai sudah meninggal semua seperti ini bu. maafkan saya dan teman-teman ya bu" Tutur Bejo, menjelaskan kepada Patmi. Namun orang yang diajak bicara, hanya diam saja sambil matanya menyapu seluruh sapi-sapinya sebenarnya mau dijual untuk tambah biaya berangkat naik Haji. Tapi kini harapan itu telah musnah.

Patmi, lalu memerintahkan orang-orang yang bekerja padanya untuk menguburkannya di halaman rumah belakang. Dia lalu melangkah dengan gontai memasuki kedalam rumah dengan diiring Alvita dibelakangnya. Orang yang bekerja di rumahnya Patmi, lalu gotong royong ada yang menggalih tanah dan ada juga yang menggotong sapi-sapi itu dibawa ke halaman belakang. Para pekerja juga bingung kenapa bisa secepat itu sapi mendadak sakit dan langsung meninggal satu per satu 100 ekor.

Suasana didalam rumah sangat sepi Alvita, memilih istirahat tiduran di kursi depan sambil menonton televisi. Patmi, sejak masuk rumah tadi dia kekamarnya tapi belum juga keluar. Waktu terus bergeser menuju sore. Langit sepertinya sebentar lagi akan menyirami bumi dengan airnya yang tidak terhitung berapa jumlahnya. Dan tanpaknya hujan akan lebat serta ditemani angin besar. Karena rintik air dari atas sudah mulai menetes dan angin dari arah utara kencang sekali. Susul-menyusul air hujan dan angin hampir berbarengan sehingga mengeluarkan suara bergumuruh. Sekejap hujan lebat dan angin besar menjadi satu. Dibalik itu seperti ada kekuatan raksasa yang sangat kuat karena pohon-pohon mentelung yang ada disekitar rumah rumahnya Patmi. Ditambah petir yang terus menggelegar tiada henti. Namun, Alvita tetap tidur pulas di kursi depan yang ada didekat televisi. Sampai Patmi, keluar dari kamarnya untuk mematikan televisi itu dan dia selanjutnya membangunkan Alvita, sembari senyum-senyum. Karena didalam hatinya Patmi melihat keponakannya itu tidur pulas benar hingga suara petir tidak membangunkannya. Ketika Alvita, terbangun dari tidurnya yang pulas dia langsung memeluk buleknya itu dikarenakan takut dengan suasana hujan dan disertai angin kencang, lalu petir.

Hujan dan angin kencang sepertinya belum ada tanda akan reda secepatnya karena sudah lima puluh menit lamanya masih saja turun. Patmi, tiba-tiba dikagetkan oleh para pekerjanya yang ada di teras rumahnya mereka seperti habis kehujanan. Karena baju yang dipakainya basah kuyup. Patmi, melihat diantara mereka ada Bejo juga dan dia langsung memanggilnya untuk ditanyai kenapa teman-temannya termasuk dirinya ke teras depan rumahnya. Setelah dipanggil dan ditanyai apa sebabnya, lalu Bejo menjelaskan kepada Patmi, bahwa rumah yang di khususkan untuk para pekerja rubuh dan kandang sapipun juga sama, dikarenakan terkena angin kencang. Mendengar keterangan itu Patmi, jadi tertekun sesaat lamanya. Pas saat itu angin kencang dari luar masuk kedalam karena pintu rumah terbuka, detik berikutnya rumahnya Patmi jebol disebabkan angin kencang. Isi rumah porak-poranda Alvita, segera mendekap buleknya dan Patmi juga mendekap tubuh keponakannya itu dengan erat. Sedangkan Bejo, melihat keadaan semakin panik dan dia keluar lagi untuk mengecek teman-temannya bagaimana. Tidak lama hujan lebat dan angin kencang reda berlahan-lahan hingga benar-benar sama sekali.

Patmi, Alvita, Bejo dan para pekerja lainnya segera memeriksa kondisi sekitar rumah seperti apa kondisinya. Ternyata hanya atapnya yang rusak di rumahnya Patmi. Tapi ketika Bejo dan temannya mengecek lebih detail lagi rumah singgah kerjanya sama kandang sapi benar-benar tinggal tiang penyangganya saja. Waktu Patmi, sibuk mengecek sekeliling rumah ada telpon masuk ketika dilihat Kusumo menelpon dirinya dengan video call. Dalam hatinya kenapa tumben telpon jam segini tanpa berfikir lagi Patmi, mengangkat panggilan video itu.

"Halo, Assalamualaikum ada apa kok tumben jam segini telpon?" Tanya Patmi kepada Kusumo, yang salah satu pekerjanya juga tapi ditugaskan untuk menggarap sawah.

"Ia, halo, Walaikumsalam bu. Maaf kalau saya menggangu waktunya.. Begini bu ada yang mau saya sampaikan soal padi-padi yang ada disawah semuanya tidak bisa dipanen tahun ini.." Kusumo menjelaskan kepada Patmi, bahwa padinya tahun ini tidak bisa dipanen.

"Maksudmu bagaimana to Kusumo? coba jelaskan yang jelas bagaimana maksudnya, saya belum mengerti ini." Jelas Patmi meminta kepada Kusumo, untuk mejelaskan lagi apa yang sedang terjadi.

"Begini bu, tadi kan hujan lebat dan angin kencang. pasti di tempat ibu juga hujan soalnya ini merata bu. Nah terus ada tetangga yang mengecek sawahnya bagaimana kondisinya. Saya juga ikut untuk melihat bagaimana kondisi padi-padi. Ternyata sesampainya saya disana padinya rubuh semuanya bu, tidak bisa dipanen. Jadi tahun ini kita tidak panen bu." Kusumo, menjelaskan kondisi padi sawahnya Patmi, yang sedang digarapnya. Tujuh kali tarikan nafas Patmi, hanya diam saja tidak langsung menjawab apa-apa karena didalam hatinya ini cobaan apalagi. Lalu, wanita mantan pesinden itu berdoa dalam hati.

"Ya Allah, kalau ini memang ujian darimu aku ikhlas menerimanya dan jika memang tahun ini aku tidak dizinkan untuk berangkat kembali ke Tanah Suci akupun ikhlas." Doa Patmi, dari dalam lubuk hatinya.

"Ia, sudah tidak papa mending kamu pulang saja. Mungkin itu belum menjadi rejeki kita." Tutur Patmi, kepada Kusumo karena sembari menelpon dia memberitahu melalui video call.