Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tangisan Pilu

Patmi, berusaha ikhlas menerima setelah mengetahui sapinya mati tidak ada yang tersisa satupun dan ditambah padinya gagal panen. Dimana semua itu akan dijual oleh patmi untuk tambah biaya berangkat Haji. Tapi harapan tersebut lenyap begitu saja seperti terbawa angin sore yang mengiringinya masuk kedalam rumah.

Alvita, yang masih disitu mengetahui buleknya lagi sedih dia diam saja tidak berani mengeluarkan sebuah kata atau bertanya, mau mengantarkan pulang dirinya kapan. Suasana di rumah itu menjadi hening tidak ada yang bersuara walaupun lirih dan seekor nyamukpun terbang didepan hidung Alvita, juga ikut diam. Akhirnya Alvita merebahkan tubuhnya lagi diatas kursi yang dibuat dengan kayu jati dan berukiran indah, berasal dari Jepara. Ketika Alvita, akan memejamkan mata tiba-tiba dia mendengar dari arah dalam kamar buleknya memanggil namanya seperti orang minta tolong. Gadis itu langsung dengan kilat masuk kedalam kamar dimana sumber suara yang didengarnya baru saja. Waktu dia membuka pintu kamar buleknya, terlihat berbaring tak berdaya dan waktu dipegang badannya demam tinggi. Terus Alvita segera mendekapnya.

"Bulek, bulek, bulek kenapa.." Dengan panik Alvita mengguncang-guncang tubuh buleknya itu sampai berulangkali. Tapi Patmi tetap saja tidak memberikan jawaban panggilan keponakannya.

Alvita, lalu mencari orang yang bekerja di rumah buleknya itu untuk membantunya membawa ke klinik terdekat. Setelah ketemu klinik dan ternyata tutup dikarenakan izinnya tidak diperpanjang lagi sudah setahun yang lalu. Dengan terus menangis Alvita dan para pekerja di tempat buleknya itu langsung sigap membawa Patmi meluncur ke rumah sakit yang cukup jauh. Sesampainya di rumah sakit Patmi langsung mendapatkan penanganan oleh tim medis. Setelah dilakukan pemeriksaan beberapa saat maka Patmi boleh dibawa pulang rawat jalan saja. Karena demamnya hanya biasa dan kurang beristirahat. Berjalan dengan dipapah beberapa orang karyawannya, Patmi masuk kedalam mobilnya lagi dan Alvita ada disampingnya. Ketika ada didalam mobil Alvita akan menelpon kedua orang tuanya untuk memberitahu kondisi buleknya itu. Tapi sebelum melaksanakan niatnya Patmi melarang keponakannya itu memberi kabar kepada orang tuanya.

Sesampainya di rumah wanita penari tayup itu, yang sempat menggetarkan setiap orang melihat kebolehannya memainkan selendangnya. Kini harus pasrah oleh masa tuanya yang menggerogoti kesehatannya. Berbaring tidur dengan ditemani rasa sakit yang diteritanya. Pada saat itu Patmi lantas teringat masa lalunya yang kelam hitam pekat bagaikan gelapnya malam tanpa bintang dan rembulan serta setitik cahaya kebenaran. Yang sempat hilang lenyap dari dalam dirinya. Tetesan air matapun mulai mengalir secara berlahan tapi lama-lama semakin deras juga. Tangisannya hingga terdengar oleh Alvita, yang sedang menonton televisi di ruang tamu. Mendengar tangisan buleknya itu dia bergegas masuk kedalam kamar untuk melihat apa sebabnya.

"Bulek, kenapa menangis?" Tanya gadis berambut panjang tinggi semampai itu dan sambil menyeka air mata. Tapi Patmi, tidak langsung menjawabnya dan air matanya semakin bertambah banyak saja. Itu menandakan bahwa rasa berdosanya atas masalalunya tersesat jalan karena mengikuti hawa nafsunya. Kini terpampang jelas didepan matanya bagaimana pertama dia melakukan ritual yang diperintahkan oleh Nyi Julung Senggoro. Alvita, hanya duduk diam saja ditepian ranjang sambil melihat buleknya menangis.

"Bulek, kalau Vita ada salah maafin ya.." Ucap Alvita, karena dia bingung seperempat peminuman teh buleknya belum juga mau berbicara dan terus saja mengeluarkan air mata.

"Gak papa genduk, bulek cuma merasa berdosa saja dengan masalalu yang sudah bulek lewatkan begitu saja." Tutur Patmi yang masih terisak tangis.

"Bulek, maaf bukan Vita mau mengajari atau menasehati... Tapi kalau menurut Vita, setiap orang mempunyai masalalunya masing-masing mau baik maupun kurang baik.. Tapi kan Tuhan Maha pengampun.." Ujar Alvita dengan suara polosnya. Karena dia tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh buleknya itu dimasalalunya. Bahkan orang tuanya Alvita juga tidak tahu dan sama saudara lainnya.

