Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketulusan Mengikuti Perlombaan

Dinda adalah seorang gadis kecil usianya 7 tahun dia sekolah SD kelas dua, waktu itu sekolahannya sedang mengikuti lomba lari antar desa dan dia terpilih sebagai perwakilan. Lomba tiga hari lagi akan dimulai, Dinda giat berlatih hampir setiap pagi dan sore. Hal itu dialakukan agar nanti dapat memenangkan perlombaan, ketika Dinda lagi berlari-lari dipinggir taman dia melihat seorang anak usianya seperti dirinya duduk termenung diatas kursi taman. Dinda terus pelan-pelan menghampirinya lalu menyapanya:

"Halo! kamu lagi apa kok sendirian?" Tanya Dinda

Tapi anak itu hanya diam saja tidak memberikan jawaban apa-apa. Lalu, Dinda melangkah lebih dekat lagi terus dia memegang pundak anak itu. Barulah pertanyaan Dinda tadi dijawab: "Namaku, Ririn."

"Terus kamu disini lagi apa? bukankah kamu yang di kelas satu?" Tanya Dinda lagi, sambil memperhatikan Ririn yang masih termenung.

"Ia, aku Ririn yang dikelas satu. Aku lagi sedih kalau aku besok gak bisa sekolah." Jawab Ririn.

"Kenapa kamu gak bisa sekolah besok?" Tanya Dinda.

"Tas aku rusak, sedangkan ayah belum bisa membelikannya." Tutur Ririn, sambil mengarahkan pandangannya jauh tak bertepi.

Dinda, mendengar penjelasan itu dia hanya diam tak berbicara apa-apa didalam lubuk hatinya ingin sekali membantu tapi bagaimana caranya. Akhirnya, dia dan Ririn pulang karena waktu juga sudah sore. Terus keesokan harinya Dinda datang kesekolah walau dia diberikan libur selama mengikuti perlombaan, karena agar bisa konsentrasi dalam latihan. Di sekolahan Dinda memberanikan diri bertanya kepada pak Jaseman guru olahraga soal adiah yang nanti memenangkan perlombaan. Lalu, pak Jaseman menjelaskan bahwa nanti juara satu akan mendapatkan tas, juara kedua mendapatkan buku dan yang terakhir yaitu ketiga adiahnya topi.

Dinda, setelah mengetahui bahwa juara satu akan mendapatkan adiah tas, dia terus berlatih tiada henti-hentinya bahkan ayah dan ibunya heran. Karena Dinda, latihannya melebihi dari jam seperti biasanya. Dinda, selalu berdoa ketika akan latihan bahwa nanti dirinya harus bisa menjadi juara satu. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba juga lomba lari. Sebelum berangkat Dinda, memohon doa kepada ayah dan ibunya agar nanti dapat juara satu. Dengan diantar kedua orang tuanya Dinda semangat memasuki lapangan pertandingan. Setelah 10 menit Dinda berusaha lari mengelilingi lapangan ternyata dia nyampai di garis finish lebih dahulu. Dan waktu diumumkan siapa saja yang memenangkan perlombaan dan mendapatkan juara satu, namanya disebut pemenang lomba. Hatinya sangat senang sekali, waktu adiah dia pegang terus Dinda berpamitan kepada ayah dan ibunya mau keluar dari ruangan.

Dinda, keluar dari ruangan terus dia menemui Ririn ditempat yang kemarin. Bungkusan kado yang dibawa Dinda tadi lalu disodorkan kepada Ririn. "Ini apa?" Tanya Ririn kepada Dinda.

"Buka saja," lalu Ririn membukanya.

"Itu untukmu Ririn." Ucap Dinda.

Dua teman tersebut yang beda kelas tapi masih satu sekolahan akhirnya berpelukan dan Dinda sangat senang sekali dapat membantu adik kelasnya itu. Karena saling berbagi yang ikhlas tanpa pamerih maka akan diberikan kemudahan oleh Tuhan Sang Pencipta Kehidupan. Kepolosan Dinda, mencerminkan ketulusan hatinya dalam membantu Ririn.