"Kamu benar genduk, bulek baru menyesal saat ini.. Ya sudah kamu tidur lagi sana.. Sepertinya demam bulek sudah mendingan.." Patmi, menyuruh keponakannya itu untuk istirahat karena tadi sehabis mondar-mandir mengantarkan dirinya.

Lalu Alvita, kembali lagi ke ruang tamu karena dia lebih suka tidur didepan televisi. Patmi, juga sudah tidur tenggelam didalam mimpinya. Sunyi sepi dimalam hari kidungan kedamaian terbawa angin membuat seseorang agar cepat tidur untuk mengistirahatkan badannya. Waktu memang terus berjalan sang mentari cahayanya telah mengintip melalui sela-sela mega. Kesibukan pagi telah dimulai seperti biasanya ada yang berangkat ke sawah, ada juga yang mengeluarkan hewan peliharaannya seperti sapi ditaruh di halaman rumah dan sebagian pemuda pergi mencari rumput. Dari beranda depan rumah Patmi dan Alvita terlihat sedang menikmati suasana pagi serta berbincang-bincang sembari ditemani secangkir teh hangat dan rebusan ketela.

"Genduk, bulek mau bicara kamu keponakan bulek yang terdekat dan sudah bulek anggap seperti anak sendiri.. " Jelas Patmi.

"Ada apa to bulek? sepertinya kok penting banget.." Tanya Alvita ingin tahu. Karena wajah buleknya itu tampak bersungguh-sungguh.

"Begini genduk, bulek mau menjual seluruh sawah semuanya terus habis itu uangnya mau bulek berikan ke pondok pesantren, anak yatim yang memang berhak menerimanya.. Kalau menurutmu bagaimana?" Patmi, menerangkan kepada keponakannya itu.

"La terus nanti bulek makan apa? katanya mau berhenti dari pekerjaan bulek?" Alvita, bertanya balik dan tidak kalah seriusnya raut wajah yang ditunjukannya.

"Ia, pastinya tidak semuanya cah ayu. Jadi nanti sebagian bulek sisikan untuk kebutuhan sehari-hari." Patmi, memberikan penjelasan dengan tersenyum.

"Tapi kenapa bulek gak bilang saja sama Bapak atau Ibu dan saudara yang lain?" Kata Alvita, menyuruh buleknya itu untuk berembuk sama keluarga lain yang lebih sepuh dari dirinya.

"Tidak papa genduk.. Terus bagaimana menurutmu?" Patmi mengulangi pertanyaannya lagi seperti diawal.

"Kalau menurut Vita itu terserah bulek saja bagaimana baiknya. Tapi kalau menurut Vita bulek harus menyisakan untuk keperluan bulek sendiri. Itu kalau menurut Vita sih." Jelas Alvita.

"Berarti kalau begitu nanti bulek menelpon bu Hariati minta tolong kepada beliau untuk menyalurkan ke anak yatim. Bagaimana kalau menurutmu Vit?" Tanya Patmi meminta pertimbangan pada keponakannya.

"Kalau menurut Vita seperti itu juga bagus bulek, karena beliau pasti tahu dan mau menolong. Tapi kalau Vita gak salah beliau kan juga punya pondok pesantren to bulek?" Tutur Alvita.

"Ia, maksud bulek juga seperti itu, nanti uangnya untuk di pondoknya bu Hariati dan sebagian yang bulek katakan tadi." Jelas Patmi.

"Nanti kamu temani bulek lagi ya ke rumah beliau." Imbuh Patmi.

"Tapi maaf bulek sebelumnya kalau Vita boleh tanya. Kenapa sawah bulek itu tidak buat berangkat Haji saja?" Tanya Alvita.

"Begini genduk, kalau sawah itu semuanya dijual mungkin cukup tapi nanti yang kamu bilang tadi untuk biaya kebutuhan bulek setiap harinya apa.. Tidak ada. Karena bulek sudah tidak bekerja. Dan kamu tahu sendiri badan bulek sudah lemah tidak bisa diajak kerja keras lagi." Tutur Patmi.

"jadi bulek ingin menjual sawah untuk membantu memang orang yang perlu bantuan. Jadi sebelum bulekmu ini meninggal dunia nanti paling tidak sudah dapat melakukan hal bermanfaat untuk orang lain." Imbuh Patmi memberikan penjelasan kepada keponakannya itu yang duduk terpaku, mendengarkan dirinya berbicara.

Percakapan mereka berdua terhenti sebelum Alvita memberikan jawabannya lagi. Sebuah sepedah motor memasuki perkarangan rumahnya Patmi. Seorang pria sepuh kira-kira usianya diatas dirinya. Diapun segera meminta ke Alvita untuk membikinkan minum untuk tamu yang baru saja datang yaitu pakde Sumarbagiyo. Orang yang disuruh membuatkan minum langsung menuju ke dapur dan Patmi sendiri juga segera menyambut saudara ibunya itu.

"Wilujeng rawuh pakde.. Kok sendirian saja panjenengan pakde? la mas Ibnu atau yang lainnya kemana?" Tanya Patmi kepada pakdenya itu.

"Mereka kan juga harus bekerja to genduk masa ia harus nganterin pakde. Lagipula aku kan masih kuat bawa motor sendiri dan dekat ini.. Bagaimana kabarmu la yo podo sehat to?" Tutur pakde Sumarbagiyo.

"Alhamdulillah pangestunepun pakde, saya sehatsehat saja." Jawab Patmi. Lalu mereka berdua masuk kedalam rumah. Tidak terlalu lama Alvita keluar dari arah dapur dengan membawa nampan dan diatasnya sudah ada dua gelas yang berisikan wedang jahe hangat. Sehabis itu dia langsung kembali lagi kebelakang awalnya diajak ngobrol bersama-sama tapi menolaknya.

"Ada apa nih pakde kok tumben rawuh kesini, saya jadi tidak enak padahal saya kan yang muda. Harusnya saya yang rawuh ketempatnya pakde." Patmi, mengawali pembicaraan.

Pakde Sumarbagiyo: "Pakde hanya mau main saja. Sama ini mungkin kamu tahu ada orang yang mau menjual sawah."

"Maksudnya bagaimana pakde? kulo masih belum mengerti." Tanya Patmi.

"Jadi begini duk Patmi, pakde ini lagi mencari sawah yang mau dijual dan terus pakde mau beli." Jelas pakde Sumarbagiyo.

"La buat opo to pakde? panjenengan kan sudah sepuh tinggal di rumah saja, buat apa beli sawah lagi harus merawatnya dan seterusnya." Tegas Patmi.

La memangnya tidak boleh apa? sawah pakde kan semuanya sudah diberikan ke anak-anak jadi sekarang pakde gak ada kerjaan di rumah. Ia, dari pada pagi-pagi harus tidur kan lebih baik kerja selama masih bisa yo to?" Pakde Sumarbagiyo menjelaskan pada anak kakaknya itu.

Patmi: "Kebetulan pakde.."

Pakde Sumarbagiyo: "Maksudmu kebetulan itu apa?"

Patmi: "kulo mau menjual sawah pakde."

"Sawahmu yang mana?" Tanya pakde Sumarbagiyo sembari menyeruput wedang jahe hangat buatan Alvita.

"Semuanya pakde, apa panjenengan kerso membeli semuanya?" Jelas Patmi.

"La semuanya!!" Pakde Sumarbagiyo kaget mendengarkan kata Patmi barusan saja. Karena dia mau menjual sawahnya semuanya.

"La, kamu gak salah opo Patmi? la mengko kamu mau makan apa?" Tanya pakde Sumarbagiyo keheranan karena sawah keponakannya itu mau dijual semuanya.

"Kulo sampun lelah pakde. Kulo kepengin istirahat mangke hasil penjualan sawah kan bisa di tabung untuk kebutuhan sehari-hari menopo buat dagang gih saget." Patmi berusaha menjelaskan kepada pakdenya itu. Tapi pakde Sumarbagiyo hanya mengganggukan kepala saja.

"Opo kamu sudah gak nyinden nari lagi?" Tanya pakde Sumarbagiyo, mengarahkan pembicaraan.

"Boten pakde, kulo sampun berhenti." Jawab Patmi.

"Ya sudah nanti uangnya pakde transfer saja, nanti pakde mau minta tolong untuk transfer uangnya ke kamu. Ya sudah kalau begitu kebeneran.. Ya sudah pakde mau pulang, ditunggu yo kabare..." Tegas pakde Sumarbagiyo.

"Gih pakde hati-hati.." Seru Patmi.

Lalu pakde Sumarbagiyo segera menjauh dari rumahnya Patmi menuju pulang. Alvita, setelah mengetahui mbah Sumarbagiyo pulang dia langsung menghampiri buleknya itu yang masih berdiri ditengah halaman. Patmi, ketika menyadari bahwa disampingnya ada orang lalu dia menoleh ternyata Alvita dan dia terus bilang kepada keponakannya itu. Bahwa sawahnya akan dibeli oleh pakde Sumarbagiyo semuanya.

"Tapi bulek bukannya mbah Sumarbagiyo sudah sepuh dan kalau gak salah kata bapak sawahnya mbah Sumarbagiyo, dibagikan ke anaknya semua. Kenapa sekarang mau beli sawah lagi?" Tanya Alvita pada buleknya itu dengan setengah keheranan.

"Ia, gak tahu genduk namanya saja orang.. Sudahlah, yang penting sawah bulek laku dan tidak perlu susah-susah cari pembeli atau menawarkan kemanapun.." Jawab Patmi dengan mata berbinar-binar karena dia sangat senang sawahnya akan laku. Selanjutnya mereka berdua masuk kedalam rumah Alvita, mengikuti dari belakang. Sedangkan Patmi, hatinya sangat senang doanya menjual sawah tercapai juga. Dan nanti niatnya sebagian uangnya diperuntukan untuk sosial yang telah dikatakan kepada Alvita. Dia benar-benar ingin meninggalkan dunianya yang membuatnya salah langkah.